Chapter 4

1.4K 203 29
                                    


"Caramel latte ukuran medium satu."

Adalah kalimat pertama yang diucapkan Seungcheol kala itu pada Jeonghan, rangkaian kata awal kisah mereka dimulai. Keduanya terpisahkan counter dan mesin kasir, Jeonghan menerima pesanan serta uang dari Seungcheol dengan senyuman tipis di wajahnya. Ini bukan kali pertama Seungcheol berada dalam kedai kopi dekat kampusnya, namun kehadiran Jeonghan terasa asing di sana, dengan tag bertuliskan 'trainee' di dada sebagai jawaban baginya.

Seungcheol tak begitu peduli pada awalnya, fokus berpindah pada ponsel di tangan ketika Jeonghan membalikkan tubuh untuk memproses pesanannya. Latte yang diminumnya selama perjalanan menuju kampus terasa sedikit berbeda dari biasa, dengan rasa manis yang tertinggal di ujung lidah. Seungcheol menyukai hal itu, manis, seperti senyuman si barista trainee yang tiba-tiba terlintas di pikirannya saat dosen tengah mengajar.

Pagi yang sama seminggu kemudian, kerutan di hidung saat Jeonghan tertawa adalah hal yang menyambutnya ketika ia melangkah masuk ke dalam kedai kopi. Seungcheol tak sempat mendengar pembicaraannya bersama salah seorang barista di sana, namun pandangannya tak kunjung lepas hingga langkahnya terhenti di depan counter. Sisa-sisa tawa masih tersisa lewat senyuman yang diberikan Jeonghan ketika ia menyadari kehadirannya.

"Oh, hai." Kata Jeonghan malu, "Ada yang bisa kubantu pagi ini?"

"Caramel latte ukuran medium satu." Jawab Seungcheol padanya.

"Sama seperti minggu lalu?" tanya Jeonghan sembari memproses pesanannya pada mesin kasir.

"Aku tak menyukai kopi." Untuk itu Jeonghan menghentikan gerak jemarinya, lalu memberikan fokusnya pada Seungcheol.

"Tapi, kelasku di hari Senin dimulai sangat pagi, sementara aku selalu menghabiskan akhir pekan dengan bermain game semalaman."

Tawa Jeonghan menyambutnya, meski kerutan di hidung yang terlihat menggemaskan tak timbul karenanya. "Mau coba cappuccino? Itu adalah kopi termanis yang ada dalam menu."

Seungcheol mengangguk setuju untuk mengganti pesanannya pagi itu, dan benar saja, kopinya terasa jauh lebih nikmat dari biasanya. Jadi Seungcheol datang lagi ke kedai kopi itu di minggu selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya. Dengan terpisahkan counter mereka berbincang hingga cappuccino miliknya selesai. Berbincang, dalam artian Seungcheol berbicara dan Jeonghan mendengarkan.

Senyuman Jeonghan begitu memikat, mengikat Seungcheol tiap kali ia memamerkannya. Rambut hitam dengan poni panjang di sisi kanan wajahnya memanggil jemari Seungcheol untuk bermain di sana. Jeonghan memang jarang berbicara, namun ketika suara itu tertangkap pendengarannya, hanya ada laki-laki itu seorang yang dalam kesadarannya.

Jeonghan adalah seorang laki-laki yang menarik bagi Seungcheol. Matanya yang kecoklatan begitu ramah, hangat ketika menatap Seungcheol berbicara. Pendengar yang baik adalah apa yang dapat digambarkan Seungcheol mengenai Jeonghan, penuh perhatian pada tiap kata yang terucap dari bibirnya. Nyaman dirasakannya tiap kali ia bersama Jeonghan, suka mungkin adalah rasa yang mulai tertanam di hatinya.

Barista yang dulu merekomendasikan kopi yang kini menjadi favorit Seungcheol ternyata bernama Kwon Jeonghan, lahir pada tahun yang sama dengannya. Hal itu baru diketahuinya satu bulan setelah kopi buatan Jeonghan yang pertama. Sedangkan laki-laki itu nampaknya mengenal dan memahami Seungcheol dengan cepat. Bagaimana tidak jika ia selalu mengoceh tanpa henti pada Jeonghan tiap kali berkunjung ke kedai.

Saat itu, Seungcheol merupakan mahasiswa manajemen bisnis semester 4 di salah satu universitas negeri bergengsi. Anggota dance club fakultas, dan kepala departemen minat bakat untuk himpunan jurusan. Ayahnya merupakan president director sebuah perusahaan penerbangan ternama, dan ia memiliki kewajiban untuk turut andil di perusahaan itu nantinya.

Kisah & MemoriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang