1. Antara Bandung dan Jakarta

26 1 0
                                        

"Kalau jatuh karena tersandung batu sudah terasa sakit sejak awal, kalau jatuh cinta sakitnya baru terasa belakangan." 

----------------------------

Bandara dan hilir mudir manusia. Dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Kau boleh saja menghindari keramaian ini jika kau salah satu kenalan Christian Grey atau cucu dari Bill Gates. Jika bukan, jadilah bijaksana dalam memaknai keadaan. Keramaian memang tidak selalu menyenangkan, tetapi demi senyuman hangat kerabat atau keluarga yang menunggumu pulang, ini mungkin harga yang harus dibayar.

"Darling, ingat ya jangan lupakan mantelmu, makan dan olahraga teratur, jaga kesehatan, jangan sembarang percaya pada orang asing, jangan sampai terjerumus ke dalam pergaulan bebas apalagi narko-"

Kalea memutar matanya jengah. "Ma, Lea sudah 18 tahun. Jangan terlalu khawatir. Lea bisa jaga diri baik-baik di Indonesia."

"Tapi tetap saja, mama tidak tega kalau kamu harus tinggal sendirian. Belanda-Indonesia itu bukan seperti Bandung-Jakarta loh, sayang." Tutur wanita paruh baya yang tidak bisa menutupi kecemasan dari wajahnya.

Kalea tersenyum sembari menepuk bahu wanita yang teramat disayanginya. "Ini bukan soal jarak, Ma. Lea itu kembali ke Indonesia, bukan negara asing untuk kita. Lagian nanti kan ada Tante Alenka"

"Aduh mama mana percaya sama si Alenka, dia itu orangnya kan cuek. Makanya sampe sekarang belum menikah. Kamu juga sih memang susah kalau dibilangin. Makanya dari awal mama kurang setuju kamu ambil program study-exchange ke Indonesia. Tapi yasudahlah, yang kamu bakal ambil kuliah disini kan."

Kalea mengangguk sembari meremas kedua pipi wanita yang telah melahirkannya ke dunia. "Iya, mama bawel. Salam untuk papa ya. Kalea harus buru-buru check-in dulu, pesawatnya sudah boarding. I'm gonna miss you, mom." Ujar Kalea yang disambut pelukan hangat terakhir sebelum dirinya pergi meninggalkan Harleem, Noord Holland, Belanda.

Kalea mengeratkan mantelnya serta membenarkan ransel yang menggantung di pundaknya. Cuaca hari ini termasuk ideal, 19 derajat celcius. Tidak ada udara dingin yang mencekam. Hanya saja pipinya terus bersemu merah. Entahlah, setelah 9 tahun, ia teramat merindukan tanah kelahirannya. Seperti penggalan lirik lagu nasional yang kerap mengisi kesehariannya, 'Biarpun saya pergi jauh, tidakkan hilang dari kalbu tanahku yang kucintai'. Bumi pertiwi beserta keberagaman budaya nusantara selalu tersimpan di hati.

Dag, Tot straks.

======

Jakarta, 14.04 WIB

Bandara Soekarno-Hatta.

Hujan. Bumi pertiwi menyambut kembali kehadirannya. Salah satu bagiannya yang sempat menghilang sesaat dari peradaban. Tak ada yang lebih menggembirakan daripada membaur kembali dengan tanah air sendiri.

Kalea-masih-tak henti-hentinya menampilkan senyum lebarnya. Perasaan bahagia yang terlalu membuncah memenuhi seisi jiwanya.

Drrrrtttt

+62813246487**

Jangan terlalu cinta pada Jakarta, kalau kau belum menyapa hangat Bandung.

Kalea menyerngitkan dahinya dengan sempurna. Ia melonggarkan sedikit skullcaps yang sedari tadi menutupi sebagian rambut panjangnya. Kepalanya kemudian sibuk menjelajah penjuru bandara. Namun, tak ada apa-apa yang berarti.

+62813246487**

Kamu tidak tahu siapa aku ya?

Kalea tidak tahu apa yang mendorong keberaniannya, namun tangannya baru saja menekan tombol hijau dan kini ia sedang tersambung dengan seseorang dibalik teleponnya.

AdamantineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang