Fight

2.9K 216 39
                                    

Ketika kita jatuh ke dalam magnet semacam cinta, jangan selalu mengharapkan hal-hal manis saja yang akan terus terjadi. Persiapkan segala kemungkinan buruk termasuk patah hati atau terluka. Itu petuah bijak yang selalu terdengar dimanapun kaki berpijak.

Pete terdiam menatap nanar ponsel milik seseorang yang dipegangnya. Dari raut wajahnya yang berusaha kuat menahan tangis, jelas ada sesuatu yang menggores perasaanya. Ia terpaku dan tak bergerak barang seinci pun. Tangannya terlihat gemetar hanya untuk menekan tombol buka pada aplikasi yang mengeluarkan dering tanda masuknya pesan baru. Sejenak ia merenungkan semua yang terjadi. Ia yakin bahwa Aey sudah paham mengenai seluk beluk dirinya yang sangat membenci kebohongan semacam ini. Tapi mengapa hal ini bisa terus terjadi dalam kurun waktu yang singkat.

Pete meletakkan ponsel Aey kembali pada posisi awal. Saat ini keduanya tengah berada di dalam sebuah coffe shop kecil dengan nuansa klasik yang terasa. Alunan musik yang menenangkan tidak mampu membuat rasa kecewa di dalam diri Pete mereda. Aey muncul beberapa saat kemudian sambil membawa pesanan mereka beberapa saat lalu.

"Ini minumanmu, Pete."

Pete hanya membisu seraya menggeser gelas berisikan minuman yang terlihat menyegarkan di kala matahari sedang terik seperti ini. Daripada memesan kopi atau sejenisnya, Pete lebih memilih minuman dengan berbagai potongan buah diatasnya. Aey menaikkan alis bingung melihat perubahan suasana hati lelaki yang saat ini sedang menjalin hubungan dengannya.

"Pete, kenapa kau menekuk wajah seperti itu hmm?" Tanya Aey sambil meraih punggung tangan Pete yang tergeletak diatas meja.

"Aey, sepertinya aku kurang enak badan. Boleh aku pulang setelah ini?" Jawab Pete sambil melepaskan genggaman tangan Aey.

"Kau sakit?" Aey secara reflek menggeser duduknya dan menatap dalam wajah Pete yang sedikit memerah akibat paparan sinar matahari beberapa saat lalu.

"Tidak, aku hanya ingin istirahat saja."

"Baiklah, kita pulang setelah menghabiskan minuman ini."

Pete mengangguk dan mulai menyeruput minumannya pelan. Seleranya untuk berkencan hari ini luntur seketika. Pesan yang ia baca beberapa saat lalu memanglah hanya pesan basa-basi yang dapat dengan mudah membaca niat dari sang pengirim. Tapi tetap saja Pete merasa kesal, bagaimana mungkin Aey membiarkan hal seperti itu terjadi dan bertingkah seolah semua baik-baik saja.

"Aey?"

"Ya?"

"Apa Aey dekat dengan Nate?" Tanya Pete ragu.

"Mengapa tiba-tiba membahas Nate?" Aey tidak dapat menyembunyikan nada herannya.

"Aku hanya ingin tahu saja."

"Dia perempuan yang baik." Jawab Aey cuek sambil memutar gelas di genggamannya.

"Hanya itu?" Desak Pete penasaran.

"Ya hanya itu, mau apalagi?" Aey lebih memilih untuk mengusap kepala Pete yang halus setelah meletakkan gelasnya. Aey sangat suka memainkan surai Pete dengan jemarinya.

"Aey?"

"Hmm?"

"Jika aku melarangmu untuk berhubungan dengannya, apa itu keterlaluan?"

Aey menghentikan usapan tangannya pada Pete. Mereka saling tatap untuk waktu yang cukup lama sebelum senyum Aey membuat Pete tertegun. Semua tindakan sederhana yang Aey lakukan selalu berhasil membuat perasaan Pete berdesir hangat.

"Dia bukan orang yang harus kau hindari, percayalah." Aey mencoba untuk meyakinkan Pete dengan pelan.

"Kenapa?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 20, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love by ChanceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang