Kamu terlalu pandai menaruh hati,
Aku yang tak tahu cara menikmati hati,
Hanya bisa bertahan tanpa berpindah hati.
****
Benar-benar sial untuk hari ini. Mereka tak pernah menyangka jika apa yang mereka peroleh bukan yang mereka inginkan. Pasti Bu Indah sudah mengecap Febrisya dan Arsy sebagai murid bandel saat masuk kelasnya.
Arsy masih merutuki nasibnya, duduk berdiam diri di bangku pojok padahal pembelajaran kimia telah usai. Febrisya yang juga mengaku salah kini menenangkan perasaan Arsy.
Untung saja Alia hari ini tidak masuk, jika masuk mungkin ia tak tahan akan cerita ini dan mungkin bisa tertawa terguling-guling.
"Udah Sy, gue juga kena hukum. Jangan difikir terlalu dalem ya."saran Febrisya pada Arsy. Namun Arsy tak memedulikan perkataan Febrisya.
"Sy, jangan gitu dong." mohon Febrisya dengan tangan permohonan dan nada memelas.
Arsy yang semula menatap bangku mengarah ke bawah kini menatapi Febrisya dengan helaan nafas
"Itu udah terlanjur Sya. Masalahnya sekarang Kak Nazril udah 4 minggu nggak ngabarin gue."jelas Arsy
"Jadi lo tadi liatin bangku cuman buat liat hp?" pertanyaan Febrisya membuat Arsy mengangguk.
"Wah parah lo. Jadi setelah diomelin tadi lo masih sempet buka hp?"
"Hehe" mendengar kekehan Arsy, Febrisya menganggap bahwa temannya ini tidak waras
"Nggak abis pikir yaampun Arsy, terus didepan tadi kenapa sok-sok an nangis?"
"Itu mah sandiwara elah Sya, skenario gue bagus kan?" perkataan Arsy membuat Febrisya menoleh yang sebelumnya menatap hp Arsy.
"Sandiwara gundulmu, kita aja nggak dimaafin ..subhanallah." tegas Febrisya sembari mengelus-elus dada.
"Terus gimana nih Sya, 4 minggu." Arsy menodongkan chat nya bersama Kak Nazril memang sudah lama Kak Nazril tidak mengabari Arsy.
"Yaelah Sy, dia kelas 12 wajar lah punya mimpi. Kata lo dia kepengen jadi dokter terus lo pengen ngintili dia jadi perawat. Ya siapa tau besok kalian se-rumah sakit."
"Gitu amat sih Sya basa lo. Pasti Alia kan yang ngajarin."
"Sebagian sih."
"Orang banyak halu lo ikutin." Arsy menepuk tangannya di dahi setelah mengetahui banyak bahasa Febrisya yang kurang berkenan jika didengar.
"Omong aja sebulan nggak ngabari lo, pakek embel-embel 4 minggu segala."Febrisya memutar bola mata malas.
"Buat Arsy 4 minggu bukan 1 bulan."Arsy berbicara dengan belagak dengan penuh kebijakan.
"Eh kalian tadi gimana sih kok bisa kena hukum?" Tanya Hasna tiba-tiba nyelonong datang, sekarang berada diantara Febrisya dan Arsy.
"Gue kayak mendengar sesuatu gitu ya." ucap Febrisya menoyor lengan Arsy.
"UKS yuk Sya, ngantuk nih gue." ajak Arsy menarik tangan Febrisya menuju UKS.
"Burem ya mata lo pasti. Gue tanya baik-baik malah dikacangin." protes Hasna terhadap keduanya. Memudarkan niat keduanya pergi ke UKS.
"Lo sih gak mau ngomongin kalo sedari tadi Bu Indah liatin gue. Gue gak akan kena hukum kan."protes Arsy Menjadi-jadi
"Kok jadi salahin gue sih?Orang kalian berdua kok bicara kayak toa." ucap Hasna tak ingin mengalah.
"Udah salah semua nggak usah nyalahin orang lain." pertegas Febrisya mencoba melerai keduanya.
"Di perpus tadi lo ngapain aja sama Kak Randi, dia ngapain lo?" tanya Hasna keheranan
"Eh Sya, itu pertanyaan gue tadi. Sekarang jawab." celetuk Arsy.
"Lo pikir gue dicium gitu sama Kak Ran?" jawab Febrisya membuat Arsy dan Hasna menoleh dengan membulatkan mata padanya.
"Jadi, lo nggak perawan lagi dong." Jawab Arsy kian menjadi-jadi. Mendengar hal tersebut Hasna menoyor kepala Arsy membuat Arsy meringis kesakitan.
"Paan sih Has, maksud gue tuh pipi Febrisya udah nggak perawan lagi." jelas Arsy pada keduanya
"Lo sih sok-sok an pakek bahasa bejat gue jadi tutup kuping deh." ucap Hasna
"Apaansih, kok jadi cium-cium gini masalahnya. Gue cuma dibantuin bawa buku aja." jelas Febrisya agar tidak menimbulkan fitnah yang menyebar.
"Sampek kelas wajah lo merah ya gue kira lo sakit atau dicium sama--"
"Nggak ah. Gue gak peduli." Perkataan Febrisya memotong pembicaraan Arsy yang sembarang menuduhnya
"Yang sekarang tak peduli, esoknya akan mengkhawatiri." Ucap Hasna dengan nada bijaknya.
"Bucin ah lu, sono gue gak mau temenan sama bucin kayak lo." tangan Arsy dengan menyuruh Hasna seakan pergi dari tempat duduknya.
"Gue punya kaca, gue pinjemin nih." Sindir Hasna pada Arsy
"Bacot deh kalian. Sehari diem bisa nggak." perintah Febrisya
"NGGAK." ucap Hasna dan Arsy bersamaan meninggalkan Febrisya yang masih duduk di bangkunya.
---
Jam sekolah yang telah selesai, Febrisya masih di kelas mencatat bab-bab yang belum ia mengerti. Arsy dan Hasna sudah pulang terlebih dulu karena tugas kelompok.
Selesai dengan tugas dan kewajiban nya di sekolah, ia tak langsung pulang malah membuka hp nya. Ia melihati banyak video pertandingan tentang karate, dan menge-stalk-i cogan yang ada di sekolahnya. Mumpumg ada wifi sih ia memanfaatkan, kalau dirumah sinyal susah untuk dicari.
Febrisya terkejut melihat foto dimana Aldan adalah alumni dari sekolah smp-nya. Rupanya yang ia fikirkan dari Aldan pertama kali adalah seperti pernah bertemu tapi entah dimana.
Dulunya Aldan adalah Kakak kelas Febrisya saat di Bandung, hingga sekarang dipertemukan lagi juga sebagai kakak kelas. Febrisya banyak mendengar rumor jika Aldan tak setia dengan satu perempuan, membuat baper banyak perempuan, tanpa memikirkan akhir dari tindakannya. Ya itu hanya sebatas rumor sih, Febrisya tak tau betul, apalagi semasa SMP ia tak terlalu akrab dengan Aldan. Mungkin Aldan juga tak mengetahui keberadaan Febrisya dulu.
Febrisya terlalu banyak mencari tahu akun kakak kelasnya, tanpa disadari terdapat chat di notifikasinya.
Randi
Beraninya nge-stalk doang
Febrisya
Beraninya bacot doang
Randi
HP gue canggih, bisa gue tebak tadi lo buka IG gue
Febrisya
Pekerjaan gue banyak, lo bukan yang terutama
Memang benar jika Febrisya membuka sosmed Randi, namun hanya selang beberapa detik. Memang hp sekarang sebegitu canggihnya?
Randi
Ngode terus, gue udah didepan kelas lo.
Febrisya membuka chat an dari Randi menjadi linglung dan berjalan ke arah depan pintu memastikan keberadaan Randi. Namun Febrisya tak mendapati keberadaannya
Randi
Gue bercanda, pasti lo lagi nyariin gue kan?
Pesan dari Randi tak lagi dihiraukan oleh Febrisya membuatnya sebal saja. Ia kembali ke bangku mengemas buku dan bersiap untuk pulang.
Baru kali ini ia dibohongi oleh Randi. Di depan pintu dengan langkah tergesa-gesa dan kesel nya ia lewati. Febrisya tak menyadari jika di depannya terdapat seseorang tengah lewat, kini menubruk Febrisya.
Febrisya yang hilang keseimbangan tubuh ditahan oleh sesosok yang menabraknya tadi.
Febrisya mendongak ke atas mendapati Randi yang tengah memegang kedua lengan Febrisya dengan pandangan yang amat lekat, dalam jangkauan yang terlalu dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Replaceable
Ficção AdolescenteDisini aku seperti berperan antagonis. Padahal kau yang memulai lebih dulu. Rasa apa ini yang aku hadapi, intinya aku cemburu melihatmu dengan dia. Aku tahu kau milik dia. Aku tak ada niat sedikit pun merebutmu dari dia. Tetapi mengapa perilakumu s...
