17. telepon benang

1.1K 216 34
                                        

"rin, beneran dah lo belajar dari mana bikin begini? gue juga mau!" ucap jaemin

"hehehe, ga belajar dari mana-mana sebetulnya. cuman dirumah emang kadang bikin begini"

oh pantas saja, mark banyak melihat potongan potongan karton disekitar rumah herin.

dan berlanjut tentang mereka yang mulai bercanda dan herin yang tertawa karna candaan mereka.

tapi tiba tiba terlintas sesuatu diotak mark.




.°.°.°.°.°.°









"bro! kita pulang dulu!" teriak haechan saat sudah menaiki motornya yang terparkir didepan rumah mark

"yok!" sahut mark

herin yang ada berdiri dibelakang mark pun ikut melambai melihat teman mark yang sekarang sudah menjadi temannya itu.

"herin! kalau ada apa apa calling-calling kita ya! kita jadi teman kamu juga mulai hari ini!"

"nih kontak gue"

"ini punya gue"

"nih"

dan mereka pun menyerahkan kontak mereka satu persatu tadi. herin tersenyum.

"eh, senyum-senyum aja, kenapa?" kata mark sambil mencolek pipi herin yang tadi sedang berlubang akibat senyumannya

herin menggeleng kemudian dan tersenyum

"gapapa kak mark, makasih ya, buat semuanya. kalau gaada kakak, herin gatau bakal lagi ngapain dirumah sekarang. mati bosen kali?" kata gadis itu sambil terkekeh

"heh mulutnya" kata mark juga sambil tertawa

"yaudah kak, herin mau balik juga"

"sekarang?"

herin mengangguk, "iya, mau mandi"

"okey"

"ibu mana?"

"tadi lagi ke supermarket"

"yaudah bilangin ibu ya kak herin pulang. dah kak!"

mark tersenyum

setelah itu mark tersadar dan teringat dengan rencananya saat mereka kerkel tadi.







.°.°.°.°.°.°






mark kini baru selesai dengan kerajinan tangannya sendiri.
apa yang mark buat?

telepon kaleng.

dan ya, tentu saja buat herin, siapa lagi?

mark melemparkan keluar salah satu telepon kalengnya lewat jendela yang berada di kamarnya —lebih tepatnya di samping tempat tidurnya— yang menghubungkan langsung dengan pemandangan jalanan dan jendela kamar herin.

setelah melemparkan telepon kaleng itu keluar, mark pun bergegas keluar rumahnya

dan dari luar rumah, ia mengambil sendiri telepon kaleng yang ia lemparkan dari jendela kamarnya tadi dan berjalan menyebrang menuju rumah herin

mark membuat telepon kaleng itu dengan sangat bersusah payah karna beberapa kali benangnya itu saling menyangkut satu sama lain

bagaimana tidak? panjang benang yang menghubungkan satu sama lainnya saja mencapai 100 meter atau bahkan lebih. mark pun tak tahu— yang penting ia yakin jika telepon itu panjangnya sampai kerumah herin, karna ia mengukur sendiri panjang jarak antara rumah herin dan rumahnya.


niat? sangat.

mark lantas mengetuk pintu rumah herin

"oh mark? masuk-masuk!" ibu herin yang membuka pintunya

"eh, nggak tante, saya cuma mau ketemu herin sebentar kok" kata mark dengan senyum khasnya

"oh yaudah, tunggu ya" dan nana pun masuk untuk memanggilkan herin

mendengar itu, herin pun ngebut berlari menuruni tangga untuk menuju mark

"jangan lari lari ditangga herin, nanti jatuh" kata mark sambil terkekeh melihat tingkah herin. sementara yang diberitahu hanya cengengesan

"kenapa kak?" tanya herin

"kamu sekarang keatas. kita main telepon-teleponan, pakai ini" mark pun menunjukkan sesuatu dibalik punggungnya

herin tampak terkejut, "tapi gimana cara herin bawa ini naik keatas masa lewat ruang tamu?"

mark tampak berpikir, "kamu ada mainan gak? atau apa aja terserah, pokoknya kamu sangkutin itu pakai tali atau benang, terus aku taroin ini diatasnya, tinggal kamu bawa keatas deh, sip?"

herin mengangguk
"aye sir!"

herin pun berlari keatas

sedikit lama. dan akhirnya mark melihat mainan herin yang berbentuk panci mainan pun turun dari kamar herin

tanpa basa basi mark pun segera meletakkan telepon itu disana dan dengan cepat berlari kerumahnya lalu segera menuju kamarnya

mark mengambil telepon miliknya yang tadi memang sempat ia selipkan diantara bantal-bantal karna takut akan jatuh karna telepon yang satunya tertarik-tarik.

diseberangnya, tepatnya dijendela kamar herin, herin bersuara ditelepon itu

"halo~ kak mark~ kedengeran gak? tes~"

mark yang sedang menempelkan teleponnya ditelinganya itu pun sempat terkekeh untuk beberapa saat

setelah menyapa duluan, herin sekareng menempelkan juga telepon miliknya ke telinganya. menunggu jawaban mark

"hai herinku~"

herin juga terkekeh dijendela kamarnya

mereka berbicara ditelepon itu sambil saling menatap satu sama lain di jendela mereka yang sama-sama terbuka. sangat untung sekali karna jendela mereka tepat bersebrangan.

"gak tidur?" tanya mark ditelepon benang itu

"belum ngantuk" jawab herin

"tadi kan udah bantuin banyak banget, pasti capek. maaf ya, jadi kamu yang kerepotan"

"gak apa apa tau kak! aku malah seneng! jadi merasa berguna!" mark melepaskan telepon itu dari telinganya dan melihat herin tersenyum dijendela seberangnya itu

"herin" panggil mark ditelpon itu sambil tersenyum

herin yang tadi sedang menempelkan telepon kaleng itu ditelinganya itu pun segera menjawab


"iya"

























"i love you"

tbc

about herin ;mark herinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang