Part 02__♧ Lorong Sepi ♧

237 30 3
                                    

Tangan Jiho bergerak lincah di layar ponsel, matanya mengawasi setiap foto yang di lewati di sana. Berharap mendapatkan foto sempurna yang 'agak' berbeda malam ini.

"Hmmm..." Jiho sedikit jenuh saat ini. Pasalnya, tiada satu pun foto yang cocok untuk dilukisnya malam ini, kecuali...

"What the f-"

Demi seisi langit dan isinya. Manusia macam apa yang punya tampang sesempurna ini? Malaikat, kah?

Dimana letak kejelekannya kalau memang manusia itu tidak ada yang sempurna?

"Jung Jaehyun..." gumam gadis itu pelan, nyaris tak terdengar.

Tak... tak...
Braakk!

Tanpa sadar, tangan Jiho yang terbebas sudah menggeledah meja disamping ya, bahkan membiarkan pot bunga berukuran mininya jatuh demi menemukan sebatang pensil yang sebentar lagi akan di gunakan untuk menggambar wujud paling sempurna ini.

Dan Jiho akui,



























































































































































Shawn Mendes lebih ganteng.

No, maksud Jiho tuh... mau rupa malaikat, mau rupa macam dewa dewi pun yang namanya suami, Jiho nggak bakal oleng sedikit pun dari Shawn oppa dan Jiho nggak akan semudah itu jatuh hati ke cowok lain selain dia.


"Argh... kira-kira kamu bakal kecewa nggak, ya, kalau aku ngelukis seseorang selain kamu, mas?" Homescreen di ponselnya ia usap penuh kasih sayang, rasanya hati Jiho akan terpatah menjadi dua. Gara-gara laki-laki itu! Jiho absen untuk melukis suaminya malam ini.

/plis ajg gw ngetikny smbil nahan muntah/
/eh jangan/
/soalny klo beneran muntah yg keluar paku sama kaca/

🍑🍑🍑

"Ok sip," Jiho tersenyum puas, lalu meletakkan kuas kesayangannya dengan berhati-hati.

Jiho memegang perutnya yang berbunyi, sesaat setelah ia meletakkan dan memastikan kanvas itu bertengger dengan rapi di atas laci untuk dokumen-dokumennya. Letaknya tidak terlalu tinggi dan mudah di gapai untuk laci paling atas.

Cantik sekali, sangat pas di sandingkan dengan rumput hias cantik berukuran mungil yang ditanam sedemikian rupa di sebuah pot kecil, berdiri di samping lukisan indah itu.

Dengan langkah santai, cewek itu berjalan keluar dari kamarnya. Begitu sampai di tujuannya, laci snack pun menjadi pusat perhatiannya pertama kali.

Jangan lupakan kulkas yang menyimpan berbagai makanan lezat, termasuk sekotak es krim yang di belinya lusa yang lalu.

Dan malam ini, secangkir coklat panas menjadi keputusannya untuk mengganjal perutnya yang demo meminta sesuap makanan.

200th Prince {REVISI}Where stories live. Discover now