10| Changes
Klan.des.tin
adv secara rahasia; secara gelap; secara diam-diam
_
-I'm a girl with a temper and heat-
Snakehips, MØ
Don't leave
_
Suasana dingin menyelimuti pagi, seharian kemarin hujan. Bahkan hingga pagi ini, gerimis masih tetap turun. Berbaur dengan embun disela-sela daun. Rumput juga tanah merah yang basah. Rasanya matahari juga tak nampak di pagi murung ini. Beruntung, Lucax punya penghangat ruangan dirumahnya.
Seminggu berlalu sejak terakhir dia menguntit gadis itu. Juga kalimat Vera yang lebih banyak dia tidak mengerti. Semuanya masih terputar seperti kaset rusak di otaknya. Bahkan mengganggu kuliahnya setiap hari. Itu sangat mengganjal.
"Sarapan, Lucax?"
Baru saja menuruni tangga, Lucax sudah disambut oleh ayahnya. Lelaki bertubuh kekar yang gak terlihat mempunyai anak berumur sembilan belas tahun. Kaos ketat yang membalut tubuhnya membuat Lucax berdecih iri, dia kalah dengan orang tuanya.
Setelah mengangguk, Lucax menghampiri bar didapurnya. Memperhatikan gerak-gerik ayahnya yang sedang memasak. Se-macho apapun ayahnya, dia tetap paling lihai di dapur. Padahal dia jelas bukan juru masak, ataupun setidaknya dia tidak pernah ikut les memasak.
"Gimana kuliah, Papa denger IPK kamu hampir sempurna." Erik tertawa, selalu hampir sempurna.
"Belum memenuhi SKS kampus buat lulus semester kemarin, harusnya semester ini lulus." dia menjawab apa adanya.
Erik tertawa, sambil membolak-balik nasi goreng di atas penggorengan. Beberapa kali memasukkan bumbu, dan mencicipinya. Wangi menyeruak didapur membuat Lucax semakin tergiur.
"Slow down, gak ada yang menuntut kamu buat lulus secepatnya. Nikmati dulu kuliahnya," dia mematikan kompornya, mencari beberapa kain lap.
Diantara gantungan kain lap kotor di pojok dapur. Kemeja putih membaur diantaranya, kontras dengan kotornya lap. Beberapa detik sepasang ayah dan anak itu tidak bicara.
Erik mematung sebentar, Lucax sadar itu. Kemeja putih itu entah sejak kapan ada disana. Bersama beberapa lap yang digantung didinding. Itu ganjil, Erik bukanlah orang yang sembrono.
"Pa—" dia kembali menutup mulutnya saat kemeja itu delemparkan kedalam tempat sampah.
Setelahnya Erik mencoba terlihat baik-baik saja. Mengambil tiga piring dan membagi nasi goreng itu sama rata. Mungkin dia berharap Hani turun, tapi lalu apa? Dia harusnya tahu siapa pemilik kemeja putih itu.
Lucax mencoba tidak membicarakannya, mengambil sendok dan mulai melahapnya. Begitu juga Erik yang akhirnya duduk disebelahnya. Mereka jelas paham, kode etik keluarga ini gak pernah masuk akal.
"Eire gimana, sehat? Papa belum ketemu dia," Erik mengambil segelas air putih. "Kemarin cuma ada Gentra, katanya Eire keluar."
Beberapa saat dia tercenung, seharusnya tidak lagi kaget dengan kedekatan Eire dengan orang lain. Tapi Erik jelas belum tahu, dia hanya mengerti hubungan Eire dengan dirinya yang tidak terpisahkan.
Dia hanya tahu, putra tunggalnya ikut kelas akselerasi karena Eire. Ikut olimpiade sains karena gadis itu juga ikut olimpiade matematika. Melupakan hobi bermusiknya karena terlalu sibuk belajar. Erik tidak mempermasalahkan semuanya, orang tua itu jelas tidak ikut campur urusan anaknya. Semua pilihan lelaki itu, walau istrinya tidak pernah berpikiran sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panasea
Roman pour AdolescentsEire kembali menjadi gadis SMA selama enam bulan. Bertemu dengan cowok-cowok tampan yang punya cerita masing-masing. Perhatian Bacra yang tanpa batas tapi lupa dengan dirinya sendiri. Aksa yang bicara bahkan diamnya selalu disalahkan. Luka mengaga...
