Hanbin tidak pernah berpikir kalau ia akan merasa sendiri meski berada di keramaian.
Rasanya aneh. Seharusnya dia bahagia sekarang, karena beberapa hari lalu seseorang dari agensi menghubungi dirinya. Mereka meminta untuk bertemu dan membicarakan tentang kontrak kerja dengan perusahaan dari label yang cukup besar di kotanya. Seharusnya sekarang dia bisa bersenang-senang, karena sebentar lagi mimpi mereka untuk menjadi produser lagu akan terwujud. Ia seharusnya mulai membayangkan jika hasil karya dan jerih payah mereka selama ini, nantinya akan dibawakan oleh artis-artis dan menjadi urutan pertama di chart lagu dunia.
Seharusnya seperti itu. Namun Hanbin tidak merasakannya.
Laki-laki berambut hitam dengan poni yang menutupi dahi itu memainkan ponselnya. Berkali-kali menatap layar persegi dalam genggaman, menunggu sebuah balasan dari pesan yang beberapa menit lalu ia kirim.
Dia mengatakan pada Yui tentang kontraknya. Berharap gadis itu akan bersorak dan berlari menemuinya untuk memberikan satu pelukan dengan ucapan selamatㅡseperti ekspektasinya. Nyatanya, Yui bahkan tidak membaca pesannya.
Sepekan berlalu sejak kejadian malam itu dan Yui masih belum mau menghubunginya. Hanbin sudah puluhan kali mengirim pesan berisi permintaan maaf, puluhan kali menelepon tapi Yui tidak menjawab. Bahkan entah sudah berapa kali Hanbin mencoba menemui, nyatanya Yui selalu menghindar dan berhasil pergi.
Hanbin menghela napas setelah meneguk segelas alkohol, membuat Jaewon memperhatikan gerak-geriknya.
"Yui masih belum memaafkanmu?"
Hanbin tersenyum kaku. "Jika sudah, aku tidak mungkin merasa seperti ini."
"Hey, kau benar-benar menyukainya? Ini pertama kali aku melihatmu begini, Bin."
"Memangnya kapan aku pernah main-main? Aku menyukainya sejak lama jika kau lupa." Hanbin tersenyum getir lalu kembali meneguk minumannya, menyecap rasa manis bercampur pahit pada lidahnya.
Tanpa sadar potongan-potongan memori berkelebat dalam benaknya.
"Seharusnya kau tidak membentaknya, Bin. Kau tahu, perempuan sangat sensitif," kata Jaewon seraya meneguk segelas alkohol dari gelasnya, iris cokelatnya lantas menyusuri lantai dansa, menggeleng heran melihat Bobby yang kini tengah menari di sana.
"Dan seharusnya kau tidak mendengarkan omong kosong Bobby waktu itu," sindir Jaewon.
Hanbin tidak mendengarkan, fokusnya justru beralih pada layar ponselnya yang menyala. Ia tertegun sesaat, tapi detik berikutnya ia menjawab panggilan itu.
.....
Pukul sepuluh malam lewat tujuh belas menit, Yui masih belum sanggup mengangkat kepalanya. Matanya begitu berat, rambutnya yang diikat terlihat berantakan dengan beberapa helai yang terlepas. Sementara bibirnya sedari tadi menggumam tidak jelas, membuat wanita pemilik kedai melihatnya kasihan dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Dia menghabiskan sembilan botol soju," ujar wanita itu. "Aku sudah mengingatkan, tapi dia terus meminta tambah," lanjutnya lantas berjalan masuk, meninggalkan Hanbin yang masih berdiri menatap Yui.
Sepuluh menit lalu Hanbin meninggalkan pesta dan berlari tergesa. Wanita tadi menghubunginya dan mengatakan kalau si pemilik nomor tengah mabuk berat bahkan membuat sedikit keributan dengan pelanggan lain di kedainya.
Hanbin menghela napas. Dia mendudukkan tubuhnya di hadapan Yui tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan datarnya dari gadis itu.
"Ahjumma!" Yui berteriak dan mengangkat kepalanya susah payah. Kedua alisnya bertaut sedangkan wajahnya sudah sangat merah. Benar-benar kacau.
"Beri aku satu botol lagi!" Pinta gadis itu dengan gumaman yang tidak jelas. Dia mencoba menuangkan sisa soju dari botolnya ke dalam gelas, berniat meneguk tapi tangan Hanbin lebih dulu menyaut dan meminumnya.
Hanbin melirik sekitar, lalu menghela napas kasar, mengabaikan Yui yang menggumam dan mengumpatnya pelan. Lihatlah mata pria-pria di sana. Jika Hanbin tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada Yui. Jujur saja, Hanbin sudah panas. Ingin sekali rasanya melayangkan pukulan pada tatapan kotor yang mereka tunjukkan pada gadisnya.
Namun alih-alih mencari masalah, Hanbin justru berdiri dan melepas jaketnya, menyisakan kaos putih yang ia kenakan. Hanbin memasangkan denim itu di kedua bahu Yui lalu menarik lengan gadis itu untuk berdiri.
Yui tentu saja menolak. Namun tidak bisa melakukan banyak karena mabuk berat, hingga Hanbin membiarkan Yui menyandar di bahunya, sementara dia memindahkan denim tadi lalu mengikatnya di pinggang gadis itu untuk menutupi rok pendek yang Yui kenakan.
"Hanbin ..."
Laki-laki itu tertegun. Entah kenapa dia merasa hatinya menghangat ketika Yui menggumamkan namanya meski dalam keadaan tidak sadar.
Ia enggan menjawab. Memilih mengalungkan tas gadis itu di leher dan menggendong Yui dipunggung.
.....
Yang gak mau cepet end mana?
Btw, kalau part berikutnya aku kasih scene rated gimana? 😏
Votement pokoknya, follow kalau perlu hehe. Yg masih sider, aku kasih peluk jauh. Xo!
KAMU SEDANG MEMBACA
Strawberries & Cigarettes
Fanfic[COMPLETED] Saat aroma strawberry bertemu dengan rasa rokok. Saat rasa manis itu melebur dengan mint dari nikotin. Saat itu, dia memulai cerita baru dalam hidupnya. Cerita yang tidak akan bisa ia lupakan. HR (181010) #493 Ikon #255 hanbin #63 kimhan...
