Masih dengan jelas terpatri dalam ingatannya, tentang memori terpenting yang memutarbalikkan hidupnya. Itu adalah kali pertama bagi Seungcheol menginjakkan kaki dalam bangunan di mana Jeonghan dan Soonyoung menghabiskan masa kecil mereka. Rumah sederhana di tengah kebun yang terlihat sepi tanpa penghuni. Selama mereka menetap di Seoul, tak sekalipun Jeonghan kembali ke Namyangju, pun mengajaknya ke sana. Meski pertama, bukan tidak mungkin pula menjadi yang terakhir baginya, kepemilikan rumah itu tak akan ada pada Jeonghan dan Soonyoung setelah hari berakhir.
Sudah lama sekali Soonyoung mengutarakan keinginan untuk membangun studionya sendiri, dan Jeonghan mengiyakan dengan ikhlas di hatinya. Kwon bersaudara memutuskan untuk menjual rumah dan kebun peninggalan kedua orangtua mereka sebagai modal awal bagi Soonyoung. Jeonghan bilang, mereka telah terlalu lama menyimpan masa lalu, dan sudah sepatutnya menatap masa depan tanpa menoleh ke belakang.
Tidak perlu jauh-jauh, seorang kerabat ayah mereka adalah pemilik baru rumah itu, dibeli dengan harga yang tinggi pula. Untuk itulah Jeonghan dan Seungcheol berada di sana, mengucap perpisahaan pada tempat di mana setengah dari memori dalam hidup Jeonghan diciptakan. Rumah itu tergolong terawat untuk bangunan yang sudah lama tak ditempati, mengingat Jeonghan selalu membayar orang untuk mengurusi rumah mereka meski di saat sulit dulu.
Seungcheol menggenggam jemari Jeonghan ke manapun laki-laki itu membawanya menuju tiap sudut rumah yang tak begitu besar. Bibirnya tak henti menceritakan masa lalunya dan Soonyoung, sementara Seungcheol akan selalu mengelus punggungnya tiap kali kedua manik milik Jeonghan terlihat berkaca-kaca. Di tempat tidur kecil untuk satu orang mereka berakhir, Seungcheol membiarkan Jeonghan tertidur dalam pelukannya dengan berbantalkan lengan.
Hari telah beranjak malam ketika mereka menyudahi kunjungan itu. Udara di penghujung November mulai berganti dingin, dan Seungcheol bersyukur telah menuruti Jeonghan untuk mengenakan coat tebal melapisi pakaiannya. Ia kemudian menautkan jemari mereka setelah Jeonghan mengunci pintu dan Seungcheol tersenyum padanya ketika suaminya itu menghela nafas panjang. Setelah ini, mereka harus menyerahkan kunci pada sang pemilik baru sebelum meninggalkan kampung halaman Jeonghan dan Soonyoung.
Mereka baru saja melewati gerbang dan akan beranjak ketika sebuah suara samar tertangkap pendengaran Seungcheol. Ia menghentikan langkah, berusaha berfokus pada suara yang nyaris tak terdengar itu. Sepi menyambut ketika ia menoleh ke belakang, tak ada satu makhluk pun yang terlihat olehnya. Sentuhan lembut di pergelangan tangannya menjadi suatu hal yang mengagetkan. Pertanyaan 'ada apa' disampaikan Jeonghan melalui ekspresi di wajahnya.
"Kamu dengar itu, 'kan?" tanya Seungcheol pada suaminya yang dijawab dengan gelengan.
"Ada yang menangis, Han." Jelas Seungcheol lagi.
Jeonghan kemudian meremas lengan Seungcheol dengan seluruh jemarinya, sementara tubuhnya merapat tak memberi jarak. "Jangan menakutiku!"
"Bukan seperti itu, sungguh." Dengan lembut Seungcheol menurunkan jemari Jeonghan dari lengannya untuk ditautkan dengan miliknya sendiri.
Ia kemudian menarik Jeonghan mendekat ke arah suara. Semakin mereka mendekat, semakin jelas pula tangisan itu terdengar. Bukan raungan tangis, hanya ada rintihan samar dari makhluk lemah yang tak berdaya. Di dekat semak-semak depan rumah mereka berhenti, di mana tangisan itu terdengar begitu jelas. Di sebelahnya, Jeonghan memegangi lengannya begitu kuat, namun Seungcheol mampu melepaskan diri untuk berjongkok mencari sumber suara.
Sebuah tas hitam berada di sana, di antara semak-semak yang bergoyang akibat kencangnya hembusan angin. Dengan keberanian yang dikumpulkannya setelah beberapa detik, Seungcheol membuka ritsleting tas secara perlahan. Bayi putih menyambutnya dengan tangisannya yang melemah, sementara jantung Seungcheol berdegup begitu kencang atas apa yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah & Memori
FanfictionJeongcheol Family AU Choi Jihoon hanyalah satu dari beribu alasan Seungcheol tak ingin berpisah dari Jeonghan. Ada begitu banyak memori yang mereka berdua miliki, menanti untuk diungkap olehnya. Berbekal hal itu, Seungcheol berharap Jeonghan akan me...
