Chapter 6

198 15 2
                                    

           

"Selamat pagi," sapa Vivi begitu semangat di hari Senin. Mendengar sapaan Vivi, otomatis membuat beberapa orang membalas sapanya termasuk Ella, hanya saja Ella langsung menundukan kembali matanya ketika ia melihat Fihan di kelas itu. Fihan ikut mengantar Vivi masuk kelas, tidak seperti biasanya. "Duduk sini sayang, Chaca belum datang juga," suruh Vivi.

Fihan menuruti perkataan Vivi. "Hai, La?" sapa Fihan, ia tersenyum pada Ella.

Ella membalas senyum Fihan dengan simpul.

"Stevan mana, La?" tanya Vivi.

"Oh.. dia keluar, nggak tau ke mana," jawab Ella sedikit kaku, ia masih teringat kejadian kemarin. Ella kembali memfokuskan tatapannya pada hape yang ada digenggaman tangannya.

Tak lama Ella menjawab, dari arah luar Stevan terlihat berjalan memasuki kelas. Ia membawa sebuah roti di tangan kanannya, semakin lama ia semakin berjalan mendekat ke arah bangku duduknya. Namun tatapannya menjadi dingin ketika melihat ada Fihan di sana.

"Hai, Van?" sapa Fihan sok kenal, Stevan tak membalas sapaan Fihan. Ia berlalu berhenti disebelah meja Ella.

Stevan meletakkan roti yang dibelinya diatas meja Ella. "Makan!" perintahnya dingin, lalu duduk kembali di kursinya yang tak jauh dari kursi Ella.

"Van, kok jutek banget sih sama Fihan!" sahut Vivi, ia merasa kesal pada Stevan karena menurutnya Stevan selalu dingin pada pacar kesayangannya.

Stevan tidak merespon, ia hanya menatap Vivi sebentar lalu membuang muka.

"La, temenmu tuh bilangin dong jangan jutek gitu ke pacar aku. Aku nggak suka!" ujar Vivi lagi kepada Ella.

"Udah sayang nggak pa-pa," sambung Fihan. "Aku ke kelas dulu ya, nanti istirahat kita ketemu. See you, beb." Fihan mencubit pipi kanan Vivi terlebih dahulu kemudian pergi.

Vivi mendengus kesal. "Kalian kenapa sih kayaknya nggak suka banget sama Fihan? Kalian nggak suka aku pacaran sama dia?"

"Upsss.. apaan nih pagi-pagi udah rame?" sahut Justin yang baru saja datang.

"Ini loh Stevan sama Ella, kayaknya nggak suka banget sama Fihan!" cerita Vivi, mencari pembelaan.

"Ah perasaan lo aja kali, Vi," jawab Justin santai. Ia duduk di bangkunya. "Ya kan cantik?" tanya Justin sekaligus menggoda Ella.

Ella mengangguk.

Randy dan Chaca terlihat datang bersama, entah kenapa beberapa hari terakhir ini mereka sering sekali bersama. Walau sudah bersahabat sejak semester satu, Ella maupun Justin merasa ada yang aneh diantara keduanya. Sesuatu yang ada ditengah-tengah Randy dan Chaca mengganggu Ella, Ella memejamkan matanya. Ia tak sanggup melihat penghuni sekolah paling mengerikan yang ditemuinya saat ajang pemilihan King and Queen waktu itu. Walau ia menutup matanya, auranya tidak bisa di tahan. Semakin dekat semakin membuat Ella merinding, sampai-sampai Ella meletakkan kepalanya diatas meja.

"La, kamu kenapa kita datang kok malah sembunyi?" tanya Randy.

"Tau, liat kita kaya liat jin aja," sahut Chaca sambil bercanda.

Vivi tak banyak komentar, ia hanya diam walau ia ikut menyaksikan kelakuan Ella.

Ella hanya tertawa kecil merespon pertanyaan teman-temannya, ia masih meletakkan kepalanya diatas meja dan menutup matanya.

"Aku harus gimana! Aku harus gimana? Aku bener-bener nggak tahan liat makhluk berbadan hitam yang satu ini, Tuhan!"

Sampai jam masuk kelas berbunyi, Ella masih seperti itu. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia belum berani mengangkat kepalanya walau ia rasa aura negatif tersebut sudah menjauh darinya.

I Hear Your EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang