Penyelamat

4.2K 812 137
                                        

Sebagai musuhku, harusnya aku membiarkanmu mati saja hari ini. Aku lebih layak bernapas lega dibandingkan dirimu.

_________

"Payah!!"

Siang itu suasana panasnya tampak benar-benar membakar emosi Haechan kala itu. Dia tengah sibuk memikirkan tawaran lomba di salah satu universitas ternama di Korea. Di saat keadaan bandnya sedang tidak stabil dan dia benar-benar dibuat pusing dengan tawaran tersebut.

Haechan meraih ponselnya dan langsung menelpon seseorang saat itu juga, tapi sambungannya tidak berhasil terhubung. Hingga saking kesalnya, dia mulai menendang salah satu bangku rusak yang berada di gudang sekolah tempatnya saat ini berada.

"Ah sial!!"

BRUUK!!

"Meooong!!"

Tiba-tiba ada suara lainnya yang berhasil membuat dia terdiam sejenak. Suara yang muncul setelah tendangan kursinya yang keras dan suara itu persis dengan suara kucing yang tengah mengeong begitu keras.

Karena penasaran, akhirnya dia mendekat ke arah sumber suara tersebut dan di situ dia melihat ada kucing dengan belang cokelat hitam terbaring dengan kesakitan. Hewan itu mencoba untuk berjalan, tapi kaki kanan depannya terluka akibat hentakan kursi yang begitu keras tadi.

"Husssh!! Hussh!!" Haechan mengusirnya. Tanpa memperdulikan keadaannya yang tampak kesakitan saat berjalan, kucing itu lantas diusirnya lagi dengan kedua kakinya.

"Meeoong!!"

"Ya! Pergi kau!"

Perlu usaha untuk mengusir kucing tersebut. Karena baginya kucing itu hanyalah pengganggu suasana hatinya yang sedang buruk saat ini.

Setelah hewan itu pergi, Haechan pun segera memilih untuk pergi juga dikarenakan bel masuk telah berbunyi. Pikirannya masih benar-benar kacau dengan semua masalah yang terjadi sekarang.

°°°°°

"Jadi bagaimana semuanya? Masih tidak ada kejelasan?"

"Ck, aku juga tidak tahu."

"Haechan, kita tidak akan diam seperti ini saja, 'kan?"

Haechan mendengus mendengarkan perkataan Jaemin. "Aku juga bingung sekarang."

"Sebenarnya aku bingung apa yang sedang terjadi saat ini!?" Jisung sudah benar-benar dibuat pusing selama beberapa minggu ini karena band mereka sedang dalam kondisi yang tidak jelas.

Sekarang sudah memasuki jam pulang sekolah, di gerbang itu ada Haechan bersama Jaemin dan Jisung sedang sibuk membincangkan masalah band mereka. Haechan selaku yang paling banyak mengurus band tersebut, benar-benar dibuat pusing belum lagi tawaran lomba yang sedang mereka dapatkan saat ini.

Masalahnya dia sedang tidak berhubungan dengan baik dengan salah satu anggota bandnya yang mengambil posisi gitaris, Mark.

"Kau tahu si cacat itu?" buka Haechan lagi.

"Si cacat? Jang Hyesang itu?" Jisung tak tahu persis yang mana orangnya, tapi dia rasa dia sudah tahu masalah siswi yang paling sering dibully di sekolah ini.

"Mark akhir-akhir ini sedang dekat dengan si cacat itu dan karena si cacat itu juga dia jadi sering membelanya dan juga lupa dengan waktu latihan kita. Aku rasa si cacat itu mulai menghasuti Mark untuk-"

"Ck, sudahlah berhenti membicarakannya."

"Tidak bisa Jaemin! Band kita benar-benar dilanda masalah saat ini. Kalau sampai kita tak ikut lomba itu, sekolah bisa saja membekukan band kita!"

Monochrome [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang