Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Cahaya matahari yang menerobos jendela membuat Dona mengerjap pelan. Kepalanya terasa berat, tubuhnya sedikit kaku. Ia melirik sekeliling, tidak mengenali ruangan ini. Sofa empuk tempatnya terbaring, dinding berwarna pastel, serta aroma lembut lavender di udara memberi tahu bahwa ini bukan kosannya yang sempit. Dimana dia? Dona melihat tubuhnya yang masih dibungkus gaun Bella Mooi. Dona mendadak jadi panik dan berusaha mengin
"Akhirnya bangun juga," terdengar suara datar yang sangat ia kenal. Bella duduk di kursi seberang, mengenakan setelan kasual namun tetap terlihat anggun. Secangkir kopi di tangannya mengepul.
Dona bangkit perlahan, merasa sedikit malu. Ia menulis di papan tulis kecil yang selalu ada di dekatnya, "Ini di mana?"
"Di apartemenku," jawab Bella singkat. "Kemarin kamu pingsan sepulang sesi foto. Untung aku ada, kalau nggak, entah apa yang akan terjadi padamu."
Dona memegang kepalanya, mencoba mengingat. Ia ingat rasa lelah yang menghantam setelah sesi foto, dan bagaimana tubuhnya terasa seperti melayang sebelum semuanya gelap. Ia menuliskan, "Maaf sudah merepotkan."
Bella mendengus pelan, matanya menyipit tajam. "Merepotkan? Kamu itu bukan hanya merepotkan, Dona. Kamu berat! Aku hampir mati memapahmu ke sofa ini. Harusnya aku merekamnya biar kamu lihat betapa susahnya!"
Dona hanya menunduk, merasa bersalah.
Bella melanjutkan, kali ini nadanya lebih serius. "Kamu itu calon dokter, Dona. Tapi lihat dirimu! Tidak menjaga kesehatan, tidak tahu batas. Kalau kamu saja nggak bisa mengurus diri sendiri, bagaimana kamu mau merawat pasien nanti?"
Dona menggigit bibirnya, merasa teguran itu benar. Ia menulis dengan pelan, "Aku hanya ingin lulus UKMPPD, Dok. Aku takut gagal."
Bella menghela napas panjang, lalu berdiri. Ia berjalan ke rak buku besar di sudut ruangan dan kembali dengan setumpuk buku tebal. Ia meletakkannya di meja di depan Dona. "Ini, pakai ini untuk belajar. Buku-buku ini cukup membantuku dulu."
Dona menatap tumpukan buku itu dengan mata berbinar. "Serius? Aku boleh meminjam ini semua?" tulisnya, ekspresi penuh syukur tergambar jelas di wajahnya.
Bella mengangguk, meskipun bibirnya melengkung tipis. "Ya, tapi jangan bikin rusak. Kalau ada yang hilang, aku akan menagih harganya."
Dona menuliskan, "Terima kasih, Dok. Aku nggak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."
Bella tersenyum kecil, untuk pertama kalinya tanpa nada sarkasme. "Jangan terlalu senang dulu. Aku akan menagih sesuatu dari kamu suatu hari nanti. Jadi, siap-siap saja."
Dona mengernyit, tapi memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia malah menulis dengan antusias, "Aku janji akan menjaga buku-bukumu dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Terima kasih lagi!"
Bella berdiri dan mengangkat cangkirnya. "Kamu bisa mulai dengan istirahat yang cukup dan menjaga kesehatan. Itu cara terbaik untuk membalas kebaikanku sekarang. Kamu bisa berhenti mengunakan papan itu karena kita hanya berdua di sini. Kamu nggak perlu takut ketahuan orang lain."
Dona mengangguk, meskipun dalam hati ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang Bella pikirkan. Namun, di balik semua itu, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Bella. Seolah di balik sikap angkuhnya, Bella diam-diam peduli padanya.
Dona memandang tumpukan buku itu sekali lagi, penuh semangat baru. Kini ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan ini. Bella, dengan caranya sendiri, telah menunjukkan dukungan yang tak terduga.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.