...
Yui meringis ketika sebelah tangan Hanbin mengoleskan antiseptik pada luka di sudut bibirnya. Rasanya perih meski Hanbin melakukannya dengan pelan, membuat netra laki-laki itu beberapa kali memberi isyarat agar Yui menurut saja.
Hanbin tidak berbicara barang sedikit sejak dari stasiun. Bibirnya seolah bungkam meskipun sorot matanya tidak dapat berbohongㅡada hal yang tengah ia pikirkan.
Yui menahan tangan Hanbin ketika laki-laki itu selesai menempelkan plaster kecil di sudut bibirnya. Yui tersenyum tipis, mengabaikan nyeri pada lukanya seraya menatap lekat bola mata favorit milik lelakinya.
Keduanya kini berada di flat milik gadis itu. Pada ruang tengah dengan desain sederhana. Dindingnya memiliki perpaduan merah muda dan abu-abu yang memberi kesan lembut serta feminim. Ada sebuah tempat tidur dengan sekat rak buku sebagai pembatas ruang tengah dan kamar gadis itu. Di bagian lain, terdapat dapur minimalis yang tampak bersih, serta tak jauh dari sana ada pintu kamar mandi. Rak sepatu di dekat pintu masuk, televisi di sisi lain yang menghadap ke ruang tidur serta sebuah boneka beruang berukuran tidak terlalu besar warna cokelat tergeletak di sudut sofaㅡtempat di mana Yui dan Hanbin duduk saat ini. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk ditinggali seorang gadis seperti Yui.
Yui tidak mengatakan apa-apa, tapi Hanbin tahu kalau gadis itu membutuhkan pelukannya sekarang. Ia menarik tubuh ramping itu ke dalam dekapannya, mengusap punggungnya lembut hingga Yui merasa mengantuk.
Gadis itu lelah. Tubuhnya letih dan pikirannya penuh. Ia hanya butuh tidur dan laki-laki itu di sampingnya.
"Hanbin," panggilnya lirih dan ditanggapi gumaman oleh lelakinya.
"Malam ini, bisakah kau tidak usah pulang?" Yui mendongak, meneliti raut kekasihnya.
"Kenapa, hm?" Hanbin beralih mengusap rambut kecokelatan sepunggung milik gadisnya.
Yui tampak ragu menjawab. Dia memainkan ujung kukunya meski enggan mengalihkan mata dari garis wajah kekasihnya. "Kau tidak ingin tidur denganku?"
Hanbin tertegun sesaat. Ia bukannya bodoh dan tidak mengerti maksud pertanyaan gadis itu. Ia cukup dewasa untuk tahu arah pembicaraan mereka, karena ia menangkap keputus asaan dalam sudut mata gadisnya. Namun Hanbin mengenalnya. Yui bukan tipikal gadis yang akan meminta hal-hal seperti barusan. Hanbin tersenyum tipis, mengecup bibir gadis itu kilat hingga Yui mengerjap.
"Belum saatnya," jawab Hanbin hati-hati, berusaha tidak menyakiti perasaan Yui.
"Kenapa? Kau sudah tidak menginginkanku?" Tedas Yui seraya melepaskan pelukan Hanbin. Ia membenarkan posisi duduknya seraya terus menatap wajah laki-laki di sebelahnya.
Hanbin menghela napas, "Aku laki-laki normal. Mana mungkin aku tidak mau melakukan itu, terlebih denganmu." Ia menggenggam jemari Yui lalu melanjutkan, "tapi sekarang memang belum waktunya. Aku tidak ingin gegabah dan membuatmu menyesal."
Yui terdiam. Ia tahu, Hanbin sudah pasti akan menolaknya. Sejujurnya ia memang tidak benar-benar ingin melakukan itu. Yui hanya hampir putus asa.
"Maafkan aku."
...
Jarum pendek menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit ketika Hanbin sampai di studio musik. Ada Jaewon dan Bobby di sana. Mereka tengah berkutat dengan laptopㅡmemproduksi lagu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Strawberries & Cigarettes
Fanfiction[COMPLETED] Saat aroma strawberry bertemu dengan rasa rokok. Saat rasa manis itu melebur dengan mint dari nikotin. Saat itu, dia memulai cerita baru dalam hidupnya. Cerita yang tidak akan bisa ia lupakan. HR (181010) #493 Ikon #255 hanbin #63 kimhan...
