...
Yui ingat sebuah kutipan dalam buku yang ia baca, mana yang akan kau pilih, kebahagiaan orang lain yang mungkin menyakitimu, atau kebahagiaanmu yang mungkin menyakiti orang di sekitarmu? Dan jawabannya adalah sebuah pertanyaan, "Apa mungkin kau masih bisa bahagia saat melihat orang di sekitarmu sakit?"
Sejak saat itu ia selalu merasa harus bersyukur. Siapa dan bagaimana pun Hanbin, apapun pekerjaannya, bagaimana nanti hidup mereka, apakah nantinya ia dan Hanbin akan bisa makan nasi setiap harinya, ia tidak peduli dengan semua itu. Baginya, Hanbin bersamanya itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak mau menuntut dan justru membebani laki-laki itu. Ia tahu, Hanbin punya jalannya sendiri.
Sepekan berlalu sejak Hanbin mulai jarang mengabarinya. Laki-laki itu beralasan sibuk dan harus mengurus ini itu, hingga mau tidak mau Yui mencoba mengerti. Gadis itu juga tengah disibukkan dengan penyelesaian naskah yang sudah hampir tahap revisi.
Ia menatap layar laptopnya. Sesekali netra beningnya melirik pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Menunggu sebuah notifikasi meski berkali-kali harus menghela napas kecewa. Tidak ada satu pun pesan dari Hanbin sejak siang tadi.
Yui menilik jam weaker di dekat tempat tidurnya. Sudah pukul sembilan malam, artinya Hanbin semakin tidak peduli jika dia menunggunya.
Dia terdiam sesaat, mengambil benda persegi tadi dan menatap layarnya lekat-lekat. Ada fotonya bersama Hanbin dengan latar langit biru dan keduanya tengah tersenyum ke arah kamera. Foto yang mereka ambil saat menghabiskan liburan musim panas dua bulan lalu.
Tanpa sadar Yui tersenyum. Ingatannya terbang jauh dan ia benar-benar merindukan laki-laki itu sekarang.
"Dia sedang apa, ya?" Gumam gadis itu seraya membuka galeri dan melihat foto lain.
Seperti mempunyai ikatan batin, kini nama laki-laki itu tertera di layar ponselnya diiringi dering musik. Sudut-sudut bibirnya terangkat, buru-buru dia menempelkan benda itu ditelinga setelah mengangkatnya.
"Hanbin!"
Terdengar kekehan di seberang sana, membuat hatinya tergelitik semakin rindu.
"Apa, Sayang?"
Yui merasakan pipinya memanas. Meski bukan pertama kalinya, tapi dia selalu merasa segar setiap kali Hanbin memanggilnya seperti barusan. Ia memainkan tali hoodie yang ia kenakan dengan ujung jarinya.
"Aku rindu," jawab gadis itu.
"Aku tidak."
Yui mengerucutkan bibir. Hanbin memang seperti itu. "Yasudah," katanya lirih.
"Yui?"
"Hm?"
"Aku di depan. Sepuluh menit cukup, kan? Jangan cantik-cantik! Kau milikku."
Setelah membuatnya melongo, Hanbin menutup teleponnya. Yui mengerjap, tapi detik berikutnya ia berlari ke arah lemari.
....
Yui tertegun. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, menatap beberapa sepatu yang dipajang pada rak dan dinding di toko dekat pusat belanja elit di distriknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Strawberries & Cigarettes
Fanfiction[COMPLETED] Saat aroma strawberry bertemu dengan rasa rokok. Saat rasa manis itu melebur dengan mint dari nikotin. Saat itu, dia memulai cerita baru dalam hidupnya. Cerita yang tidak akan bisa ia lupakan. HR (181010) #493 Ikon #255 hanbin #63 kimhan...
