Siapa yang harus bertanggung jawab ? Apakah gravitasi yang membuatku jatuh. Kepadamu.
🍃🍃🍃
Tentang apa ini, mengapa Daniel merasa aneh dengan apa yang ia rasakan ketika melihat Delisa pingsan kemarin, entahlah—khawatir, sedikit.
Ia menerawang keluar jendela menatap gelap malam yang dihiasi cahaya bintang dan rembulan, tenang, itu yang ia rasakan sekarang. Kata orang-orang yang punya masalah, yeah, untuk berfikir sejenak, mencari angin malam memanglah tepat, semakin larut udara semakin terasa meringankan beban meskipun hanya untuk sementara—setidaknya cukup. Angin menghembus tepat di wajahnya, sesekali dahinya mengerut dan dua jarinya memijat diantara dua alisnya . Ia tak ingin menebak – nebak apa yang sedang—sebenarnya ia rasakan.
Euforia sering terjadi ketika seseorang memiliki komunitas ; sekumpulan orang baru. Melakukan aktivitas bersama; makan bersama, jalan bersama, bermain bersama, bahkan hanya untuk sekedar mengobrolkan sesuatu—meskipun tak terlalu penting. Daniel pun merasakan hal yang sama, meskipun masih berbau positif. Setidaknya begitu yang ia rasakan. Ia bersama dengan kawan barunya senang sekali bertukar jawaban atas tugas yang gurunya berikan.
Bukankah kerjasama itu bagus? Meskipun ada pihak yang mengambil keuntungan dari ini, yeah, pihak yang hanya menunggu jawaban atas sebuah pertanyaan—memilih praktis.
Grup Voice call yang berjumlah 8 orang diantaranya Daniel dan Delisa saling bertukar jawaban, satu persatu anggota yang tadinya ikut bergabung kini memilih memutuskan sambungan untuk melakukan aktivitas mereka masing – masing; tidur, main game, pacaran dan hanya sekedar memutuskan sambungan karena tugasnya sudah selesai. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sungguh bagi sebagian orang semakin larut maka akan semakin bersemangat untuk mengerjakan tugas, rasa kantuk mulai berkurang. Biasa seniman yang melakukannya, untuk mendapat inspirasi. Tapi, sekali lagi udara malam sangat tak baik bagi kesehatan. Tidak bagi Daniel dan Delisa, mereka masih terhubung. Menyelesaikan tugas yang lain—yang perlu untuk diselesaikan. Yang mengerikan kegiatan seperti ini berlangsung selama seminggu lebih. Bosan. Mereka semua merasakan hal yang sama.
“ Jadi—“ Daniel bersuara. “ Gimana, kamu sudah mendingan ? “ Delisa sedikit berfikir memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Daniel, meskipun hanya sebuah pertanyaan sederhana, kata yang tidak tepat dapat memicu sesuatu yang tidak mereka inginkan.
“ Hum, begitulah. Fisik tadi ga mendukung, jadi—ya Mama Papa minta aku untuk berhenti, kan kasihan juga kalo aku selalu ngerepotin Mereka” Delisa menghela nafas. Daniel mendengarkan dengan seksama. Hening, sebenarnya Daniel tak ingin membuat Delisa sedih seperti yang tersirat dari nada suaranya, mereka dapat merasakan angin yang berhembus di sela daun telinga dan smartphone milik mereka, “ Dan, thanks sudah bantuin aku ” Delisa angkat suara Daniel terdiam sejenak kemudian tertawa kecil “ Kan kita—teman “ .
Entah mengapa kalimat barusan, kalimat yang Daniel katakan kan kita teman begitu asing di telinga mereka dan entah sejak kapan Daniel dan Delisa menjadi teman dan Sejak kapan Delisa menjadi tiba - tiba aneh—mendadak bersifat baik. Setelah semua permasalahan yang mereka alami dan yang akan mereka alami, setelah semua tatapan datar dan sinis yang saling mereka lontarkan dan sekarang mereka menjadi teman.
🍃🍃🍃
Teng...Teng...Teng
Mati listrik, hanya itu yang terpikirkan oleh siswa ketika mendengar lonceng besi dipukul untuk menandakan jam pelajaran telah dimulai.
Prakarya dan Kewirausahaan adalah pelajaran wajib yang membosankan dan mungkin penuh kebohongan. Ya, hanya untuk mendapatkan nilai sebagian orang perlu berbohong berkata ia telah menjualkan produk menawarkan jasa dan segala hal yang berhubungan dengan wirausaha mungkin lebih tepatnya dengan segala hal yang berbau keuntungan. Tapi, tak selamanya membosankan. Bagi sebagian orang yang lain—yang punya kreatifitas tinggi, ini pelajaran yang menyenangkan, lepas dari membosankan dan menyenangkan tentang pelajaran ini, dikemudian hari ilmu yang didapat akan sangat berguna. Buktikan saja.
Guru yang mengajar Prakarya dan Kewirausahaan adalah Ibu Shelvi, beliau masih muda namun sudah memiliki keluarga, rupa yang menawan, tubuh mungil serta nada suara yang, hum, sexy membuat siswa terkesiap untuk memulai pelajaran meskipun ruangan menjadi cukup panas karena mati listrik.
“ Jadi ibu minta sama kalian---“ suaranya begitu mendayu membuat siswa laki – laki semakin gerah.
“ Untuk membuat produk berupa benda untuk dijual dan dibikin laporan dalam sebuah makalah dan PowerPoint, nanti akan dipresentasikan” Lanjutnya.
🍃🍃🍃
menyapa tak selalu tentang cinta
barangkali kita bisa mengubah keadaan
bukan dengan kembali mengulang cerita
apakah salah jika menjadi seorang teman ?
🍃🍃🍃
Daniel yang baru saja datang dari kantin kini ikut berkumpul dengan kawannya yang sedang bermain mobile legend, tak ada earphone terpasang di daun telingannya, tak ada pula smartphone di tangannya, dia meninggalkannya di rumah. Sesekali dia melirik Delisa yang tengah asik membuat gelang untuk tugas Kewirausahaan raut wajahnya tampak serius.
“ Kamu ga main, Dan ?“ tanya Argo Devantara kerap disapa Devan, salah satu teman Daniel yang juga tergabung dalam ekskul PASKIBRA.
“ ga dulu deh, aku ga bawa Smartphone “
Bukan hal yang janggal jika kerap kali ia meninggalkan smartphone miliknya, ia punya alasan tertentu untuk hal itu. Bukankah smartphone hanya mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat? Dan bukankah pancaran radiasi dari smartphone bisa membahayakan otak? Bagaimana jika bukan hanya otak tapi juga hati, menjadikan Daniel orang yang tak punya hati. Bisa saja. Terkadang mereka yang terlalu berkutat dengan smartphone bisa menjadi lupa diri.
“ Eh, ini. Tadi aku pinjam Smartphone Delisa, kamu pake aja, biar aku pake punya ku sendiri” ucap Derry. “ Vey, Daniel boleh ga pinjam Smartphone mu ? “ Lanjutnya yang hanya dibalas Delisa dengan anggukan kecil dari.
Derry menyerahkan Smartphone milik Delisa ke tangan Daniel, yang tentu saja langsung disambutnya. Jarang – jarang-kan di smartphone seorang perempuan ada game seperti itu bahkan kalo ada cuman dimainkan sekali dan jadi pajangan dan mungkin ada yang serius untuk memainkannya.
Daniel mengambil posisi duduk tepat di sebelah bangku tempat Delisa duduk, tempat dimana ia dengan raut wajah serius merangkai gelang untuk tugasnya. Daniel asik memainkan game dengan teman – temannya.
Daniel kembali memperhatikan wajah Delisa—terlihat lucu. Ia berdehem tak lama kemudian terdengar suara berat “ Buat gelangnya dua ya, biar kita couple-an” ucapnya yang tentu saja mengarah langsung ke gadis yang sedang membuat gelang tepat di sebelahnya. Pipi Delisa menjadi merona, tampak senyum malu mulai mengembang, senyum yang manis, yang dulu penuh misteri, senyum yang kini nampaknya membuat Daniel lebih bersemangat.
Daniel melihat Delisa tersenyum dan entah mengapa kini ia juga ikut tersenyum—mereka tersenyum.
🍃🍃🍃
Delisa ternyata menganggap serius ucapan Daniel kemarin, tentang sepasang gelang, tentang gelang yang ia buat. Ia datang menghampiri Daniel yang tengah duduk dibangku miliknya, ia melihat Daniel yang tengah serius mendengarkan musik lewat earphone yang terputar melalui smartphone miliknya.
Daniel melihat sosok yang tengah berada di hadapannya, gadis itu tersenyum. “ Dan, ini gelangnya “ ia bersuara. Kening Daniel berkerut menandakan suatu yang tak disangka - sangka olehnya—Delisa menanggapi perkataannya kemarin dengan serius. Perkataannya tentang sepasang gelang dia dan Daniel.
“ Ga. Aku bercanda aja ” Daniel memilih kata yang tepat.
“ Udah pake aja ”.
Mereka tersenyum—bersama.
🍃🍃🍃
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengan Rasa
Teen Fiction[ bagian dari Buku Untukmu karya @DvyOktvia28 ] mengapa rasa ini harus hadir dan membuat kita bersama jika pada saat yang bersamaan rasa itu juga membuat kita berakhir, membuat kita seperti dua manusia yang tak pernah mengenal. Kemudian kita saling...
