"Sekarang aku mengerti, tanpa rasa, luka itu tiada. Tapi dengan rasa, luka itu justru perlahan tercipta."
- OoO -
Hari ini cuaca kurang bersahabat, langit terlihat gelap gulita padahal biasanya jam segini matahari sudah muncul ke permukaan, hal itu menyebabkan mood Anggi hancur.
Saat ini Anggi masih bergelut manja dengan guling kesayangannya, subuh tadi ia sempat bangun untuk menunaikan sholat, dan setelah melihat cuaca yang gelap ia menyambung kembali tidurnya.
"Anggi bangun, sekolah!" Andin datang membangunkannya, pintu kamar Anggi memang tidak terkunci karena Anggi sendiri yang tidak menguncinya lagi setelah bangun subuh tadi.
Anggi menggeliat, bukannya bangun ia malah menarik selimutnya sampai menutupi kepala.
"Nggie, ayo bangun!" Andin menarik paksa selimut Anggi menyebabkan Anggi dengan terpaksa membuka matanya.
"Dingin Ma, selimut aku balikin," rengek Anggi.
"Nggak ada selimut-selimutan! Sekarang kamu bangun, mandi, terus turun sarapan, habis itu langsung berangkat sekolah."
Anggi mendengus, walau begitu ia tetap menuruti perkataan mamanya, dengan malas ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
- OoO -
"Makasih Abang, aku sekolah dulu." Anggi menyalimi tangan Anand yang sudah mengantarkannya ke sekolah.
"Eh tunggu dulu," cegah Anand seraya membuka pintu mobil.
"Apa lagi, Bang?"
"Nih payung, jaga-jaga kalau hujan." Anand menyerahkan payung.
Melihat payung membuat Anggi jadi teringat akan Angga yang pernah meminjam payungnya hanya untuk memayungi Nella, ia jadi kesal dengan payung itu.
"Gak ah, ribet naruhnya nanti, kalau pun hujan aku kan udah nyampe sekolah Bang, lagian gak akan kepake juga," tolak Anggi.
"Nanti sore Abang ada urusan, jadi gak bisa jemput kamu, Abang kasih kamu payung buat jaga-jaga kalau-kalau nanti sore hujan."
"Gak akan hujan Bang, nanti juga cerah lagi cuacanya." Anggi tetap menolak menerima payung itu.
"Keras kepala banget kamu ini, yaudah Abang pergi dulu, belajar yang bener," pamit Anand, ujung-ujungnya payung itu ia masukkan kembali ke dalam mobil, karena Anggi dengan keras kepala tidak mau menerimanya.
"Hati-hati," ucap Anggi saat Anand mulai menjalankan mobilnya dan keluar dari area sekolah.
Setelahnya Anggi langsung berjalan menuju kelas, beberapa kali ia tersenyum saat berpas-pasan dengan orang yang dikenalnya.
Saat sampai di kelas, sudah ada Elin dan Fara yang duduk berkumpul dengan Jerry dan juga Ken, entah apa yang mereka gosipkan pagi-pagi begini.
"Pagi-pagi udah ngegosip aja lo pada," tegur Anggi, membuat keempat orang itu menoleh ke arahnya.
"Ngomongin apaan sih?" tanya Anggi ikut penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anggi & Angga (Completed)
Novela JuvenilSeseorang yang pernah dijatuhkan tentu tahu rasanya seperti apa? Begitu juga dengan Anggi, ia tahu, bahkan sangat-sangat tahu. Anggi pikir kisah itu akan terulang kembali, dengan dirinya dan Angga sebagai pemeran utamanya. Itu sebabnya Anggi menutup...
