"Qomarun... qomarun....!" Terdengar nada dering Khansa berbunyi.
"Rizal!"
"Assalamu alaikum." Salam Rizal.
"Walaikum salam, ada apa menelfon malam-malam gini?" Tanya Khansa.
"Em, besok aku sudah mau berangkat."
"Berangkat kemana?"
"Ke hatimu.... hehehe..."
"Kak aku serius, kalau gitu telfonnya aku matiin nih!"
"ke pondok, mohon doanya yah! Supaya cepat selesai dan segera meminang kamu!"
"Iya, Amin.... Tapi kak niatnya harus karena Allah. Berhijrah karena Allah jangan karena aku."
"In sya Allah! Kamu lagi ngapain?"
"Cuma duduk-duduk aja, kalau kakak?"
"Lagi mikirin kamu!"
"Haha... bisa aja!"
"Iya, betul..."
"Kak sudah dulu yah, soalnya aku mau murojaah dulu!"
"Iya."
"Assalamu alaikum."
"Walaikum salam."
"Khansa, itu siapa?" Tanya Rofiqo.
"Em, Rizal!"
"Oh, pasti dia besok ke pondokkan!" Tebak Rofiqo.
"Ehm, iya. Kok kakak tau?"
"Dari Habibiku!"
"Oh!"
"Kata Amar, Rizal besok mau diantar pake mobil Amar, Amar mengajak aku dan kamu juga ikut antar Rizal ke Pondok!" Jelas Rofiqo.
"Kok, aku juga ikut?" Tanya Khansa heran.
"Ngak tau, ikut aja!"
"Baiklah!"
~¤~
Langit tiba-tiba begitu mendung. Cahaya matahari telah tertutup oleh awan hitam, menandakan hujan deras akan turun.
Rizal yang sedang duduk diteras rumahnya, dengan kesal melihat langit begitu gelap.
"Duh, mau hujan lagi, malah Amar belum datang!" Keluh Rizal sambil melihat jam di tangannya.
"Mas, masuk saja dulu, tunggu hujan redah saja baru pergi!" Ucap Asisten rumah tangga Rizal.
"Baiklah! Mba buatkan aku teh hangat yah!"
"Iya!"
"Assalamu alaikum." Salam Amar.
"Walaikum salam." Jawab salam Rizal sambil membuka pintu.
"Maaf, agak lama sedikit, karena habis menjemput dua bidadari."
"Hem, ngak apa. Terus mana dua bidadarinya?"
"Ada di mobil. Ya sudah ayo cepat!"
"Baiklah! Mba aku pergi dulu yah!"
"Iya. Hati-hati mas."
"Salam buat Papa yah! Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam!"
"Wah! Hujan deras banget!" Ucap Amar berlindung di balik jeketnya.
Mereka pun berlari masuk ke mobil.
"Huf!" Ruzal pun duduk di depan kemudian sedikit mengeringkan celananya.
"KHANSA!!! Rofiqo!" Ucap Rizal kaget.
"Kenapa?" Tanya Amar.
"Tidak, cuma kaget aja!"
"Inilah dua bidadarinya!"
"Oh.."
Mobil pun berjalan, tanpa ada percakapan lagi hanya ada suara gemuru guntur dan hujan yang begitu deras.
Amar sedikit mulai membaca hafalannya sambil menyetir mobil.
"بسم الله الرحمن الحيم اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا (14) "
Quran surah :Al Isra.
" مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا (15)"
sambung Rofiqo.
"وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16)" sambung Khansa
"Masya Allah.. jadi pengen sambung juga tapi, belum hafal!" Ucap Rizal.
"In sya Allah kamu aku hafal juga kok!" Ucap Amar.
"Amim... doakan yah!"
"Iya kami doakan kok! Yang penting kamu sungguh-sungguh menghafalnya.
"Iya."
"Sudah sampai!" Ucap Amar. "Ayo turun!"
Mereka pun turun. Hujan juga sudah redah tapi lagi langit masih mendung.
"Assalamu alaikum, Ustadz Zul!" Sapa Amar sambil mencium tangan sang ustadz.
"Walaikum salam, Amar!" Jawab Salam Ustadz Zul.
"Ini ustadz teman saya mau mondok!" Ucap Amar.
Rizal pun mencium tangan ustadz.
"Namanya siapa?" Tanya Ustadz Zul.
"Muammar Rizal!"
"Oh, perkenalkan nama Ustadz Zulfikar."
"Iya."
"Ustadz perkenalkan ini istri saya Rifiqo. Dan adik ipar saya Khansa." Ucap Amar memperkenalkan mereka berdua.
"Wah, hebat sekali kamu Amar, kamu sudah melambung ustadz mu ini!" Ucap Ustadz Zul.
"Heh, bisa aja ustadz!. Ustadz kami pulang dulu yah! Zal, belajar sungguh-sungguh yah!"
"Iya."
"Assalamu alaikum."
"Walaikum salam!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hijrah Cinta || SELESAI ✔️
Teen FictionCINTA TERBAIK adalah ketika kau mencintai seseorang kekasih yang membuat imanmu mendewasa... takwamu bertumbuh... cintamu kepada Allah bertumbuh... CINTA TERBAIK adalah saat kau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu semakin indah, jiwamu semakin...
