Semua akan baik-baik saja.
Semua di sekitar kita akan baik-baik saja.
Aku dan kau, kita akan baik-baik saja.
________
Sesuatu menyumbat di bagian tenggorokan dengan cepat dan juga kurasakan udara di sekitar perlahan menipis bersamaan lidahku yang terasa begitu kelu. Aku memeluk tubuh bibiku dengan perasaan cemas yang terus menerus bertahan di hatiku. Ada sebuah ketakutan yang sedang mengintai kami berdua di ruangan ini.
"Apa yang terjadi, dok?"
Tidak! Tidak! Aku tidak mau mendengar suaranya!
"Salah satu pembuluh di jantungnya pecah, kami sudah berusaha membantu pembuluh tersebut untuk tetap hidup dan sayangnya ada masalah lain lagi sekarang."
"Masalah apa lagi?!"
"Pecahnya pembuluh tersebut juga disusul dengan kerusakan pembuluh lainnya. Kondisi jantungnya sudah benar-benar parah. Kami juga mengecek kesahatannya akhir-akhir ini, jika kami analisis nyonya Kim telat melakukan penanganan. Dia sudah memendam rasa sakit itu selama setahun lebih dan saat dia dibawa ke rumah sakit, dia sudah masuk di tahap stadium akhir."
DEG!
Hatiku mengilu mendengarnya. Betapa menyakitkannya pernyataan dokter itu barusan dan aku tak pernah tahu jika ibu telah memendam penyakit tersebut selama setahun belakangan ini.
Kenapa dia harus menyembunyikan itu semua?!
Tangan bibi mengelus perlahan pundakku dan kudengar ada sebuah bisikan darinya di telinga kiriku. "Hyesang sayang, semuanya akan baik-baik saja." bisiknya.
Aku menggeleng ketakutan. Apanya yang baik-baik saja! Ibu dalam keadaan sekarat dan jantungnya sedang mengalami masalah berat sekarang. Aku tak akan bisa tenang dalam keadaan krusial seperti ini.
Sekali lagi bibi menyadarkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, hingga akhirnya aku melepaskan pelukanku dari tubuhnya. Bola mata dan hidungku terasa begitu perih mencoba menahan tangisan yang siap pecah saat ini.
Lalu pandanganku beralih menatap sosok dokter yang berada di depanku ini. Setelan baju operasinya begitu khas dan kulihat juga sarung tangan yang ia pakai terlumuri oleh banyaknya darah membuat aku meringis setiap melihatnya.
"Saya izin permisi."
Dokter itu menghilang segera dari pandanganku, dia berbalik badan memasuki kembali ruangan operasi di belakangnya dan aku memiliki sebuah firasat bahwa sesuatu tak akan terjadi seperti yang aku pikirkan.
"Semuanya akan baik-baik saja."
Bibi menggenggam erat tanganku yang begitu dingin kali ini dan menatapku dengan begitu yakin.
Semuanya akan baik-baik saja
Baik-baik saja
Baik-baik saja
Baik-baik saja
°°°°°
"Ayah jahat!"
"Jahat kenapa?"
"Membiarkan ibu terus menangis, sedangkan ayah dengan enaknya tiduran saja! Ayah suruh ibu berhenti menangis... ayo ayah!"
"Maafkan ayah...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome [TERBIT]
FanfictionACT - COLOR BLIND UNIVERSE ❝Tuhan itu adil. Tetaplah hidup dan aku akan menjadi pelangimu.❞ Ada banyak cara untuk jatuh tapi juga ada banyak usaha untuk bangkit dari tekanan. Jang Hyesang selalu terobsesi dengan yang namanya kematian, setelah ia men...
![Monochrome [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/166593632-64-k978087.jpg)