7. Bersembunyi

2.7K 286 27
                                    

Haruskah aku terus bersembunyi atau haruskah aku pergi?

Aku disini, tetap menunggumu, meskipun aku tidak mengatakannya, meskipun aku tidak menunjukkannya, yang aku inginkan hanya keseriusan mu, hingga akhirnya segalanya membuatku terjatuh lagi, membuatku sadar dimana posisi ku yang sebenarnya.

***********

Di sebuah tempat yang cukup ramai dengan orang-orang yang tengah sibuk dengan perkejaannya masing-masing, ada seorang pria tampan yang mendudukan dirinya di sebuah kursi sambil menatap ponselnya dengan kesal, pasalnya daritadi dia sudah mencoba  untuk menghubungi kekasihnya, namun pria manis yang kini berada entah dimana itu tidak mau mengangkat telepon darinya, tentu saja hal itu membuat Singto kesal.

Daritadi dia sibuk dengan ponselnya, seolah-olah itu adalah nyawanya, tetapi orang yang di khawatirkan olehnya justru menghilang entah kemana, dari kemarin dia mencoba untuk menghubungi Krist, namun jangankan mengangkatnya bahkan membaca pesannya juga tidak.

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya, Singto menengokan kepalanya ke arah belakang melihat manegernya yang kini berada di belakangnya dengan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Singto, daritadi pria itu tidak berkonsentrasi sama sekali, dan sibuk menelepon seseorang yang dia tahu pasti siapa, sungguh kebalikannya.

Padahal setiap hari yang biasanya menelepon telebih dulu adalah Krist, menanyakan kabar dan keadaan Singto. Namun Singto sama sekali tidak memperdulikannya, dan kadang mengabaikan begitu saja, meskipun itu bukan sepenuhnya salah Singto, mungkin dia terlalu lelah untuk mengabari Krist, karena setiap hari dia harus syuting series, dan baru selesai larut malam.

"Kenapa lagi? Dia marah karena hal itu?"

Setiap kali mereka bertengkar wajah Singto selalu murung, dan tidak bersemangat. Entah apa yang tengah di pikiran oleh pria itu.

"Tidak, aku belum berbicara padanya."

Jane, menatap Singto dengan tidak habis pikir. Jika belum membicarakan hal itu, kenapa tiba-tiba mereka bertengkar, tidak biasanya, karena Krist biasanya akan senang jika Singto mau menemaninya. Dia tahu bagaimana sifat krist, dan begitu cerewetnya anak itu jika sudah menanyakan tentang Singto padanya, sampai terkadang dia lelah ada di tengah-tengah dua anak muda itu.

"Jika bukan karena itu, karena apa?" Jane berbisik ke arah Singto, "Aku kira kau sudah mengatakannya."

"Tidak, aku tidak akan mengatakannya."

"Kau itu, dia harus tahu. Jika tidak dia akan marah nanti."

"Apa P' pikir, jika aku memberitahunya, dia tidak akan marah? Hasilnya sama saja, jadi lebih baik dia tahu dengan sendirinya saja."

"Kau pikir dia tidak akan sakit, jika kau melakukan hal itu? Katakan baik-baik, aku yakin dia akan mengerti. Dia itu anak baik, jika kau tidak mengatakannya, aku takut dia akan marah, bagaimana jika dia meninggalkanmu?"

Singto menggelengkan kepalanya. "Dia tidak akan pernah meninggalkan aku."

"Percaya diri sekali kau. Aku hanya takut kau menyesal."

"Tidak akan. Bukankah kau bilang untuk mencapai sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu? Aku akan melakukannya."

"Setidaknya beritahu dia dulu."

Singto hanya mengangkat bahunya acuh, tidak menanggapi ucapan dari manegernya itu, pria itu menekan nomor Krist lagi dan mencoba menghubungi pria manis lagi.

__________

Di tempat lain, ada seorang pria yang menatap tidak suka pada seseorang yang kini tengah menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal, sambil menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, bersama dengan sebuah ponsel di dalam dekapannya.

[14]. Stay With Me { Painful Love } [ Krist x Singto ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang