"Ya, terus hubungannya sama gue apa?" Tanya gue sebal dan seketika gue baru sadar. "Aishhh... Jeno kambing, onta, koala kumal. Ngapain sih tuh bocah godain emak-emak segala. Malu-maluin ih." Gue menggerutu dan buru-buru nyamperin bocah ingusan satu itu.
Masa bodo sama Lucas dan Mark yang malah ngakak karena ngelihat tingkah gue barusan.
Melempar bola —punya Lucas dan gue bersyukur akhirnya bocah ikan itu mengaduh karena gue tepat sasaran.
"Mampus lo," gue tertawa melihat Jeno yang kesakitan.
"Tega banget sih, kak." Jeno mencebik dan gue nggak peduli.
"Bodo, emang enak. Ayo, pulang! Nggak usah ganjen sama tante-tante, deh. Kayak om Donghae nggak kasih lo duit sampai nekat godain emak-emak." Tangan gue menyeret Jeno paksa.
"Gue nggak sehina itu, yak!!"
"Ya, terus kalau git—"
"Adekkk, ngapain sih kalian berdua ribut-ribut? Malu tau sama orang pada liatin." Bang Kai datang dan langsung ngomel.
"Ini si Jeno, cari masalah mulu." Gue melepaskan tangan Jeno dan mendorongnya sampai terhuyung.
"Ngapain emang?"
Gue mengedik, "nggak tau, tanya aja sama orangnya."
Bukannya menjawab, Jeno malah berlalu. Tai kucing dasar. Nyebelin kuadrat.
"Eh, ikan teri mau kemana lo?"
Melihatnya tak memedulikan pertanyaan gue maupun bang Kai, gue pun menggerang karena frustasi.
"Kenapa sih tuh anak?"
Ketika hendak mengikuti, bang Kai menahan lengan gue. "Nggak usah dikejar, biarin aja nanti juga jelasin sendiri."
Pada akhirnya, gue pun mengangguk dan menurut.
"Udah daftar buat lomba?"
Gue menggeleng dan bang Kai menghela nafas, "kenapa? Bukannya kata ibu kamu mau ikutan nari sama main alat musik?"
"Nah, itu dia masalahnya. Masa iya aku nyamperin mantan. Nggak like, ah."
"Ya, nggak apalah. Emangnya kenapa? Mantan juga manusia."
Sebelum abang satu-satunya yang gue punya memberi ceramah dadakan, lebih baik gue iyain aja.
"Iya, iya, nanti aku daftar sama mereka. Puas?"
Bang Kai menggeleng, membuat gue menaikkan sebelah alis. "Nggak. Sekarang daftarnya..."
Menggeleng, seriusan gue males banget ketemu langsung sama mereka.
"Udah ayok! Abang anterin."
"Nggak usah repot-repot, aku bisa sendiri kok." Tolak gue halus sehalus tikungan temen.
"Now. Abang yang anterin kamu." Kemudian gue pun pasrah, membiarkan bang Kai membawa gue kembali melihat masa lalu. Alah lebay banget sih hidup gue.
®
Entah kebetulan yang bagaimana, Sehun sama Chanyeol lagi duduk-duduk santai di atas tikar.
Ketika menyadari keberadaan gue dan bang Kai, mereka berdua menoleh. Sehun dengan tampang polosnya dan Chanyeol dengan muka lucunya.
"Eh, ada neng Rae... sini duduk deket A'a." Please jangan berfikir kalau yang ngomong barusan itu duo bangsat. Karena faktanya, kak Baekhyun yang ngomong.
"Jijik tau, kak."
Kak Baekhyun hanya tersenyum jenaka.
"Yeol, Hun..." Mereka berdua kembali menoleh dan menatap bang Kai yang memasang muka sok seriusnya.
"Apaan sih?"
"Ya?"
Jangan tanya siapa yang terakhir nyaut, karena gue yakin kalian udah tau siapa orangnya. Sehun dan keiritannya. Cukup tau aja.
"Nih, adek gue mau daftar katanya..." ambigu deh bang ngomongnya.
Sebelah alis Chanyeol terangkat, "daftar apaan?"
"Daftar buat balikan sama lo pada," celetuk kak Baekhyun yang ternyata belum beranjak, cowok yang punya darah sunda itu malah memakan kuaci.
"Dih, nggak! Sotoy banget sih lo kak. Gue kesini mau—" tiba-tiba gue kebelet pipis. "Toilet! Ya ampun, gue kebelet...." Kemudian gue ngibrit dan membiarkan empat cowok itu memandang aneh.
®®®®®
Halu, yeorobeun...
Selamat idul adha bagi yang merayakan.
Part ini padahal udah ada di draft, tapi baru di update sekarang *nggakadayangnanya*
Maklum holang sibuk, nyibukin diri -_-
□btw nih lur, seharusnya judul diganti jadi spesial idul adha yak, tapi nggak apalah ssg
KAMU SEDANG MEMBACA
KOLEKSI MANTAN
FanfictionGue cuma cewek biasa yang gak luput dari para mantan goblok. Dan gue juga gak luput dari kejaran abang gue. Karena gue sering minjem laptop dia. *Revisi kalau gue nggak mendadak amnesia
