1.3

107 22 0
                                        











"Jisung capekkk!!!" keluh Seora sudah untuk keberapa kalinya.

Padahal sekarang Jisung dan Seora masih berada di lantai 2 baru melewati beberapa anak tangga saja sudah lemah. Dasar perempuan!

"nanggung," sahut Jisung. "lebih baik lu diem aja biar cepet sampe."

"gak ngaruh!!"














"Jisungggg cap─ehhh ngapain?" teriak Saeora ketika Jisung dengan tiba-tiba menggendong tubuh mungil Seora.

Bukan ala bridalstyle tapi seperti orang tengah menculik gadis kecil. Seora dibopong menghadap belakang oleh Jisung.

"turunin ih serem dibelakang!!" kata Seora sembari memukul-mukul punggung Jisung.

Keadaan didalam tangga itu memang cukup gelap hanya ada lampu remang-remang di ujung pintu.

"tutup mata, jangan berisik dari pada nanti badan lu gua jatohin dari sini," ucap Jisung yang segera dituruti oleh Seora.

Seora takut ketinggian dan juga kegelapan.















"buka mata udah sampe," ucap Jisung ketika sampai di depan pintu kamar.

Seora pun kini sudah membuka matanya dan sudah berdiri disamping Jisung. Sedangkan Jisung sedang membuka pintu kamar.

Pintu terbuka, Seora segera berlari dengan cepat kemudian membantingkan tubuhnya ke kasur. Tidak terlalu empuk seperti di hotel dan juga keadaan ruangannya cukup sederhana. Wajar saja biaya sewanya murah.

"sempit juga ya," ujar Seora.

"bersihin badan lu dulu," kata Jisung sembari melepas sepatunya.

" ... "

Tak ada sahutan, gadis bermarga kang itu malah sibuk mendesak-desak pada bantal dan guling.

Jisung yang sudah merasa cukup lelah akhirnya memutuskan untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu. Ia ingin membasuh wajah lusuhnya berharap masalahnya dapat sedikit ringan di kepala.

Sampai Jisung selesai membasuh muka pun Seora masih setia tidur dengan tengkurap ditutupi banyak guling dan bantal. Pemandangan yang begitu berantakan.

"woi bangun! kalo mau tidur yang bener," kata Jisung sembari mengguncang-guncangkan pundak Seora.

"sung!"

Kenapa tiba-tiba gadis itu bangkit dengan rambut berantakan dan sedikit berteriak? bikin Jisung kaget saja.

"apa?"

"laperrrrrr," Seora kembali merengek seperti anak bayi.

"udah malem," sahut Jisung seadanya dan beralih menuju sofa untuk tidur.

"bohong! kamu 'kan punya uang banyak jangan alesan kayak gitu," ujar Seora.

"udah ngantuk mending tidur daripada ngomong ngelantur kayak gitu."

"ish!!!!!"

Seora menghampiri Jisung dan berulang kali menepuk pipi pemuda itu ringan.

"apasih?!"

"ini apa kalo bukan uang??"

"heh!" seru Jisung. "lu gak boleh sembarang buka-buka tas orang!"

"laperrrr sung, beliin makanan."

"besok aja," kata Jisung. "pagi kita keluar dari sini terus cari makan."

"bener ya??"

"hm."

Entah apa yang ada di kepala Seora, kini gadis itu malah ikut duduk di atas sofa menghadap Jisung. Tepatnya lagi kini Seora berada diatas tubuh Jisung. Menindih Jisung yang sedang memejamkan mata.




















"pistol ini buat apa?" tanya Seora sembari menyodorkan pistol tepat didepan wajah Jisung.

YOUNGDUMBTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang