Bulan tersenyum sendirian. Entah apa yang saat ini ia bayangkan. Senyum manisnya berkali-kali terpancar diwajahnya.
Bulan memang memiliki wajah yang manis. Aura kecantikannya terpancar saat ia tengah tersenyum maupun saat fokus terhadap satu hal. Seperti saat ini.
Senyum Bulan semakin mengembang. Ia berajak dari tempat duduknya, membukakan pintu untuk seseorang yang sangat berarti baginya.
Seseorang itu masih menaiki motor yang jelas masih menyala, wajahnya mengulas senyum untuk anaknya yang tengah berdiri di ambang pintu menyambutnya.
Bulan menghampiri ayahnya dan mengambil tas yang tergantung di bahu ayahnya.
“Tumben pulang jam segini pak?” tanya bulan kepada ayahnya.
“Cuma keliling deket-deket sini.”
Setelah memasukan motor kedalam rumah. Ayah Bulan langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Sementara Bulan tengah menaruh ponselnya didalam kamar.
Bulan berjalan keluar kamar dan menuju dapur, membuatkan kopi untuk ayahnya yang baru saja pulang seperti biasa.
“Yah, kopinya aku taruh di meja depan ya?”
Bulan berjalan membawa kopi untuk ayahnya menuju ruang tamu. Sebagai seorang anak satu-satunya Bulan selalu membuatkan kopi dan memasakan makanan untuknya dan ayahnya. Bulan melakukan hal ini sudah sedari kecil, tepatnya mulai ia kelas 4 SD.
Bulan tidak pernah tau bagaimana ibunya, seperti apa wajah dan suaranya. Ibu bulan meninggal setalah melahirkan Bulan. Terkadang Bulan sangat ingin merasakan kasih sayang dari seorang ibu.
Tapi Bulan tetap bersyukur memiliki seorang ayah yang menyayanginya. Yang selalu menjaga dan menenangkannya dalam segala situasi. Ayah adalah hal paling berharga bagi Buan.
****
"Bulan, ayo cepetan!” seru ayah Bulan yang sudah berada diatas motor lengkap dengan helmnya.
Bulan mengunci pintu rumah dan segera memakai helmnya. Ia duduk di bagian belakang motornya. Ayah Bulan langsung menstater dan menjalankan motor.
Saat ini Bulan dan ayahnya akan ke supermarket untuk membeli kebutuhan selama satu bulan. Setiap awal bulan, bulan dan ayahnya selalu belanja.
Sampainya diparkiran. Bulan turun dari motor dan melepas helmnya, sembari menunggu ayahnya yang juga tengah melepaskan helm setelah memarkir motornya.
Mereka berdua masuk kedalam supermarket. Petugas yang berada di kasir menyambutnya dengan sambutan khasnya yang disertai dengan senyum manis. Mengucapkan selamat sore juga.
Bulan tersenyum mengikuti ayahnya ke bagian nonfood. Membeli satu pasta gigi, 5 buah sabun mandi, satu renteng shampoo, satu renteng sabun colek.
“Yah, kita beli telur sama sosis gak?”
Bulan menoleh kepada ayahnya yang sedang melihat-lihat beberapa jenis semir sepatu. Ayahnya menoleh juga kearah Bulan dan menganggukkan kepalanya, seperti menginyakan pertanyaan Bulan.
Ayah Bulan mengikuti Bulan berjalan menuju ke bagian food. Bulan segera melangkah mendekati freezer untuk memilih sosis, sementara ayah Bulan mengambil beberapa telur.
Kini, Bulan dan ayahnya berdri didepan kasir untuk mengantri. Ada dua pengunjung yang berdiiri didepan antrian Bulan. Bulan dan ayahya menunggu dengan sabar.
Setelah dua orang didepan Bulan keluar dari supermarket, sekarang saatnya Bulan dan ayahnya untuk membayar di kasir.
Ayah Bulan mengeluarkan uang seratus ribuan. Dan mengambil kembaliannya. Bulan membawa semua barang belanjaannya yang berada didalam kantong plastik besar berwarna putih itu.
Ayah Bulan berjalan mendahului Bulan setelah memasukkan kembalian dari dalam dompet dan menaruh dompetnya kembali kedalam saku celana.
Pintu supermarket terbuka dari luar, ada seorang cowok yang membukakknnya untuk ayah Bulan. Ayah Bulan tersenyum begitu juga dengan cowok itu yang juga tersenyum sambil memegangi pintu supermarket dan mengangguk kepada ayah Bulan.
Bulan menatap cowok itu lekat-lekat, saat dirinya keluar dari pintu supermarket yang dipegangi oleh cowok itu, yang tak lain adalah Mars Galvano.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mond Und Mars
Novela JuvenilMond dalam bahasa Jerman adalah Bulan. Mond Und Mars sendiri bila digabungkan menjadi "Bulan dan Mars". Bulan seorang siswi pindahan dari Jawa Tengah. sedangkan Mars sendiri asli dari Jakarta. Mereka berdua tak sengaja bertemu pertama kali diruang s...
