3| That's one I never told Anyone Else

90 23 4
                                        

Jelah

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

ark terang; jernih; banglas (tentang pandangan)

Play

-Rindu yang tak pernah begitu hebatnya-

Pupus

Hanin Dhiya

-

-Panasea-

Beberapa bunga kamboja menjatuhkan bunganya. Putih kekuningan yang indah membuat tiap sisi pemakaman lebih rindang. Beberapa orang disana, entah sedang berdoa atau hanya sekedar mengenang kepergian orang tersayang. Termasuk lelaki itu, Bacra. Lelaki itu terlalu sering datang. Sampai-sampai beberapa pengurus mehafal wajahnya.

Alasan dirinya datang tak lebih dari sekedar mampir. Tanpa bunga, tangisan atau meninggalkan doa. Bukan salahnya yang datang tanpa tujuan, karena faktanya semua memiliki alasan sendiri.

"Ikhlasin atuh Kang, doain biar tenang dialamnya." Seorang lelaki dengan sarung diatas mata kaki tak jauh dari sana. Berjarak dua nisan sedang menyapu dedaunan.

"Saya sudah ikhlas 'A"

"Maksud Aa teh di lepasin aja, doa atuh. Bawain kembang. Dicabut itu rumputnya. Bukannya Aa males kerja nih, tapi itu sebagai perwujudan Akang buat Almarhumah." Lelaki yang memanggil dirinya Aa jelas hanya panggilan. Tapi sejauh yang dia tahu, Aa satu-satunya pengurus pemakaman paling rajin.

Bacra bangkit lalu menatap Aa ramah, "Iya 'A, kalau bisa dikunjungan selanjutnya saya bawa kembang."

"Setiap Akang kesini ngomong gitu terus." A'a memikul cangkul di punggungnya yang mungkin sudah berumur. "Tapi nih kang, kembang gak penting. Doa kang."

Berdoa? Maukah tuhan menerima doa manusia yang berlumur dosa?

Bacra hanya bisa tersenyum tipis, kepalanya mengangguk. Tapi sebelun dirinya benar-benar keluar dari area pemakaman, suara Aa kembali terdengar. Hanya kali ini dengan nada yang berbeda.

"Lima tahun, belum cukup untuk memaafkan diri Akang?" Aa diam sejenak, mungkin selama puluhan tahun bekerja dia sama sekali tidak pernah ikut campur. Entah masalah apapun yang terjadi di pemakaman tempatnya bekerja. Tapi untuk kali itu berbeda, seolah Bacra adalah satu-satunya orang yang datang tanpa emosi. "Sesusah itu Kang?"

Lagi-lagi, pertanyaan Aa terlalu menohok hatinya. Bahkan terlalu dalam hingga lagi-lagi mebuat luka lama kembali menganga. Tapi bukan salah Aa, hanya dirinya yang belum bisa.

"Kalau segampang itu, saya gak akan begini." Lirih sekali, bahkan Aa tidak dapat mendengarnya.

Dirinya terlalu takut. Kenyataan terlalu sakit baginya. Terlalu tidak adil, untuk oaring-orang serapuh dirinya. Takdir jahat, menempatkan dirinya ditempat paling kotor dibumi, disejarah takdir bahkan pada catatan para cahaya. Seolah semesta ikut menjatuhkan dirinya. Tidakkah Bacra terlalu lugu untuk diberi luka sebesar ini?

Bacra membuang pikiran buruknya jauh-jauh. Mengambil kunci mobilnya dalam saku celana. Lalu menarik pintu mobil dan mendudukan dirinya disana.

Nafasnya seendikit memburu, dadanya sesak. Matanya masih tak beralih dari Aa. Lelaki setengah baya itu masih setia menyapui dedaunan yang kembali jatuh. Tak lama, ponselnya berderng. Memperlihatkannya nomor tanpa nama.

+62******88

P

Kak Bacra?

PanaseaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang