Payung

4.4K 799 138
                                        

Aku sudah menyerah untuk percaya bahwa masih ada yang melindungiku dari belakang.

Karena tak ada yang sungguh hadir untukku.

______

"Minggu depan kita ada lomba kejuaraan band di Universitas Konkuk."

Suara itu sudah sejak lama membebani pikiran Mark dari minggu lalu. Pria muda itu masih sibuk membaca dengan seksama selembaran yang diberikan teman bandnya, Jaemin, barusan.

"Hyung, kita perlu latihan saat ini juga," ucapnya.

Mark menjauhkan pandangannya dari kertas itu, dia menatap Jaemin yang nyaris seperti kehilangan harapan. Anak muda ini memang selalu santai dari pergerakannya, namun untuk hari ini dia tampak sedikit berbeda.

"Ayo kita latihan." Dan Mark mencoba mengalihkan semua ketakutan dari anggota bandnya saat ini.

"Hyung, tapi— kita perlu memperbaiki keadaan saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?"

Mark menoleh ke arah Jaemin sambil menaikkan satu alisnya, "Tidak ada," jawabnya.

"Ayolah hyung, aku tahu ini pasti meributkan soal gadis aneh itu."

"Gadis aneh siapa?"

"Jang..Hyesang?"

Menyangkut gadis itu, Jaemin berhasil membuat Mark terdiam dalam satu kali gerakan. Rupanya selain Jisung, ia juga sudah mengetahui masalah tersebut.

"Tidak usah mengurusinya, hyung. Biarkan saja—"

"Kau salah,. Tidak begitu cara memperlakukan orang, bagaimanapun dia juga manusia. Dia hidup dan pastinya juga akan tersakiti jika diperlakukan seperti itu."

"Hyung membelanya?"

"Aku masih waras sebagai manusia normal yang tak memperlakukan sesamanya dengan sangat keji."

Giliran Jisung yang tak berkutik dalam satu kali ucapan, kini mereka semua mendadak terdiam. Topik yang satu ini selalu sensitif untuk dibahas. Lagian cukup bodoh, jika band ini hancur hanya karena seorang gadis yang menjadi masalahnya. Mark akhirnya bangkit dari tempat duduknya setelah satu jam lebih ia bertemu dengan keduanya di ruang musik ini.

"Lihat saja nanti."

°°°°°

Ayo.. tinggal melangkah saja apa susahnya sih!?

Jam istirahat baru saja dimulai. Setelah semua orang keluar dari kelas, aku buru-buru beranjak dari bangkuku untuk pergi dari tempat terburuk ini.

Sebelum pergi menuju toilet, kupastikan dulu koridor aman. Karena bagaimanapun aku masih takut jika harus bertemu dengan berandalan kelas, si Jungsu dan teman-temannya. Aku kerap mendengar suara tawanya yang sangat tak sopan ini bergema di lorong sepanjang ini.

Apa tenggorokannya tidak sakit? Kurasa dia layak menjadi pemain antagonis di opera. Setelah aman, aku segera berjalan cepat untuk menuju toilet.

Awalnya aku hendak menuju toilet utama yang berdekatan dengan lapangan sekolah, tapi kuputuskan untuk berpindah arah. Karena yang kutahu tempat itu adalah tempat menyeramkan lainnya. Tidak-tidak, toilet itu tak berhantu sama sekali (aku tak tahu itu ada hantunya atau tidak, tapi poin utamaku bukan di situ) toilet itu menyeramkan karena banyak anak perempuan yang sering pergi ke sana terutama

Anak perempuan yang kumaksud di sini adalah tentu saja Yura dan dayang-dayangnya. Toilet belakang ini biasanya digunakan untuk beberapa siswa yang merokok ataupun sibuk memadu kasih dengan pacarnya. Aku tak peduli. Tapi tempat ini memang berbahaya, jika sewaktu-waktu aku masuk dan tercium bau rokok di seragamku.

Monochrome [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang