...
Hanbin bilang, dia akan mengajak Yui ke suatu tempat selesai makan. Dan di sini lah gadis itu berada; pukul sembilan malam lewat dua puluh tiga menit, di dalam sebuah gedung berukuran tidak terlalu besar, dengan Hanbin yang masih menggandeng tangan mungilnya. Yui lupa soal itu.
Manik beningnya memerhatikan sekitar. Mereka tengah berdiri di sebuah ruang dengan pencahayaan temaram, dan Yui bisa melihat ada beberapa lukisan abstrak serta poster penyanyi barat terpajang di permukaan dindingnya. Tidak ada kursi dan meja seperti yang ia bayangkan. Hanya ada beberapa perabot yang diletakkan di sudut ruangan, serta lemari tidak terlalu besar yang merupakan rak tempat meletakkan beberapa figura foto. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, tapi pupilnya menangkap foto beberapa laki-laki yang berdiri berjajar menghadap kamera. Mungkin itu teman-teman Hanbin, pikirnya.
Tempat ini terlihat seperti sebuah rumah, tapi ia tidak yakin. Entah sejak kapan Hanbin melepaskan tautan tangan mereka, karena sekarang laki-laki itu tengah berjalan mendahuluinya menuju ke arah pintu kayu berwarna cokelat gelap lalu membukanya.
"Mau melihat-lihat yang lain?" Tawar Hanbin seraya menoleh ke arahnya. "Ayo masuk," lanjut laki-laki itu, tidak menunggu jawaban Yui karena ia tahu gadis itu akan mengikutinya. Ia bisa menebak hanya dengan melihat sorot matanya yang begitu penasaran.
....
Hal pertama yang ia tangkap ketika kakinya melangkah masuk ke ruangan di balik pintu adalah dua orang laki-laki tengah sibuk di depan laptop. Keduanya menoleh dan tersenyum kilas saat mendapati Hanbin menghampiri mereka lalu mengatakan sesuatu yang Yui tidak bisa dengar dengan jelas. Namun setelahnya ia paham, karena kedua orang itu kini melihat ke arahnya.
"Dia kenalanku," kata Hanbin memperkenalkan gadis itu pada kedua orang di sana. Salah satu dari mereka tersenyum lebar lantas berjalan menghampiri Yui yang kini tersenyum canggung. Jujur saja, ia sedikit takut. Oh ayolah, dia seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun, belum pernah berpacaran apalagi berurusan dengan laki-laki, dan sekarang ia berada dalam satu ruangan dengan tiga orang laki-laki asing. Ralat, ia mengenal salah satunya sejak sore tadi.
Laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini mengulurkan tangan. Ada beberapa tatto yang diukir pada lengannya. Rambutnya yang sedikit panjang membuat beberapa helai menutupi mata, tapi Yui bisa melihat kalau ia tengah tersenyum. "Hai, namaku Jaewon. Jung Jaewon," katanya memperkenalkan diri.
Ragu-ragu gadis itu membalas uluran tangannya. Membiarkan Jaewon mengernyit karena merasakan kulit tangan Yui yang begitu dingin. "Han Yui," jawab gadis itu.
"Yui, apa kau sedang tidak enak badan? Atau kau takut padaku?" Tebak Jaewon setengah bercanda. Oh ayolah, gadis di depannya terlihat tidak baik-baik saja.
Hanbin menghampiri mereka, membuat Yui mengalihkan atensinya dari Jaewon. "Jangan membuatnya takut. Sebaiknya kalian pulang, aku akan selesaikan sisanya," ujar Hanbin. Jaewon hanya mengangguk lantas meraih jaket serta kunci motor yang tergeletak di atas meja, lalu memanggil satu orang yang sejak tadi masih fokus dengan pekerjaannya.
"Bobby, sepertinya Hanbin butuh berdua malam ini, tapi tidak denganmu," canda Jaewon seraya terkekeh geli dan menepuk pundak laki-laki Kim itu. Bobby hanya terkekeh lantas melepaskan benda yang terlihat seperti earphone dari kepala dan memakai hoodie-nya.
"Aku Bobby. Kau tidak perlu takut pada kami. Hanbin laki-laki yang baik, meski kau mungkin akan menemukan banyak tatto di tubuhnya malam ini." Bobby tertawa bersama Jaewon setelahnya. Meninggalkan Hanbin yang mengumpat kedua sahabatnya itu, serta Yui yang masih tidak mengerti maksud ucapan Bobby. Dia terlalu polos untuk berkawan dengan teman-teman Hanbin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Strawberries & Cigarettes
Fanfiction[COMPLETED] Saat aroma strawberry bertemu dengan rasa rokok. Saat rasa manis itu melebur dengan mint dari nikotin. Saat itu, dia memulai cerita baru dalam hidupnya. Cerita yang tidak akan bisa ia lupakan. HR (181010) #493 Ikon #255 hanbin #63 kimhan...
