"Nggak ada candaan yang menyangkut perasaan. Jika ada, maka itu permainan yang menyakitkan."
🔹🔹🔹
Pulang sekolah tadi, Anggi menyuruh Elin dan Fara untuk datang ke rumahnya, karena ia akan menceritakan semuanya yang beberapa waktu ini menyita perhatiannya.
Dan saat ini mereka sudah berada di kamar Anggi, dengan Fara yang asik ngemil makanan yang baru saja dibawakan oleh Andin, mamanya Anggi. Sedang Elin sudah siap untuk mendengarkan Anggi yang akan bercerita atau lebih tepatnya biasa disebut curhat.
"Jadi gimana Nggie? Kata Angga, waktu kalian jalan bareng, lo ketemu sama temen SMP lo?" tanya Elin memastikan ucapan Angga waktu itu, dan lagi mereka ini baru mengenal saat menjadi siswa baru setahun yang lalu, jadi tak terlalu tahu tentang masalalu masing-masing saat SMP dulu.
Anggi berdehem pelan, ia menarik napas sedalam-dalamnya agar membuatnya lebih tenang sebelum bercerita tentang masalalunya saat SMP dulu.
"Jadi, waktu gue jalan sama Angga kemarin, gue ketemu sama Jian. Dan dia sama pacarnya."
"Jian? Mantan lo Nggie?" potong Fara sebelum Anggi sempat menyelesaikan ceritanya lebih lanjut.
"Diem dulu napa sih Far, dengerin Anggi dulu." Elin memperingati dan Fara hanya mencebikkan bibirnya kesal walaupun akhirnya ia menurut.
"Jian bukan mantan gue, tapi hampir."
Elin dan Fara kali ini benar-benar diam karena tak ingin menyela ucapan Anggi, membiarkan gadis itu bercerita lebih lanjut. Mereka sangat penasaran dengan kata 'hampir' yang dimaksud oleh Anggi, maklum sih Duo Kepo.
"Waktu itu gue deket banget sama Jian, gue udah ngerasa nyaman sama dia. Kita itu selalu nempel layaknya orang pacaran, ke sana ke sini selalu berdua. Kita itu temen tapi rasa pacar."
"Dan sampai pada acara perpisahan sekolah, gue tahu tentang hal itu, entah Jian mempermainkan gue atau apa, yang jelas gue merasa dipermainkan saat itu. Dan sampai sekarang, gue nggak pernah tahu apa alasan dia ngelakuin hal itu sama gue." Dengan mata berkaca-kaca, Anggi seolah kembali ke masa itu, semuanya terekam jelas di otak bahkan hatinya, saat-saat manisnya bersama Jian bahkan saat Jian mengenalkan Maudy untuk pertama kalinya.
"Happy birthday!" seru cowok itu dengan lantangnya, ditangannya terdapat kue ulang tahun berukuran kecil berbentuk hati.
Anggi yang baru saja membukakan pintu menahan senyumannya seraya menghampiri cowok itu, seseorang yang sedang dekat dengannya.
Hari ini ulang tahun Anggi, cowok itu mendiamkannya selama di sekolah hingga membuat Anggi kesal setengah mati. Dan tiba-tiba saja dia datang ke rumahnya dengan membawa sebuah kue berbentuk hati, romantis bukan? Kekesalan yang tadi dirasakan oleh Anggi pun hilang entah kemana, kini tergantikan dengan suasana hati yang berbunga-bunga.
"Gimana? Romantis kan gue?" Lucu sekali, rasanya Anggi ingin tertawa mendengar pertanyaan cowok itu, tapi berusaha ia tahan sebisa mungkin.
"Romantis apaan? Biasa aja juga," jawab Anggi masih sok cuek, ia terlalu gengsi hanya untuk mengakui jika ia sangat bahagia mendapat kejutan dari seseorang yang sekarang ini terus wara-wiri dihatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anggi & Angga (Completed)
Teen FictionSeseorang yang pernah dijatuhkan tentu tahu rasanya seperti apa? Begitu juga dengan Anggi, ia tahu, bahkan sangat-sangat tahu. Anggi pikir kisah itu akan terulang kembali, dengan dirinya dan Angga sebagai pemeran utamanya. Itu sebabnya Anggi menutup...
