"Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini, sudah bertahun-bertahun, dan tidak banyak yang berubah darimu", Damar membuka pembicaraan setelah kami tidak sengaja bertemu di parkiran sebuah rumah sakit.
"Yah bukan tempat yang bagus untuk sebuah pertemuan kan?", Aku menyahut dengan senyum, bertemu teman lama setelah begitu lama membawa suasana baru yang menyenangkan.
"Kalau begitu kita cari tempat yang bagus, oh ya apa yang kau lakukan disini?", Damar bertanya-tanya. Ia berdiri didepan motorku, dia lebih tinggi dari saat terakhir kami bertemu, itu membuatku kesal seakan hanya aku yang berhenti tumbuh diusia yang masih muda.
"Aku cuma cek kesehatan, bagaimana denganmu?",
"Mengunjungi seorang teman, dia kecelakaan dan dirawat disini, tapi kondisinya sudah baik, kurasa dalam satu atau dua hari kedepan dia bisa pulang", Damar menjelaskan dengan rinci tanpa menungguku bertanya.
"Syukurlah",
"Jadi apa kita bisa cari tempat yang bagus? Kurasa sudah waktunya makan siang", Damar mengetuk jam ditangannya.
"Mungkin itu bukan ide yang buruk",***
Aku menatap sebuah kalender yang tertempel didinding kamar kosku. Bukan tanggal yang sedang kulihat, aku tidak sedang menghitung hari. Ku usap kalender itu, tahun sudah berganti tapi aku sama sekali tidak punya keinginan untuk mencopotnya, kalender itu pemberian darinya, dia yang membuatnya sendiri dengan tangannya saat ulang tahunku tahun lalu. Dia yang selalu kurindukan. Mungkin telah beberapa kali aku jatuh cinta tapi padanya aku jatuh terlalu dalam sampai aku tak bisa bangun dan kembali lagi ke pijakanku yang dulu.
"Hey!", tiba-tiba Viny masuk ke kamarku tanpa ketukan apalagi permisi, kebiasaan buruknya masih saja bertahan.
"Aku pinjam setrikamu, setrikaku rusak",
"Aku tahu, sudah rusak sejak setahun yang lalu, jangan menjelaskan lagi", Viny terkekeh. Biasanya dia akan duduk di tepian ranjangku lalu menggangguku yang sedang asyik mengenang lelakiku.
"Apa terlalu sulit untuk bahkan sekedar mencoba move on? Kau itu cantik, kenapa harus terus berharap pada laki-laki yang meninggalkanmu, yang bahkan konyol sekali belum kau temui",
"Kalau saja aku bisa",
"Kau hanya tidak mencobanya Dyan, sudah berapa pria yang mendekatimu, kau acuhkan saja, bahkan mencopot kalender yang sudah bulukan ini pun kau tidak sanggup",
"Kau mencekokiku setiap hari dengan pikiran itu, itu kan fotoku, jadi kenapa aku harus mencopotnya?", kalender itu memang berisi fotoku, aku sangat suka karena dia yang memberikannya, meskipun aku berharap jika fotonyalah yang terpampang disana.
"Tapi kau mengenang kisah dibalik kalender itu, siapa yang membuatnya, bukan menyukai fotonya, aku bukan anak kecil, jangan memberiku alasan yang mudah kupatahkan, lebih banyaklah belajar berbohong supaya lebih baik", kulempar bantal ke arahnya. Viny memang sangat ceplas-ceplos, kamarnya bersebelahan denganku membuat kami saling dekat kemudian bersahabat.
"Lihat saja kalau kau mencoba mencopotnya apalagi saat ada laki-laki yang baik coba mendekatimu, aku yakin kau akan mulai merelakannya, dan maksudku bukan hanya kalender usang ini, tapi juga semua benda yang berkaitan dengannya" Viny menatapku serius. Biasanya dia hanya tahu caranya mengganggu, aneh mendengarnya bicara serius.
"Kupikir aku hanya perlu bertemu dengannya meskipun hanya sekali",
"Untuk apalagi?", Viny memutar bola matanya terlihat kesal.
"Aku ingin membuang semua rindu yang meremukanku ini, setelah itu aku akan berhenti mengharapkannya", gadis cerewet itu terdiam. Mungkin kali ini dia menyerah, setelah sekian lama memprovokasiku untuk menerima para pria yang mendekatiku, hari ini dia bungkam mendengar jawabanku, padahal kata-kata itu lebih untukku sendiri.***
Aku tergopoh-gopoh menaiki anak tangga kantor. Sesampainya di dalam aku melirik sekilas jam di dinding, nyaris terlambat. Aku baru saja selesai melalui masa training, jadi terlambat akan membuat reputasiku buruk di masa-masa awal bekerja. Aku bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan minuman yang cukup terkenal dan baru saja membuka cabang di kota ini.
"Jangan sampai membuat catatan buruk di hari pertamamu", seorang pria melewatiku tanpa menoleh. Aku menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada orang lain.
"Maaf, kau bicara denganku?",
"Menurutmu?", ia malah membalasku dengan pertanyaan. Lelaki itu benar-benar tidak menoleh sama sekali. Aku hanya melihat punggungnya dari belakang. Tubuhnya tinggi, memakai kemeja warna maroon dan celana kain panjang warna hitam. Ia sedang menunggu pintu lift terbuka. Saat aku akan menghampirinya saat itu juga pintu lift terbuka dan dia buru-buru menutupnya. Aku tidak bisa dengan jelas melihat wajahnya karena dia sangat cepat berlalu padahal aku juga akan menggunakan lift itu, seakan dia takut aku mengikutinya.
"kenapa kau lama sekali?bukannya pagi-pagi sudah kubangunkan?", Viny mengejutkanku.
"Astaga, bisakah kau tidak selalu mengejutkanku, kau selalu datang dengan cara yang sama", aku memukul lengannya, gemas. Viny hanya terkekeh, untunglah dia sahabat yang baik, selalu ada saat senang dan susah, bahkan kami bekerja di satu perusahaan yang sama. Kami lalu masuk kedalam lift.
"Maaf kalau aku duluan tadi, nyonya besar menelfonku untuk datang lebih awal ke kantor, briefing dadakan karena pagi ini akan ada manager dari pusat datang",
"Tiba-tiba?kenapa?",
"Cabang kita masih baru, tentu saja manager akan sering mengecek kondisi kita, bahkan ku dengar beliau dipindahkan disini sementara waktu sampai nyonya besar benar-benar mampu menanganinya sendiri",
"Kau selalu menyebutnya nyonya besar, sepertinya dia sangat berkesan untukmu ya",
"Oh tentu saja, sangat spesial", seloroh Viny, kami berdua terbahak-bahak. Viny lebih dulu bekerja di perusahaan ini, dia juga yang memberikan informasi lowongan kerja untukku. Nyonya besar yang Viny maksud adalah putri dari direktur cabang perusahaan tempat kami bekerja, dan ia mendapat posisi sebagai manager di cabang kami, entah mungkin karena merasa putri direktur ia bersikap bossy. Tapi aku tidak terlalu perduli aku hanya akan fokus mengerjakan tugasku saja. Viny adalah yang paling menderita karena dia adalah asisten manager dikantorku, sebagian besar tugas dilakukan oleh Viny, kurasa bahkan Viny lebih menguasai seluk beluk tugas seorang manager dibanding si Nyonya besar itu. Tapi Viny tetaplah Viny, seseorang yang tidak pernah mengeluh dan bersedih terlalu lama, dia menikmati pekerjaannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu
RomanceRindu seorang gadis pada lelaki yang bertahun-tahun dicintainya, namun pria lain datang dalam hidupnya, akankah rindu itu bertahan atau berpaling kepada pria lain?