Lima menit sudah Seungcheol berdiri di sana, menatap pintu rumah dengan senyuman yang tak kunjung pudar. Ini adalah pertama kali dalam lebih dari satu setengah tahun ia kembali berada di rumah itu. Rumah dengan segala memori yang selalu menyemangatinya di perantauan sana. Rumah dua lantai yang mungil, tempat di mana dirinya dan Jeonghan memulai sebuah komitmen bernama keluarga.
Hadiah yang diberikannya pada Jeonghan, sebuah sedan hitam, terparkir dengan rapi di pekarangan, menandakan kehadiran laki-laki itu di dalam. Seungcheol menghela nafas sebelum akhirnya mengeluarkan kunci dari dalam saku jaketnya. Ia menyeret koper di tangan kanan dan menjinjing sebuah bungkusan besar di tangan kirinya, lalu memasuki rumah dengan beribu cerita itu.
Desiran aneh menjalari dadanya ketika ia telah berada dalam rumah. Wangi dan kehangatan yang familiar menyambutnya, pun dengan nyanyian lagu anak-anak yang berasal dari televisi di ruang keluarga. Rumah mereka memang sederhana, dengan ruang tamu yang merangkap ruang keluarga, di mana kedua manik Seungcheol lantas menangkap sosok anak kecil dari tempatnya berdiri. Ia bergegas menutup pintu dan kembali menguncinya, lalu membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah yang tersusun rapi di sana.
Matanya tak lepas dari balita di ruang keluarga. Sebuah meja belajar kecil lengkap dengan kursinya adalah tempat di mana anak itu berada. Mata dan tangannya fokus pada buku mewarnai yang ada di atas meja, sedangkan kepalanya bergoyang kecil mengikuti irama dari televisi. Rambut hitam legamnya kini tumbuh sangat lebat, dengan poni yang disisir rapi hingga menyentuh tengah dahi, tak salah lagi merupakan hasil karya papanya.
Jantung Seungcheol berdegup dengan kencang sementara ia berjalan mendekat, melupakan barang bawaannya di dekat pintu. Ia melepaskan ransel dan jaketnya, kemudian meletakkannya di sofa seraya memanggil anak kecil yang belum juga menyadari kehadirannya di sana. Jihoonnie adalah bagaimana Seungcheol memanggil anak itu berkali-kali, dengan menambahkan 'Choi' di depan namanya.
Ketika anak itu tak juga menyahutinya, Seungcheol kembali mendekat, kemudian berlutut tak jauh dari meja tempat Jihoon mewarnai. Putranya itu akan genap berumur dua tahun di bulan depan, Jihoon bukan lagi bayi mungil yang begitu pas di lengan ketika ia menggendongnya di malam hari. Pipinya yang kemerahan kini begitu gembil, menggoda Seungcheol untuk mencubitnya. Jemari-jemari mungilnya terlihat berisi, begitu pula dengan tangan dan pahanya.
Seungcheol melirik pada buku gambar di atas meja, di mana ada banyak sekali warna yang bercampur aduk, tak mempedulikan gambar dan garis yang tercetak. Biar begitu, hati Seungcheol menghangat melihatnya. Dulu, Jihoon hanya bisa menangis jika haus dan lapar, namun sekarang, balita itu mampu menciptakan mahakarya dari tangannya. Seungcheol tak lagi dapat menahan rasa gemas di hatinya. Ia mengulurkan tangan, kemudian mengelus rambut putranya dengan sayang.
"Appa pulang, Jihoonie."
Kedua mata Jihoon menatapnya dengan kaget, sementara jemarinya melepaskan crayon dari genggamannya. Rasa penasaran tercetak dengan jelas dari kedua manik balita yang membola itu, sementara Seungcheol masih mengusak rambutnya disertai senyuman di bibir. Jihoon tetap terdiam ketika jemari Seungcheol bergerak turun dan mengusap pipinya pelan.
"Bayi Appa sudah besar, hmm?"
Fokus Seungcheol sepenuhnya terarah pada Jihoon, memperhatikan bagaimana balita itu mengulangi gumaman seperti yang dilakukannya tadi. Seungcheol memang bukan pribadi yang terlalu menyukai anak kecil, namun segala hal tentang Jihoon begitu menggemaskan baginya. Terlebih ketika balita itu memiringkan kepala mengikuti arah tangannya, dengan kelopak mata yang mengedip perlahan.
Untuk itu, Seungcheol melewatkan bagaimana sosok lain diam terpaku dalam ruangan yang sama. Ia hampir saja meremas kedua pipi Jihoon saking gemasnya ketika manik putranya itu beralih darinya. Jihoon mengeluarkan suara yang begitu lucu, membentuk kata 'ma' repetitif yang lantas tertangkap pendengarannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah & Memori
Fiksi PenggemarJeongcheol Family AU Choi Jihoon hanyalah satu dari beribu alasan Seungcheol tak ingin berpisah dari Jeonghan. Ada begitu banyak memori yang mereka berdua miliki, menanti untuk diungkap olehnya. Berbekal hal itu, Seungcheol berharap Jeonghan akan me...