Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 6 - This Is Bad

76 16 11
                                        

Sesuatu yang berusaha kau hapus perlahan akan kembali muncul mengganggumu, seperti kenanganmu dengan dirinya.

---

“ Sudah jangan lama – lama di tatap nanti kamu suka sama Delisa ku “ Ucap Derry melantur dan berusaha menarik tangan Delisa menjauh. Ia tak suka Delisa bersama dengan Daniel terlebih Derry pumya perasaan lebih pada Delisa bukan sekedar becanda—ia ingin lebih dari teman. Tentu saja Delisa tak menyukainya terlebih dengan sikap Derry yang sangat mengganggu baginya dan Derry masih memiliki kekasih—dasar buaya darat.

“ Lepasin aku ! “

“ Cocok anjir, sama – sama gatel ! “ ucap salah seorang yang tengah menyaksikan mereka.

“ Dasar pelakor ! sudah tau Derry punya pacar masih aja centil jadi perempuan ! “

Delisa hanya bisa diam seribu bahasa, ia tak mengerti harus berbicara apa bahkan bukan dia yang sebenarnya mendekati Derry melainkan Derry sendiri lah yang mendekatinya, Delisa sendiri pun sudah memberikan Isyarat akan ketidaksukaannya terhadap sikap yang ditujukan Derry kepadanya, namun karena ia seorang teman dia harus bersikap cuek.

“ hmm, gitu kah permainan. Kok mau sih jadi selingkuhan ? “ Sarkas Daniel.

Semuanya menjadi memanas bahkan Derry pun marah besar. Ucapan Daniel selalu sarkas namun di setiap kata terdapat banyak makna, tak semua orang paham dengan ucapannya. Daniel menyadari kata – katanya barusan tak dapat dicerna orang – orang yang ada di dalam kelas itu dengan baik, termasuk Delisa—apa yang akan dipikirkan Delisa nanti.

Sahabatnya datang dengan tatapan penuh amarah terhadap Daniel dan menarik keluar berusaha menjaga Delisa tetap tenang.

🍃🍃🍃

Tak banyak hal yang dapat dilakukan oleh Daniel selain menyadari kebodohannya mengucapkan kata – kata yang tak seharusnya ia ucapkan di hadapan gadis bernama Delisa itu, apa yang akan ia pikirkan baru saja mereka menjadi teman kini semuanya akan kembali merenggang. Sesakit apa hati Delisa mendengarkan kata-katanya barusan, apakah lebih dari seseorang yang baru saja jatuh hati kemudian harus berakhir pada saat itu juga. Mengapa ia diam saja tanpa ingin membalas makian banyak orang di kelas, bukankah dia gadis yang tangguh.

Cara apa yang harus di tempuh untuk meminta maaf kepada Delisa, apakah harus secara langsung, bukankah nanti ia akan dianggap sebagai orang yang tak punya perasaan, dimana ia barusan saja melukai perasaan seseorang kemudian datang dan tiba-tiba meminta maaf. Bagaimana jika menelpon Delisa, ah—tidak itu bukan ide yang bagus nanti Delisa tak akan menjawab panggilan dari Daniel.

‘ kok mau sih jadi selingkuhan ? ‘

Perasaan bersalah macam apa ini, sungguh tak akan ada yang menduga akan menjadi seperti ini sebelumnya bahkan mereka tersenyum bersama dan memakai gelang yang sama lalu tiba-tiba kedatangan Derry yang membuat semuanya menjadi kacau andai saja Daniel tak berkata seperti itu dan membiarkan Delisa sendirian dihujat orang banyak meskipun tak lama sahabatnya datang, bukankah sangat menyakitkan.

Selang waktu Hujan turun, rintiknya sangat menengankan pikiran. Saat yang lain membenci Hujan Daniel menjadi salah satu yang menyukai Hujan dari seribu orang di dunia yang membenci Hujan, kata mereka Hujan hanya membangkitkan kenangan yang ingin dilupakan, bahkan ada yang membenci Hujan hanya karena harus menunggu Hujan reda untuk melanjutkan perjalanan mereka padahal mereka bisa beristirahat sejenak melupakan bebannya di bahu tak tak pernah mereka beritahu. Jika saja mereka meluangkan waktunya sebentar melihat lebih dalam untuk dapat mensyukuri Hujan.

“ Delisa, maaf “ ia menatap ke arah gelang yang ada di tangannya dan kembali melangkah mengambil Smartphone miliknya yang terletak di atas meja, di bukanya  aplikasi Line untuk mengirimkan pesan kepada Delisa.

Anda :
Delisa ?

dengan ragu ia mengirimkan sebuah pesan melalui Line. Ia mengira Delisa tak akan membalas bahkan ia berfikir Delisa akan segera men-delete pesan yang baru saja masuk ke Smartphone miliknya. Semenit kemudian Delisa membalas.

Delisa :
Apa ?

‘ selemah ini kah aku ? meminta maaf dari Handphone. Tidak, aku bukan manusia seperti itu ‘

Anda :
Nggak  jadi.

Permasalahan ini tak seharusnya memenuhi pikiran Daniel tak seharusnya menjadi serumit ini untuk meminta maaf—hanya sebuah maaf yang di ucapkan lalu permasalahan yang tengah terjadi akan selesai begitu saja dan kini pesan yang ia kirim ke Delisa memenuhi ruang pikirannya.

“ Sudahlah, musik lebih menenangkan “ ia larut dengan earphone di telinganya.
Hujan, malam dan musik adalah 3 hal menyenangkan di saat menyebalkan seperti ini jika kau punya selera yang bagus terhadap keindahan.

🍃🍃🍃

Gadis itu menatapnya, ‘Apa dia masih marah ? ‘ Daniel juga melihat sekitarnya masih banyak tatapan sinis terarah ke Delisa, gadis itu tak salah dia hanya berada di tempat yang salah dan dekat dengan orang yang salah. Dan ternyata Derry tak henti – hentinya mendekati Delisa tentu saja hal itu membuat Delisa semakin muak dengan tingkah sok kegantengan yang dilakukan oleh Derry. Sungguh aneh rasanya berada di ruangan yang sama namun tak saling menyapa, seperti sepasang kekasih yang baru saja mengakhiri hubungannya—ada semacam rasa canggung.

Dengan RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang