Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 4 - Kedatangan

144 74 55
                                        

Aku harap aku bisa menghindarimu. Namun, kau selalu ada di tempat yang aku tuju.

***

Dia duduk dengan tenang menatap rintik hujan yang berada di jendela kaca taksi. Earphone terpasang dengan volume full kakinya bergoyang mengikuti musik yang tengah ia dengarkan. Ia membuka kancing tas kecil miliknya dan mengeluarkan notebook dan bollpoint miliknya. Perjalanan dari Bogor menuju Samarinda cukup melelahkan di tambah cuaca yang berubah ubah seperti mood-nya saat ini. Kini ia tengah menuliskan sesuatu di secarik kertas.

Memilih yang kosong
Meninggalkan yang berisi
Lepas... Bebas...Dalam satu tumpukan
Rapuh dan terberai

Kosong dan sepi
Terlatih dalam gelap
Terantuk dalam terang
Berwujud tanpa bayangan
Beraga tanpa jiwa
Kembali, kosong dan hampa

Sadarkah Guntur bergulat dengan petir
Tak ada arti
Tak ada makna
Terurai, kulai dan bergulir-lemah
Mengalur, meniti pusaran waktu

Liar tak terkendali
Budi juga tak berpekerti
Patuh, hanya sebuah mimpi
Tak ada lagi rasa dan juga asa
Sebuah puisi tanpa makna

Hanya hasrat dan goresan pena
Lepas, dan kembali bebas
Tanpa beban, dan tanpa batas
Merdeka dalam sebuah dimensi
Tak berakhir, tak berimbas
Mengalir... mengalir dan mengalir saja
Hingga titik akhir dunia
-AP -

Dia menarik napas panjang kemudian kembali memasukkan kan bollpoint ke dalam tasnya dan mengambil buku cinta dengan titik karya Bernard Batubara ke pangkuannya. Dia sangat menyukai penulis yang satu ini dengan cara pandangnya yang berbeda untuk melihat dunia, seakan mengetahui keresahan tersembunyi setiap orang; cinta, pernikahan, sahabat, karir, dan Ibu. Ia membaca setiap kata dengan seksama buku itu.

Kringg... Kringg...

" Halo "

" Iya, Ma? "

" Sudah sampai? "

" Belum, Ma. Tapi sebentar lagi sampai kok "

" Besok kamu sudah bisa kembali bersekolah-"

Gadis itu menarik napas panjang, lebih dalam. ' Oh, come on. Beri ruang untuk istirahat sebentar, Ma. Aku lelah' batinnya.

" Ingat belajar yang benar, jangan kecewain mama."

" Iya, Ma-"

tuttt...tutt.. sambungan terputus.

Ia menghela napas. Ini bukan kali pertamanya dia ke Samarinda. Dulu, waktu kecil dia tinggal di Samarinda hingga kelas 5 SD kemudian pindah ke kota Hujan, Bogor. Kali ini dia tinggal di rumah seorang nenek yang akrab dengan dirinya, bersama sahabat kecilnya dulu, Aliza. Setidaknya sedikit ketenangan dia dapat dari tinggal bersama seorang nenek mengingat dia dulu pernah punya nenek yang sangat menyayanginya. Memory ingatan terputar dikepalanya. Sebuah kenangan dimana dia masih berusia 8 tahun.

Tak sadar pipinya kini mulai basah karena air mata yang jatuh perlahan dari mata miliknya.

Aku rindu nenek, batinnya.

🍃🍃🍃


" Aku liat di buku profil sekolah ini ada ekskul PASKIBRA, kalo mau daftar sama siapa ya? " Ucap gadis itu kepada teman yang duduk di kanan bangku miliknya.

Dengan RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang