BAGIAN KEEMPAT

1.6K 220 18
                                        


selama 4 hari ini Stefan menyelesaikan masalah hotelnya di cabang Pontianak, setelah 6 bulan tidak mendapatkan pengawasan ketat, laporan SPJ nya sangat berantakan dan membuat Stefan marah, ditambah sampai sekarang uang 200 juta masih belum dapat di pertanggungjawabkan oleh manager keuangan cabang hotelnya tersebut.

Sore hari mendarat ke Jakarta dan ia langsung ke Bar yang sudah di sediakan kevin, malam ini ia akan mengadakan party bersama teman-teman se-'level' nya dalam rangka perayaan ulangtahunnya seminggu yang lalu.

Saat memasuki Bar suasanya tenang, dentingan music klasik nya mengayun indah ditambah dengan teman-teman Stefan yang sudah mulai berkumpul disana bersama pasangan mereka.

Setelah beberapa kali menyalami mereka, Stefan duduk di sofa warna merah tua yang senada dengan desain bar ini. Di lingkaran sofa ini sudah ada kevin menyambutnya dengan senyum.

"gimana-gimana, tenang aja stef. Uang Cuma 200 juta juga" kevin menuangkan wine ke gelas dan menyodorkannya ke pria yang duduk di depannya. Stefan memakai kemeja hitam dan celana hitam, terlihat wajahnya yang cerah dengan berusaha bersikap santai.

"bukan masalah 200 jutanya, masalahnya gak ada laporan pertanggungjawaban. Lo kan tau gue anti korupsi, kalau sampai dalam 2 minggu ini mereka ga bisa ngebuktiin. Gue sikat mereka" Stefan menghabiskan minumannya langsung tenggak. "ngomong-ngomong undangannya banyak banget" ia memperhatikan sekelilingnya.

"mereka semua itu orang kaya, bisalah buat partner bisnis nantinya. Kan gue selalu melihat peluang. Seharusnya lo makasih sama gue" senyum kevin. "eh, gimana lamaran lo?"

"sssttt" kode Stefan, "entar ada yang denger, selama 7 tahun ini kan Cuma keluarga gue sama lo yang tau"

"udah pelan kali gue ngomongnya, jadi gimana? Kapan nikahnya?"

"emmm" ia meneguk minumannya lagi sampai habis

"hisss, lo minum wine, bukan air putih." Tatap kevin khawatir, "gak berjalan lancar ya? Lo di tolak?"

"gatau gue, dia ga jawab" Stefan terdiam, dia melihat wanita anggun berjalan ke arah mereka, berbalut dress hitam dengan sedikit lengan menutupinya, kevin mengikuti arah mata Stefan. "lo ngundang dia juga?" Tanya Stefan lirih

"hai" sapa gadis itu dengan manis, kevin Stefan membalas senyumannya, "boleh gabung disini?" Stefan mengangguk. "apa kabar?" Stefan masih terus menatapnya

"emm... baik kok baik.." jawab kevin cepat, "lo sendiri gimana? Katanya minggu depan gabung di Indonesian fashion weeks ya?"

"iya, kok tau sih?"

"gue apa sih yang enggak" tawa kevin, "sampai mana persiapannya?"

"80% sih, masih ada yang kurang" senyumnya, "stef" panggil gadis itu

"eh iya?"

"emm" ia membuka tasnya, "maaf ya kadonya telat" gadis itu menyerahkan sebuah kotak berukuran standar.

"ah gausah repot-repotlah, lo udah mau kesini aja gue seneng" basi Stefan sambil menerima kado tersebut

"sekalian lo berdua harus dateng ya, wajib"

"pasti pasti, minum dulu kali" kevin dengan semangat menuangkan minuman ke gadis itu.

****

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Stefan mulai membuka mata. Setelah matanya sedikit bernyawa ia mulai duduk, dia memandangi sekitar ternyata dia berada di kamar hotelnya. Ia tidak ingat siapa yang mengantarnya semalam karena seingatnya ia jam 2 pagi masih berada di Bar.

HELLO WIFE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang