Hidup adalah misteri, pepatah lama, tetapi itu benar. Kemarin mungkin adalah hari terbaik dalam hidup, memiliki segala bentuk cinta, karir yang baik, dan keluarga yang harmonis. Hari ini adalah kenyataan, tak dapat berhenti ataupun diundur, tidak ada cara selain menghadapinya. Esok kita tidak akan pernah tahu, mimpi-mimpi dan rencana selalu dibangun, meskipun esok pada akhirnya segala yang dalam genggaman terlepas begitu saja. Esok-lusa mungkin saja segalanya berada dalam genggaman kita lagi.
Danish berkali-kali datang ke kosan Dyan, mencari kemana gadis itu pergi, barangkali ia akan beruntung menemukannya. Belum pernah gadis itu bersikukuh seperti itu, jelas kesalahan Danish terlalu fatal. Hari itu Dyan membiarkan dirinya berada diteras hingga malam hari, Danish menunggu gadis itu menjadi luluh. Tapi tidak juga, ibu kos sampai mengusirnya. Sengaja, Danish berdebat dengan Ibu kosnya, berharap Ibu kos akan membujuk gadis itu keluar.
"Apa yang kau inginkan?", Gadis itu bahkan tak menatap dirinya saat bicara, ia membuang muka. Hati Danish berdenyut nyeri, nyeri luar biasa. Mata indah gadis itu ia pikir telah menjadi miliknya, dan akan menatapnya seumur hidupnya. Namun hari itu mata itu begitu berkilat marah, matanya bengkak. Ia menangis sepanjang hari.
"Maafmu," Dyan terdiam, lalu ia terisak tak mampu menahan sesuatu yang ingin meledak dari dalam hatinya.
"Maaf ...," Danish memegang bahu Dyan, namun ditepisnya.
"Aku mencintaimu, aku tidak pernah ingin mengkhianatimu, aku tidak sadar,"
"Tapi ... kau, memang mengkhianatiku." Dyan bicara terputus-putus, rahangnya mengeras dan tenggorokannya tercekat. Begitu sesak dadanya.
"Aku tidak sadar, dear ... please, maafkan aku."
"Aku tidak bisa menanggung beban itu seumur hidupku, aku tidak bisa meneruskan ini sementara setiap aku melihatmu aku akan mengingatmu pernah melakukan itu bersama orang lain, aku tidak akan pernah bisa melupakannya, percuma kau memohon, aku tidak akan pernah bisa." Dyan berkata dengan begitu halus, seakan Danish melihat sebuah lubang menganga begitu besar dalam dada gadis itu. Begitu sakit, begitu menghantamnya. 'Tidak akan pernah bisa', kata-kata gadis itu seperti sebuah dengungan yang terus berputar dalam otaknya. Dyan melangkah mendekati Danish lalu berhenti dalam jarak yang sangat dekat. Mata itu penuh dengan air mata yang merebak menuruni pipinya dan berkumpul di ujung dagu. Isakan gadis itu seperti pisau yang menusuk-nusuk buku-buku hatinya. Dyan memeluk Danish, sesaat ia berpikir akan mendapatkan maaf. Tidak ada sepatah katapun yang keluar, Danish membalas pelukan itu lalu Dyan melepaskannya.
"Aku cinta padamu," Bisiknya ditelinga Danish, ditatapnya manik gelap milik Danish, lalu ia menjinjit dan mengecup bibir Danish dengan mata terpejam dan linangan air mata. Tanpa sempat Danish membalasnya Dyan melepasnya.
"Pergilah, maaf aku tidak bisa meneruskan ini, kita ... tidak bisa bersama lagi." Dyan membalikkan tubuhnya lalu masuk kedalam kos tanpa pernah menoleh lagi. Danish hanya terpaku menatap punggung gadis itu. Tanpa ia tahu itu kali terakhir ia melihat Dyan.
Tidak ada yang tahu kemana Dyan pergi. Pagi-pagi sekali setelah malam itu Dyan pergi, meninggalkan surat diatas ranjangnya. Viny yang menemukannya, dalam suratnya Dyan tidak mengatakan kemana ia akan pergi, ia hanya menitipkan surat permohonan resign dan bilang agar tidak mencemaskannya karena ia pergi ke suatu tempat yang aman.
Danish nyaris putus asa. Ia mencari Dyan dikantor, tetapi ternyata sudah resign. Mendesak Viny sedemikian rupa, tapi kenyataannya Viny tak mengetahui apapun. Danish mencarinya hingga ke rumah orang tuanya, dan ia hanya mendapat jawaban yang sama, dengan tambahan kekecewaan karena gagalnya pernikahan mereka.
"Dyan sempat pulang kemari sebentar nak, hanya untuk berpamitan, meminta kami percaya bahwa dirinya pergi ke suatu tempat dan dia akan baik-baik saja, tidak perlu mencemaskannya, Bapak kecewa kenapa kalian harus berpisah padahal sudah hampir menikah, ada apa sebenarnya? Dyan tidak menjelaskan apa-apa, hanya bilang bahwa ia sudah berpikir masak-masak, dan jika pernikahan tetap dilaksanakan hanya akan membawa kesedihan yang lebih dalam, jadi Bapak tidak bertanya apa-apa lagi." Danish mengusap kasar wajahnya frustasi, juga tidak menjelaskan apapun. Ia hanya memohon maaf atas segala kekacauan yang terjadi dan berpamitan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu
RomanceRindu seorang gadis pada lelaki yang bertahun-tahun dicintainya, namun pria lain datang dalam hidupnya, akankah rindu itu bertahan atau berpaling kepada pria lain?