Chapter 11

1.2K 151 18
                                        

Seungcheol melirik ke arah kaca spion di mana pantulan putranya terlihat. Beberapa menit yang lalu, balita itu masih sibuk menyanyi mengikuti lagu kesukaannya yang diputar Jeonghan dari sambungan bluetooth ponselnya. Kini, Jihoon tertidur dengan bibir yang terbuka, lucu sekali hingga Seungcheol tekekeh dibuatnya. Duduk di kursi penumpang, Jeonghan tengah ada dalam keadaan yang tak jauh berbeda dengan putra mereka. Seungcheol mengambil ponsel dalam genggaman Jeonghan dan mematikan musik yang diputar ketika lampu merah menyala.

Keluarga Choi tengah dalam perjalanan untuk kembali ke rumah mereka. Jam di dashboard menunjukkan pukul 9 malam. Mereka baru saja merayakan ulang tahun Jihoon dengan playland café yang pernah didatanginya bersama Jihoon sebagai venue utama. Seungcheol hanya mengundang beberapa kerabat dekat yang memang mengetahui hubungannya dan Jeonghan, sementara suaminya itu mengundang anak-anak panti asuhan tak jauh dari tempat mereka tinggal. Ia berkata bahwa keluarga mereka harus berbagi meski hanya sekedar makan malam sederhana.

Soonyoung yang sejak kemarin diberi tanggung jawab untuk membeli cake ulang tahun justru datang terlambat, tamu undangan telah menyelesaikan makan malam ketika ia datang. Senyuman Seungcheol otomatis merekah ketika Soonyoung berjalan menuju tempat keluarga mereka duduk. Tak hanya cake, namun Soonyoung membawa serta seorang gadis cantik yang digandeng olehnya. Jeonghan dan Seungcheol hanya sempat bersapa singkat dengan sang gadis ketika Jihoon sudah terlihat tak sabaran untuk bermain bersama teman-temannya.

Oleh karena itu, Seungcheol mempercepat acara tiup lilin yang akan mereka lakukan, melupakan rasa penasaran yang menggerogotinya. Di ujung meja panjang itu Seungcheol meletakkan cake sederhana dengan buah stroberi mengelilingi wajah Jihoon yang tercetak di tengah. Ia menggendong tubuh Jihoon sehingga balita itu berada di antara dirinya dan Jeonghan. Balita Choi tunggal itu bertepuk tangan ketika para undangan di sana menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.

Jihoon kemudian membuka mulutnya lebar-lebar ketika Jeonghan menyuruhnya untuk menutup lilin. Dengan tanggap Seungcheol meniup lilin yang masih menyala ketika bibir Jihoon mulai mendekati panasnya api. Anak itu kembali menepuk tangannya bersamaan dengan para undangan. Anak-anak di sana lantas berlarian menuju mainan-mainan yang sedari tadi menanti, begitu pula dengan Jihoon yang menarik jemari ayahnya meminta ditemani untuk bermain. Seungcheol kerap kali menoleh ke arah Jeonghan yang tengah berbincang dengan gadis yang datang bersama Soonyoung, namun tak dapat turut serta karena Jihoon menahannya untuk tetap mengawasinya dari luar kolam bola.

Kemudian, yang cukup mengejutkan di malam itu adalah kehadiran Park Ji Young di sana. Ibu kandungnya itu datang beserta beberapa pegawainya dengan membawa begitu banyak hadiah untuk Jihoon di tangan mereka. Ia tak tinggal lama di sana, hanya sekedar berbincang singkat dengan Seungcheol dan Jeonghan, lalu mengucapkan selamat ulang tahun pada cucunya yang semula meminta untuk dipangku ketika menyadari kehadirannya di sana. Ibu Seungcheol itu tak ragu memeluk dan mengusap wajah Jihoon meski keringat melapisi kulit cucunya. 'Halmeoni' adalah bagaimana Jihoon memanggil neneknya. Bahagia dirasakan Seungcheol melihat keharmonisan sang ibu dan keluarga kecilnya.

Kembali di keheningan dalam mobil, Jeonghan lantas terbangun ketika mobil berhenti di garasi rumah. Suaminya itu dengan sigap menggendong Jihoon untuk masuk ke dalam, namun kembali tak lama kemudian ketika Seungcheol telah membuka bagasi mobil. Di ruang kecil itu, tumpukan hadiah diletakkan dengan rapi meski jumlahnya luar biasa banyak. Tak hanya bagasi, kotak-kotak dengan balutan kertas pembungkus itu juga memenuhi ruang penumpang, bahkan beberapa diletakkan di samping kaki dan pangkuan Jeonghan.

Memikirkan bagaimana mereka akan berkali-kali keluar dan masuk rumah untuk memindahkan hadiah, keduanya menghela nafas secara bersamaan. Mereka terkekeh pelan lalu mulai membawa hadiah-hadiah itu. Jihoon ditidurkan Jeonghan di sofa ruang tamu, rupanya. Untuk itu, Seungcheol berjalan dan menata hadiah dengan begitu hati-hati, mengingat putranya itu adalah light sleeper, sama seperti Jeonghan. Setelah empat kali kembali ke mobil, Jeonghan kembali dengan dua kotak di tangannya, lalu berkata bahwa mobil mereka sudah bersih dari hadiah-hadiah yang mayoritas diberikan oleh Ji Young.

Kisah & MemoriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang