Kenangan yang Terbakar

16 5 0
                                        

Di sebuah kantin SMA Sihir Loisghellious. Reiz bersama teman-teman barunya sebanyak 3 orang, bersantai dengan mengobrol satu sama lain.

"Apakah aku boleh tanya sesuatu?" kata Reiz.

"Tentu saja." jawab Lion seorang laki-laki bertubuh kekar dengan rambutnya yang panjang.

"Aku dengar-dengar bahwa kakuatan cahaya adalah kekuatan yang terkutuk." tanya Reiz.

"Benar, tentu saja kamu belum tau hal ini karena kau dari luar. Jadi awalnya kota ini dilindungi oleh para penyihir cahaya karena kekuatan mereka yang sangat kuat. Namun,mereka berbuat seenaknya pada masyarakat dengan memperbudak masyarakat yang tidak memiliki sihir. Pada akhirnya penyihir yang memiliki kekuatan kegelapan yang menolong manyarakat yang diperbudak itu. Oleh karena itu seseorang yang memiliki kekuatan cahaya dianggap hina." cerita Lion.

'Berbeda sekali dengan para pengguna kekuatan cahaya yang berada di kotaku sebelumnya yang selalu berbuat baik dan paling disegani.' batin Reiz.

"Hmm,lalu aku mendengar seorang cewek berbicara bahwa nilainya 0 semua tapi ia tidak dikeluarkan, bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Reiz.

"Kalo itu biarkan aku yang menjelaskannya. Di kelas CE atau Class Elite hanya berisi orang-orang yang khusus. Si wanita terkutuk itu juga termasuk karena kekuatannya saat tes masuk sangatlah besar. Namun karena itu semua jadi tau bahwa kekuatannya adalah cahaya. Dan setelah itu ia selalu dicaci maki dan dikucilkan. Namun kepala sekolah tetap membiarkan dia berada di sekolah karena kekuatannya. Dan juga sebenarnya ia sangat cerdas tapi seperti yang kau dengar tadi ia membuatnya menjadi 0. Sepertinya kepala sekolah terlalu percaya padanya." jelas salah satu teman Reiz yang berkacamata bernama Nino.

'bukankah ini namanya diskriminasi?' batin Reiz lagi.

"Jadi begitu,trimakasih udah mau menjawab pertanyaanku tadi." kata Reiz.

Lion menepuk pundak Reiz.

"Tenang aja bro. Kalo mau tanya sesuatu lagi bisa taya sama kita lagi,kita pasti akan jawab kok." kata Lion sambil tersenyum lebar.

Jam pelajaran pun selesai. Semua siswa berhamburan keluar dari sekolah.

Sama halnya dengan Shannon. Ia kembali ke kelas lalu mengambil kembali tasnya dan pulang. Ia menuju ke arah halte bis yang menuju desa Surasa.

Saat perjalanan ke halte ia melihat sebuah toko yang menjual roti tart dengan lapisan coklat. Shannon pun tersenyum lebar.

'Kubelikan untuk bibi Fatih ah,lagi pula hari ini bibi ulang tahun kan.' batin Shannon.

Shannon pun pulang dengan hati yang sangat gembira. Sebuah kue coklat bertuliskan Fatih Laili itu ia peluk dengan kedua tangannya agar tidak terjatuh.

Akhinya Shannon pun sampai di halte desa Surasa.

Terlihat gumpalan asap tebal didepan Shannon.

"Asap?a,arah itu?" kata Shannon tersendak.

"Tidak mungkin, Tidak!" teriak Shannon.

Shannon langsung melangkahkan kakinya menuju arah asap itu dengan berlari. Ia menjatuhkan roti coklat itu di jalan.

Sesampainya di tempat sumber asap, terlihat api yang menyala besar membakar hangus sebuah rumah besar.

"Bii,Bibi Fatih! Kau dimana?" teriak Shannon.

Bukannya bibi Fatih yang terlihat, malah seorang laki-laki keluar dari kobaran api.

"Hai tuan putri Ilya L Kasis. Aku adalah Leonardo Sith penyihir api nomer 1 di kota ini. Kupersembahkan hadiah ini untukmu." kata laki-laki itu.

"Bibi Fatih,DIMANA BIBI FATIH!" Teriak Shannon.

"Tentu saja terbakar di dalamnya juga tuan putri." kata Leonardo.

"Tunggu tuan putri,tidak hanya itu, semua orang di desa ini sudah mati semua dengan sihir es ku,perkenalkan saya George Sith penyihir es nomer 1 di kota ini." kata laki-laki lain.

"DIAM KALIAN AKU BUKAN ILYA LAGI!DAN AKU BUKAN TUAN PUTRI LAGI!"

"AAA!!!" teriakan Shannon memenuhi desa itu.

Sebuah cahaya kecil dari tubuh Shannon berangsur menjadi besar,cahaya itu menyinari semua tempat di bumi ini. Pupil mata Shannon menjadi putih bersinar.

"Orang yang menyakiti orang yang kusayangi harus mati!" kata Shannon.

Setelah kilatan cahaya itu, Shannon mengeluarkan banyak pedang dari udara di sekitarnya. Pedang itu langsung mengarah pada Leonardo dan George. Leonardo dan George mencoba menghalangi serangan pedang-pedang itu, Namun gagal. Pada akhirnya mereka tertusuk mati oleh pedang Shannon.

Setelah itu Shannon langsung menerobos masuk kedalam rumah besar itu yaitu panti asuhan yang terbakar.

"Bibi Fatih,Edn,Lim,Gissele,Card,Roy. Kalian dimana?" kata Shannon.

Bongkahan kayu dan tembok muali runtuh. Shannon menahan runtuhan yang akan jatuh padanya dengan pedang yang melayang disekitarnya.

Wanita dengan cadar dan baju hitam terbaring dengan darah sekitarnya.

"Bibi Fatih!"

Shannon berlari mendekati perempuan itu.

"Sadarlah bi!Shannon ada disini. Jangan tinggalkan Shannon bi!"

Shannon terus menerus menggoncangkan tubuh wanita itu,dengan harap ia akan sadar.

Tak lama kemudian sebuah tabgan yang memegang kotak besar bergerak menuju pipi Shannon yang penuh dengan air mata dan mengusapnya dengan halus.

"Shannon,jangan menangis. Mungkin ini waktunya untukmu pergi. Jadi terima ini. Dan jalani kehidupanmu dengan kebahagiaan." ujar wanita itu.

Tangan wanita itu jatuh tanpa tenaga.

"Bi,Bibi,Bibi!" teriak Shannon.

"Kenapa jadi seperti ini!apa salah mereka? Bukan,ini salahku, seandainya aku tidak ada disini!" kata Shannon

Penyesalan-penyesalan pun terucap dari mulut Shannon saat itu.

"Kenapa aku tak boleh bahagia?" kata Shannon.

Shannon pun kehilangan kesadarannya dan tubuhnya terjatuh tepat disamping wanita itu yaitu bibi Fatih.

I'm a Black CatCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang