Choi Seungcheol adalah segalanya bagi Jeonghan. Laki-laki itu adalah dunianya, sang penyelamat dalam kehidupannya. Ia menuntun Jeonghan untuk keluar dari kegelapan menuju terang yang dipenuhi dengan kebahagiaan tak terhingga. Lelah yang dilalui Jeonghan di masa lalu digantikan Seungcheol dengan rumah mungil serta kendaraan pribadi yang tak pernah terbayang sebelumnya. Tulus miliknya dibayarkan dengan cinta dan kasih sayang yang seolah tak pernah ada habisnya. Choi Jihoon kemudian menjadi kado terindah yang diberi Seungcheol padanya, bayi mungil yang diakuinya pada dunia sebagai putra mereka.
Dengan berat hati Jeonghan melepas Seungcheol untuk pergi ke daratan jauh melintasi samudera. Seungcheol bilang, tawaran itu diterimanya demi Jeonghan dan Jihoon, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi di masa depan. Jeonghan seharusnya ada di sana, menemani Seungcheol yang memintanya untuk turut meninggalkan tanah kelahiran mereka. Tetapi, rasa tak percaya diri itu lantas datang, apalah dirinya dibandingkan Seungcheol yang sempurna. Bahasa mereka yang tinggal di sana pun tak mampu dipahami olehnya. Jeonghan hanyalah seorang tamatan SMA, kehadirannya hanya akan memperlambat langkah Seungcheol dalam berkarier di negeri orang.
Dengan keras hati Jeonghan memilih untuk bertahan di tanah kelahirannya. Jihoon yang kala itu masih berusia 22 minggu menjadi dasar argumen yang menguatkan, dan Seungcheol mengiyakan permintaannya. Hubungan jarak jauh memang menyakitkan, rindu tak pernah ada habisnya meski video call mereka lakukan hampir setiap hari. Seungcheol biasanya baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika Jeonghan bangun di pagi hari. Ia akan meletakkan ponselnya di atas counter dapur lalu membiarkan Seungcheol memperhatikannya menyiapkan sarapan sembari berbincang mengenai hari yang mereka jalani.
Ketika musim berganti, Seungcheol mulai menghabiskan malamnya di kantor, senyuman Jeonghan yang biasa hadir tiap kali mereka terhubung menggunakan kamera ponsel pun menghilang. Hanya ada suara jemari yang beradu dengan keyboard laptop yang dapat didengar Jeonghan, sementara wajah serius Seungcheol yang tak diarahkan padanya menjadi satu-satunya hal yang dapat dilihatnya di layar. Jeonghan lagi-lagi merasa sebagai pengganggu. Tanpa fisiknya di samping Seungcheol pun Jeonghan menjadi penghalang bagi sang suami. Ia kemudian meminta Seungcheol untuk tak memaksakan diri, dan menghubunginya di sela waktu senggangnya.
Sementara itu, kebiasaan Seungcheol yang selalu merekam Jihoon kapanpun dan di manapun menular padanya semenjak kepergian sang suami. Video-video itu dikirimkannya pada Seungcheol, ia tak ingin ayah Jihoon kehilangan momen-momen pertumbuhannya meski mereka tak lagi tinggal di bawah satu atap. Tapi, di satu sisi hubungan telepon yang selalu disempatkan Seungcheol kemudian berkurang, lewat pesan singkat ia sering kali meminta maaf karena selalu jatuh tertidur ketika tubuhnya jatuh ke pelukan selimut yang hangat. Tiap pagi Jeonghan hanya bisa menunggu momen di mana ponselnya berdering. Nada dering itu menjadi penanda, dan hatinya berteriak riang tiap kali melodi dari ponselnya bersenandung.
Menunggu dan menunggu, Jeonghan tak memiliki keberanian untuk menjadi dominan dalam hubungan mereka. Ia begitu takut bahwa kegiatan Seungcheol akan terganggu hanya karena rindu yang dirasa olehnya. Jeonghan tak paham tentang kehidupan Seungcheol di sana, bagaimana laki-laki itu mungkin saja berubah, tak seperti biasa ia di rumah. Keinginan untuk sekedar mendengar suara Seungcheol terkadang menghadirkan air mata yang tak disadari telah mengalir di pipi, sedangkan suaminya itu tak kunjung menelponnya di minggu itu.
Malam itu jam telah menunjukkan pukul 10 malam, Jihoon telah tertidur sedari tadi. Bayinya itu ditidurkan Jeonghan di sisi tempat tidur milik Seungcheol. Jeonghan bergerak gelisah, tubuhnya seakan tak mau diajak untuk beristirahat. Rindu pada Seungcheol telah mencapai puncaknya, dan Jeonghan tak mampu menahan diri untuk tidak meraih ponselnya. Di tempat Seungcheol berada mereka masih menjalani hari yang sama, Sabtu, namun pada pukul 9 pagi. Ia yakin Seungcheol telah terbangun di akhir minggu itu, jadi ia menekan nomor telepon suaminya dengan jantung yang berdebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah & Memori
FanfictionJeongcheol Family AU Choi Jihoon hanyalah satu dari beribu alasan Seungcheol tak ingin berpisah dari Jeonghan. Ada begitu banyak memori yang mereka berdua miliki, menanti untuk diungkap olehnya. Berbekal hal itu, Seungcheol berharap Jeonghan akan me...
