Sekitar pukul 10 siang, Jisung dan Seora berhenti di depan bandara. Beberapa jam sebelumnya Jisung mengajak Seora pergi dan berkata bahwa mereka berdua akan bertemu seseorang yang akan menajak mereka pergi.
Seora tidak bodoh, pergi terlalu jauh bersama orang yang tidak dikenal benar-benar sangat berbahaya. Seora menolak ajakan Jisung dan memilih untuk tetap tinggal menunggu Jeongin menjemput dirinya namun Seora baru ingat Jeongin tidak bisa mengendarai mobil.
Dengan berat hati Seora ikut dengan Jisung bertemu dengan seseorang itu. Seora tidak tau akan seperti apa jadinya nanti.
"ayo turun," kata Jisung sembari membuka pintu mobil dan kemudian disusul dengan Seora.
"makasih ya pak," ujar Jisung kepada supir yang mengantarkan Jisung dan Seora sampai ke bandara.
Melihat Jisung yang hendak pergi, Seora segera menahan lengan Jisung.
"bayar dulu," kata Seora.
Jisung mengernyit 'kan alisnya. "buat apa? ya gak usah lah."
ha? :/
"Jisung kita mau naik pesawat?"
"emang kamu udah beli tiketnya?"
"beli 2 tiket 'kan? nanti kalo cuma satu aku dimasukin koper lagi sama kamu."
Jisung menoleh ke arah Seora. "emangnya lu liat gua bawain koper?"
Seketika Seora membulatkan matanya. "masa aku ditaroin di baling-baling?!"
Tunggu kenapa Jisung berjalan menuju sini?
"kita mau kemana?" Seora bertanya sembari lagi-lagi menahan tangan Jisung, bertujuan agar pemuda itu berhenti berjalan dan mau mendengarkan ucapannya.
"ikutin aja, gua bilang 'kan jangan bawel!"
Kini Jisung dan Seora sudah sampai pada tujuan terakhir, yaitu Rooftop.
"kesini? kita disini?" tanya Seora.
"iya, kenapa?" ujar Jisung yang terus menatap langit.
"ngapain kesini panas tau!" sungut Seora, tidak bohong hari sudah hampir tengah siang matahari hampir sejajar dengan kepala.
"kalo lu mau lu bisa jalan lurus ke ujung sana," kata Jisung sembari menunjuk-nunjuk.
"kesana? itu 'kan udah mentok nanti jatoh kebawah lah."
"iya nanti bisa ketemu sama tuhan," sahut Jisung.
"ishhh!!!"
Di menit berikutnya Jisung dan Seora saling terdiam, keduanya kini tengah duduk dibawah pintu rooftop yang di atasnya terdapat asbes besi.
"ih sung sung!!" Seora menepuk-nepuk paha Jisung yang sedang bersandar sembari menutup mata.
"apaan sih?"
"liat tuh ada helikopter!"
Jisung segera membuka matanya lebar, lalu menatap langit dan menemukan helikopter yang semakin mendekat ke arah Jisung dan Seora.
"loh kok kesini?" Seora masih bingung ditempat dan mulai panik sendiri.
"sini ra minggir!" teriak Jisung kepada Seora untuk meminggir karena helikopter akan mendarat diatas rooftop itu.
Suara bising baling-baling pun mulai terdengar memekakkan telinga.
Setelah helikopter berhasil mendarat diatas rooftop, pintu helikopter itu pun terbuka dan keluarlah seorang pemuda berjas hitam.
"hai bro!" sapa laki-laki itu kepada Jisung, mereka berdua kemudian bersalaman.
Laki-laki asing itu menatap Seora yang ada di belakang Jisung.
"your girlfriend?" tanyanya.
"bukan, dia cuma temen."
Laki-laki itu mengangguk-angguk kemudian tersenyum kepada Seora dan mengulurkan tangannya.
"halo! my name is Chenle."
