28. Geng Motor

3.2K 123 4
                                        

"Ingin rasanya kembali di masa di mana aku belum mengenal cinta."

-Revan

***

"Gue gabung," ucap Revan ketika menelepon seseorang.

"..."

"Oke. Nanti malam gue ke sana."

"..."

Revan menutup sambungan teleponnya. Setelah itu, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan membiarkan dirinya jatuh ke alam mimpi.

***

"Dia bakalan gabung," ucap Rimba dengan senyuman sinisnya.

"Si Revan?" tanya Ari.

"Menurut lo siapa? Raffi?"

"Menurut gue Revan."

"Udah tahu juga, ngapain nanya?" tanya Rimba.

"Santai aja kali," ucap Ari.

"Udah, stop. Kuping gue mau pecah tahu gak kalau tiap hari lo berdua berantem mulu," timpal Erick.

"By the way, si Bagas kok gak nongol-nongol?" tanya Ari.

"Lagi otw ke sini katanya," jawab Erick.

"Tapi, menurut kalian kemampuan balap Revan masih sama kayak dulu gak? Dia kan udah lama gak balapan," ucap Rimba.

"Gue sih yakin. Soalnya, si pecandu cinta itu rajanya balapan. Dia mah gak pernah kalah. Lo inget gak waktu dia baru sadar dari koma pas kecelakaan dulu?" tanya Ari.

"Dia langsung ikut balapan trus menang?" tebak Erick.

"Nah, itu. Pas hampir mati aja, bisa menang. Apalagi sehat."

"Tugas kita sekarang adalah paksa Revan buat ikut balapan itu. Taruhannya kan gede. Lo semua tahu 'kan kalau Revan selalu kasih hadiah balapannya ke kita? Bisa untung besar kita," ucap Rimba.

"Tapi, kasihan juga tuh bocah kalau dimanfaatin terus. Dia kan lagi galau gara-gara ditinggalin Tari," ucap Ari.

"Emang selama ini Revan gak manfaatin kita? Buktinya dia tinggalin geng ini, cuma gara-gara cewek," kata Erick sambil menoyor kepala Ari, membuat pemuda itu meringis kesakitan.

"Udah. Gak usah bahas masa lalu Revan. Sekarang kita lagi butuh dia," ucap Rimba.

Tanpa mereka sadari, Bagas telah mendengar semuanya. Bagas memang sudah lama ingin keluar dari geng Angin. Namun, Rimba selalu mengancamnya.

"Gue harus kasih tahu Raffi soal ini," gumam Bagas.

***

Revan sudah siap dengan jaket bomber-nya, untuk menjalankan motor kesayangannya itu. Tujuan Revan hanya satu, yaitu mencari ketenangan. Akhir-akhir ini, ia selalu menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia dengan mudahnya jatuh di lubang yang sama?

He is RevanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang