...
Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan dari hilangnya Hanbin setelah insiden semalam. Hanbin tidak meninggalkan apapun selain sehelai roti dan selai kacang di meja untuk sarapan Yui pagi ini. Tidak ada pesan, bahkan nomornya tidak bisa dihubungi.
Yui tidak ingat apa saja yang Hanbin katakan semalam, karena jujur saja, saat ini dia juga masih merasa pusing. Entah berapa banyak alkohol yang dia minum, sehingga yang ada di benaknya hanyalah saat-saat Hanbin menyentuhnya dengan lembut. Astaga, Yui menutup wajahnya dengan sebelah tangan mengingat itu.
Yui menggigiti ujung kukunya seraya mencari nomor Jaewon dalam ponselnya. Dia berjalan mondar-mandir di depan studio yang hari ini tutup. Tidak ada Jaewon, Bobby apalagi Hanbin di sana, membuatnya semakin cemas. Beberapa saat kemudian suara Jaewon terdengar di seberang.
"Jaewon!"
"Ada apa, Yui?"
Yui menggigit bibirnya, "Kau di mana? Hanbin di mana? Kenapa studio tutup?" Tanyanya tanpa jeda, hingga Jaewon terkekeh di seberang sana.
"Satu-satu tanyanya. Kau bisa kehabisan napas."
"Jaewon, aku sedang tidak ingin bercanda. Katakan, di mana Hanbin?"
Laki-laki itu terdiam sesaat, "Hanbin? Aku belum bertemu dengannya hari ini. Semalam dia hanya menelepon dan mengatakan agar aku menggantikannya untuk bertemu dengan orang dari agensi."
Yui terdiam. Pikirannya mendadak beku dan tidak bisa bekerja dengan baik. Di mana Hanbin? Sahabatnya, satu-satunya harapan Yui bahkan tidak tahu keberadaannya.
"Kau sudah coba cari ke rumahnya? Mungkin dia pulang," lanjut Jaewon. Ada secuil harapan dalam hati gadis itu, hingga akhirnya dia menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih.
.....
Selama perjalanan, Yui hanya duduk gelisah. Pikirannya kalut dan tidak menentu karena banyak alasan. Selain memikirkan di mana laki-laki itu, Yui juga terbebani dengan kenyataan bahwa mau tidak mau, dia harus bertemu keluarga Hanbin hari ini. Oh ayolah, Hanbin bahkan belum pernah sekali pun mengajaknya ke sini.
Ya, saat ini Yui sudah berdiri di depan sebuah bangunan sederhana khas rumah penduduk Korea dengan pepohonan hijau di halamannya. Ada pagar besi tidak terlalu tinggi di depannya.
Yui mendongak, sebelah tangannya memegangi tali tas yang tersampir di bahu kirinya erat-erat. Dia menggigit bibir dalamnya seraya sebelah tangan membenarkan kerah sweater cokelat yang ia kenakan agar berdiri tegak menutupi lehernya. Demi Tuhan, jika dia bertemu dengan Hanbin, dia akan menendang tulang kering laki-laki itu tanpa ampun. Beraninya dia membuat Yui harus menggunakan baju serapat ini di musim panas demi menutupi bercak merah yang Hanbin tinggalkan di lehernya.
Yui menarik napas dalam-dalam, hendak melangkah, tapi kepalanya justru menoleh ketika seorang gadis kecil memegangi ujung rok-nya.
Yui mengerjap. Beberapa saat dia seolah melihat Hanbin, tapi dalam wujud gadis kecil yang kini berdiri di sebelahnya. Namun cepat-cepat dia tersenyum saat menyadari siapa gadis lucu dengan seragam sekolah dan tas yang masih di punggung itu.
"Eonni, mencari siapa?"
Yui berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuh Hanbyulㅡadik perempuan Hanbin yang sering laki-laki itu ceritakan. Meski belum pernah bertemu sebelumnya, Yui dapat mengenalinya dengan cepat. Hanbyul memiliki mata yang persis dengan kakaknya. Sipit dan terlihat menggemaskan. Seperti duplikat kekasihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Strawberries & Cigarettes
Fanfiction[COMPLETED] Saat aroma strawberry bertemu dengan rasa rokok. Saat rasa manis itu melebur dengan mint dari nikotin. Saat itu, dia memulai cerita baru dalam hidupnya. Cerita yang tidak akan bisa ia lupakan. HR (181010) #493 Ikon #255 hanbin #63 kimhan...
