Guru Baru?!

4.1K 360 23
                                        

Konoha General Hospital

"Aarrrggghh.....! Pak guru Itachi...!"

Itachi tersenyum kecil dan meringis saat Sakura berlari menerjang dirinya dengan pelukan erat.

Itachi mendesis merasakan ngilu di kakinya yang di tekan oleh lutut Sakura. Apalagi ia sedang memegang pisau kecil dengan apel di pangkuannya. Itachi takut jika pisau itu akan mengenai Sakura.

Dan beruntung gadis cantik itu segera melepaskan pelukannya. Ia juga tidak nyaman dengan benda kenyal yang menggesek-gesek dadanya tadi.

"Sakura, selamat datang..." Itachi tersenyum dan menyodorkan piring kecil berisi irisan apel ke arah Sakura dengan cengiran khasnya. "Mau apel?"

Tanpa mempedulikan ucapan Itachi, Sakura berteriak saat melihat sebuah kapas yang ditempel di sebelah pipi kiri Itachi, serta perban yang melilit keningnya. Dan teriakan Sakura semakin menjadi saat matanya melotot melihat sebuah gips yang terpasang cantik di kaki kanan pria masa depannya itu.

Beberapa pasien yang ada di ruangan itu menggeleng melihat tingkah anak muda yang berlebihan hormon itu dengan sedikit kesal. Pasalnya, dia menganggu kenyamanan para pasien di sana. Mereka menginterupsi agar Sakura diam mengingat suara cempreng dan berisiknya gadis itu.

Namun Sakura tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah keadaan pak guru tercintanya saat ini.

Air mata menggenang di pelupuk mata hijaunya. Sedangkan kedua tangannya masih memeluk sebuket bunga di depan dada dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek di atas lutut yang membalut tubuh rampingnya.

Sepertinya gadis itu lupa untuk memberikan bunga tersebut pada Itachi.

Tadi, setelah mengantar pak guru ke rumah sakit beserta orang-orang setempat yang melihat kejadian perkara di mana pak guru terjatuh, Sakura pergi sebentar ke depan rumah sakit untuk mencari tukang bunga. Ia membeli sebuket bunga berukuran kecil untuk pak guru.

Akan tetapi bunga itu masih nge-bon, mengingat dirinya tadi keluar tanpa membawa apapun. Ponsel pun tidak bawa. Ia jadi tidak bisa menghubungi orang rumah jika begini.

Tapi itu urusan belakangan.

"Aku pikir bapak meninggal." Sakura berucap dengan mata berkaca-kaca.

Bukannya marah karena ucapan tidak sopan muridnya. Itachi justru terkekeh tidak jelas dengan wajah bersemu. Mungkin, dia malu saat mengingat dan menceritakan kenapa dirinya bisa berakhir dengan mampir di rumah sakit.

"Tadi, saat akan sampai di rumah Sakura, iseng-iseng aku ingin coba mempraktekkan lompat tinggi ku yang baru kemarin aku pelajari."

Wajah Itachi kembali bersemu. "Eh, aku nggak nyadar kalau ada sepeda yang lewat di depan ku. Alhasil..." Itachi terkekeh dan melihat kakinya yang diberi gips, "Aku malah nyungsep dan kesandung ekor kucing." Atau lebih tepatnya menginjak kaki kucing.

Sakura menahan erangannya. Memajukan bibirnya dengan alis mencuram, "Jadi nggak keren, deh."

Itachi meringis. "Maaf, ya. Membuatmu khawatir karena aku nggak hati-hati."

Sakura menggeleng. "Aku yang harusnya minta maaf karena nggak nunggu pak guru. Malah beli bunga dulu di depan rumah sakit."

Itachi tersenyum dan mengelus rambut Sakura. "Terima kasih."

Tiba-tiba kedua bola mata Sakura berkilat bagai petir membuat Itachi mengernyit heran. "Pak guru..."

"Ya, Sakura?"

Itachi tersentak saat Sakura berucap dengan suara lantang, "Mulai sekarang, tiap hari aku bakal nengok Pak Guru selama Pak Guru belum sembuh."

Lagi-lagi Itachi hanya bisa terkekeh, "Makasih... Tapi doamu aja udah cukup, kok. Aku nggak mau bikin nilai mu lebih turun lagi."

Sakura terdiam, wajahnya berseri saat melihat kilatan cahaya matahari yang berasal dari wajah Itachi, menyinari hatinya. Apalagi saat melihat senyum manis yang selalu membuat Sakura meleleh.

Guru yang rajin, mengutamakan belajar, melarang percintaan. Tentu saja Sakura tidak bisa mengatakan perasaannya mengingat moto lelaki itu yang enggan untuk ia ingat.

Sakura menatap wajah Itachi lagi. Walau kondisinya mengenaskan dengan perban bahkan gips di kaki. Tapi hal itu tidak dapat melunturkan kadar ketampanan lelaki itu.

Pak Guru Itachi... Priaku... Idolaku... Masa depanku...

Saat asik dengan khayalannya yang berbunga-bunga. Senyuman manis Sakura luntur saat mendengar ucapan Itachi selanjutnya bagai kunai yang menusuk relung hatinya.

"Tenang saja. Udah aku siapkan guru pengganti, kok."

Little Devil's [CerPen]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang