29. Tidak Biasanya

3K 123 6
                                        

"Setiap keputusan mempunyai resiko tersendiri. Dan, setiap resiko mempunyai kesakitan tersendiri."

***

Revan masih tak percaya dengan gadis yang ada di hadapannya saat ini. Tapi, ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia menyungging senyum tipis, kemudian berlalu meninggalkan gadis itu.

Sedangkan, gadis itu menatap kepergian Revan dengan tatapan sendu. Mereka yang awalnya dekat, kini harus seperti orang yang tidak saling kenal.

"Kenapa masih di sini, Hel?" tanya Pak Andi saat baru menghampiri Rahel.

Ya, gadis yang hampir bertabrakkan dengan Revan di pintu masuk cafe adalah Rahel.

"Lagi nunggu Papa aja," jawab Rahel sambil tersenyum.

"Ayo," ajak Pak Andi sambil berjalan mendahului Rahel.

Rahel memperlambat langkahnya, berharap Revan akan kembali masuk ke dalam cafe untuk menemuinya. Tapi, itu adalah hal yang mustahil.

"Rahel." Suara itu berhasil membuat Rahel dengan cepat melihat ke arah sumber suara sambil tersenyum.

Namun, senyumannya perlahan memudar saat melihat siapa yang memanggilnya. Dugaannya kalau Revan yang memanggilnya ternyata salah.

Orang yang memanggil Rahel, berjalan mendekati Rahel.

"Hm, gue bisa ngomong sebentar gak?" tanya orang itu.

"Raffi? Mau ngomong soal apa?" tanya Rahel balik.

Ya, orang yang menyapa Rahel adalah Raffi.

"Ini penting."

"Lo bisa tunggu di luar aja? Nanti gue samperin lo. Gue soalnya ke sini sama Papa," ucap Rahel.

"Oke. Gue tunggu, ya."

Raffi pun berjalan keluar dari cafe. Sedangkan Rahel, ia mendekati ayahnya, berniat untuk memohon izin.

"Pa, aku cari angin bentar dulu ya?"

"Lho? Makan dulu aja."

"Sambil nunggu pesanannya. Gak lama kok."

"Oke. Kamu mau pesan apa?" tanya Pak Andi.

"Samain aja," jawab Rahel.

"Oke. Tapi, jangan lama-lama ya."

"Iya."

Setelah itu, Rahel pun segera menghampiri Raffi yang sudah menunggu di luar cafe. Ia juga sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Raffi.

"Jadi, lo mau ngomong apa, Fi?" tanya Rahel.

"Gue tahu lo cuma gak lama. Jadi, to the point aja ya. Lo suka sama Revan?"

Rahel mendelik ketika Raffi menanyakan hal itu.

"Kenapa lo tanya hal itu? Lo tahu kan gue sama Revan cuma temenan aja?"

He is RevanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang