Seperti biasanya Bulan sudah sampai disekolah dengan mengendari ojek online. Ia merapikan rok dan bajunya sebelum memasuki area sekolah.
“Ini pak.” Bulan menyerahkann beberapa lembar uang kepada driver ojek online.
Kemudian ia berjalan melewati gerbang sekolah. Ia menatap sekeliling, mengamati bangunan sekolahnya. Tanpa ia sadari, sebuah mobil fortuner berwarna putih melaju dengan cepat.
Suara klakson berkali-kali dibunyikan oleh sang pengendara mobil. Bulan terperanjak kaget dan segera melesat mundur.
Mobil fortuner berwarna putih itu tiba-tiba saja berhenti, kaca mobilpun terbuka.
“Kalau jalan pakai mata yang bener.” Ucap sang pengendara mobil kepada Bulan.
Bulan terkejut. Melihat sang pengendara mobil itu dengan ketusnya berbicara kepada bulan. Bulan masih terkejut, sampai-sampai ia menyadari bahwa sang pengendara ketus itu adalah Mars Galvano.
“Sialan.” Bulan mengumpat setelah Mars melaju ke parkiran sekolah.
Bulan berjalan buru-buru, ia seperti mengejar sesuatu. Suasananya hatinya masih penuh amarah. Bulan menerobos segerombolan siswa yang ada didepannya.
“Jadi cowok jangan belagu, mentang-mentang sekolah pake mobil masuk area kampus kebut-kebutan, dikiranya ini sekolah area balap apa?” sindir Bulan saat ia berjalan disamping Mars.
Bulan langsung berjalan cepat sebelum Mars melakukan sesuatu kepadanya.
“Dasar cowok ketus belagu.” Bulan membanting tasnya diatas meja.
“Kenapa bul?” tanya Raffi, cowok yang duduk dibelakang Bulan dan Adira.
“Itu si siapa tuh Mars, naik mobil diarea kampus pake ngebut sampe mau nabrak gue.” Bulan meluapkan amarahnya.
“selow bul, cowok macem Mars mah mau ngapain aja bebas. ”
“Secara si Mars kan cowok paling famous dan ganteng disekolah.” Rayani nyeletuk menambahkan.
“Ganteng mah ganteng tapi juga harus bedain mana sekolah mana area balap.” Bulan masih merasa kesal.
Bulan duduk dan segera meminum air mineral yang dibawanya. Terlihat dari jauh Adira berjalan masuk kelas dengan santainya.
“Kenapa lo bul?” tanya Adira yang masih berdiir diujung meja.
“Sebel, ah udahlah gausah dibahas.”
Bulan langsung berdiri agar adira bisa duduk dibangkunya. Adira segera duduk dan melepas sweater yang dipakainya.
Bulan mengacak-acak rmabutnya kesal.
Tapi tidak disangka-sangka Mars lewat didepan kelas. Bulan melihat Mars saat mars melihat dirinya dari seberang kaca jendela. Bulan melotot tapi Mars hanya berlalu dan pergi.
*****
“Assamualaikum.” Sesorang mengetuk pintu kelas bulan beberapa kali.
“Waalaikumsalam, ada apa?” tanya bu Sarah kepada siswa yang berdiri diujung pintu.
“Itu bu siswi yang bernama Casmira Bulan disuruh ke ruang BP sekarang.”
“Casmira Bulan Tanese?” bu Sarah memandang seluruh siswa siswi IPS 4. Bulan langsung mengacungkan jari telunjuknya.
“Saya bu.” Ucap Bulan.
“Kamu disuruh ke ruang BP sekarang.”
Bulan kikuk ia menoleh ke kanan dan kekiri. Ya tuhan, ada masalah apalagi dengan Bulan? Padahal statusnya masih siswa baru tapi sudah dipanggi ke ruang BP setelah sebulan bersekolah di Pelita Angkasa.
“Bulan lo bikin ulah apaan?” cetuk Adira sebelum bulan berjalan keluar kelas. Bulan hanya menggelengkan kepalanya.
“Permisi bu.” Bulan segera mengikuti siswa yang mengetuk pintu kelasnya tadi.
“Kenapa aku disuruh ke BP?” tanya Bulan.
“Gue gatau tadi cuma pas lewat ruang bp aja trus disuruh manggil lu.”
“Ini ruang bpnya dimana?” tanya Bulan lagi.
“Lo lurus aja nanti juga ketemu, gue mau balik ke kelas dulu.” Siswa itu pergi meninggalkan Bulan sendiri.
Tubuh Bulan gemetar. Ia bingung mengapa ia dipanggil keruang BP, padahal dia tidak membuat kerusuhan. Bulan mengetuk pintu ruang BP dengan sangat pelan.
Bu Hana mempersilahkan Bulan untuk duduk sebelum mengintrograsi Bulan. Wajah bu Hana tampak memperhatikan wajah Bulan berkali-kali.
“Kamu anak baru kan?” tanya bu Hana. Bulan hanya mengangguk. Tubuhnya semakin gemetar.
“Langsung saja ya, jadi kapan kamu pertama kali bertemu dengan Mars? Mars Galvano, siswa IPA 1.” Bu Hana mempertegas pertanyaannya.
Bulan tersentak. Ada hubungan apa Bulan dipanggil ke ruang BP dengan disodori pertanyaan tentang mars. Bulan terdiam. Ia kemudian menegakkan kepalanya.
“waktu saya meneduh ditoko bu.” Jawa bulan, dengan gugup
Bulan masih berpikir. Apakah Mars dendam kepadanya karena tadi pagi ia mengumpat dan menyindir Mars?
“Lalu, dengan siapa Mars saat itu?”
“Sa-sama pacarnya bu.” Bulan terbata-bata menjawab pertanyaan bu Hana.
“Kamu tau kan soal Angel memposting foto berciuman dengan Mars di sosial media?”
Bulan semakin tersentak kaget. Ia bingung bukan kepalang. Apa jangan-jangan gara-gara tadi waktu ia mengumpati dan melotot kepada Mars?
Atau jangan-jangan Mars benar-benar dendam kepadanya? Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi apa maksud bu Hana bertanya tentang foto ciuman Mars dengan pacarnya? Bulan semakin tidak mengerti.
“Kamu kenapa geleng-geleng begitu?” tanya bu Hana.
Bu Hana melajutkan. “Kamu tinggal jawab iya dan tidak, ibu tidak akan memberitahu Angel maupun Mars jika kamu memang benar tau tentang postingan Angel itu.”
Bulan terdiam. Bingung.
“Mars dan Angel sama-sama siswa SMA Pelita Angkasa, dan setiap perbuatan yang dapat memberikan pencemaran nama baik disekolah akan dikenai sanksi.” Tutur bu Hana.
Seketika Bulan teringat akan ucapan Abella sewaktu dimobil dengannya. Bulan menyimpulkan apakah Abella yang memulai ini? apakah Abella yang menyeretkan nama Bulan kedalam BP ini? Bulan benar-benar tidak menyadarinya dan semakin bingung.
#GrasindoStoryInc
KAMU SEDANG MEMBACA
Mond Und Mars
Teen FictionMond dalam bahasa Jerman adalah Bulan. Mond Und Mars sendiri bila digabungkan menjadi "Bulan dan Mars". Bulan seorang siswi pindahan dari Jawa Tengah. sedangkan Mars sendiri asli dari Jakarta. Mereka berdua tak sengaja bertemu pertama kali diruang s...
