Chapter 1 - Manusia Bumi Datar

311 120 129
                                        

Berawal dari benci, berubah menjadi cinta pada akhirnya pahitlah yang didapat. Itu sebabnya aku tak pernah percaya dengan cinta.

***

Suasana tampak tak jauh berbeda dengan keadaan pada saat Daniel masih berada di SMP. Daniel tampak berjalan malas, ketika seorang guru berperut buncit memanggil seluruh peserta MPLS untuk segera menuju lapangan. Wajar saja sekarang tak ada istilah MOS untuk pelajar yang ada hanyalah Masa Perkenalan Lingkungan .

" Baiklah dengan ini saya nyatakan kegiatan MPLS resmi dibuka. Tuk tuk tuk~~"

" Masih lama? Bosan nih" sedari tadi Bapak tua itu terus saja mengoceh tapi tak satupun ucapan beliau masuk di telinga, Daniel. Matahari sudah mulai tampak meninggi, sinarnya Nampak menyeruak melalui rimbunnya daun pepohonan yang ada di SMA Negeri 4, Daniel terus memperhatikan sekelilingnya, ternyata sekolahnya yang sekarang itu benar - benar terlihat seperti hutan.

Kali ini giliran seorang perempuan yang nampak berusia 45 tahun bertubuh tinggi dengan lipstick merah yang sedikit absurd.

" Kamu, perempuan yang ada dibarisan belakang, sini maju" ucap Bu Mariana. Gadis itu Nampak bingung, dia menoleh ke kiri dan kanan memastikan bukan dia orang yang di maksud

" Kamu maju! " ucapnya lagi

" Saya, Bu?" gadis itu memastikan.

" Iya kamu, maju! "

gadis itu pun maju, Daniel memperhatikan dengan raut wajar datar tak ada yang spesial dari gadis, itu hanya manusia yang terkena hukuman.

"Ini nih contoh sepatu yang melanggar, jangan seperti dia" dan blablabla~~

ucapan itu bukan seperti peringatan melainkan sebuah hinaan untuk gadis itu, ia yang terlihat kesal lantas melirik sepatu milik Daniel, berwarna abu - abu juga. Garis wajahnya menggambarkan kebencian lantaran Daniel yang berada pada barisan paling depan malah tidak terkena hukuman.

"bodoamat sama gadis itu"

🍃🍃🍃

Setelah kegiatan MPLS berakhir sampailah pada acara puncak yaitu pentas seni. Pentas seni yang dilaksanakan ini bertujuan untuk masing - masing kelompok dapat unjuk kreatifitas.

Para bina damping mengarahkan semua peserta untuk menuju ke sebuah lamin yang berada di tengah kolam itu, cukup luas sehingga ratusan peserta dapat menempati ruangan itu termasuk para senior yang tak punya kerjaan selain main game, make-up, dan bergosip tentang gebetan baru para mantan .

Kelompok yang dipimpin oleh Daniel berhasil mendapatkan attention para penonton.

"WAH... LAGI! LAGI! LAGI! " teriakan penonton menggema di ruang lamin.

" Sekian dan terima kasih" tanda pentas telah berakhir.

"Ah.. ga asik banget sumpah!" teriak salah satu dari kerumunan senior yang merasa kecewa pentas seni telah berakhir, lebih tepatnya pentas seni yang ditampilkan oleh kelompok Daniel.

Tibalah pengumuman pemenang pentas seni kali ini, salah satu pemenangnya Kelompok yang dipimpin oleh Daniel sendiri.

" Oh iya nih kak, kita masih ada kategori lain loh yaitu kategori siswa ter-rapi "

Dengan RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang