Saudara

4.8K 844 91
                                        

Jang Hyesang, putriku sayang

Maaf jika kemarin ibu memarahimu. Ibu minta maaf atas perlakuan ibu yang cukup kasar ke padamu.

Sayang, jika ibu sudah tak ada lagi, kau harus berjanji untuk menjadi gadis yang baik. Kejar semua cita-citamu dan rajin-rajinlah bersekolah. Maaf, jika ibu tak pernah memberikan cinta kasih layaknya orang tua lainnya kepadamu, ibu minta maaf jika ibu juga selalu menelantarkanmu selama ini.

Maaf, ibu merahasiakan ini ke padamu. Soal bayi dan laki-laki itu, dia memang benar mantan suami dan anak ibu dulu. Dia adalah saudara tirimu dan sejujurnya ibu sudah tak tahu lagi dimana kabar mereka sekarang.

Maafkan ibu yang sudah merahasiakannya selama ini kepadamu. Ibu bersalah untuk segalanya.

Sayang, jadi anak yang baik ya. Turuti perkataan bibimu dan keluarganya. Ibu menitipkanmu kepada mereka. Ibu menyayangimu sayang.

Tetaplah hidup untuk ibu ya..

_____________

Tetaplah hidup...

Bu, untuk hidup saja aku sudah menyerah. Bahkan beberapa kali aku memilih untuk mengakhirinya..

Dunia terlalu berat dan lebih lagi untuk yang sudah kehilangan semuanya..

Aku termenung sendirian di kamar ibu dengan keadaanku yang sudah sangat hancur, bahkan lebih mirip seperti mayat hidup. Lagi-lagi aku disakiti oleh kenyataannya. Tenggorokanku tercekat saat membaca setiap isi surat yang dia tuliskan kepadaku. Aku mendapatinya dari Kak Doyoung di pemakaman ibu kemarin.

"Ibu tak mengerti..." Aku terpukul, benar-benar terpukul saat membaca kalimat terakhir di tulisan itu.

Aku selalu tak berdaya dengan kalimat seperti itu. Hidup. Hidup. Hidup. Orang-orang selalu mengatakannya dengan begitu mudah. Apa mereka tak sadar beberapa dari mereka juga terlahir tak seberuntung seperti aku?

Kau mengatakan itu karena hidupmu sudah tercukupi. Kau tak perlu merasakan seperti aku yang telah kehilangan banyak asa untuk tetap meneruskan semuanya. Aku di dunia ini dengan siapa? Aku sendirian! Keluargaku benar-benar sudah tidak ada.

Aku menutup kembali kertas tersebut. Kini masa lalunya telah ia ceritakan kepadaku, walau tak sedetail seperti yang aku inginkan. Ya, setidaknya dia telah mengakui rahasia tentang masa lalunya itu. Sekarang di dalam heningnya ruangan kamarku ini, aku merasakan ada sesuatu yang melintas cepat di pikiranku.

Gelang merah

Aku masih penasaran akan benda itu dan benda itu juga masih dipakai oleh Kak Doyoung. Dia pasti tahu tentang masa lalu yang sebenarnya terjadi.

°°°°°

Duka melanda kita semua, tapi realita akan terus berjalan di samping kita.

Tiga hari libur setelah dilanda duka, akhirnya Kamis ini Hyesang memutuskan untuk masuk kembali ke sekolah. Dia sudah meyakinkan dirinya jika dia siap secara mental dan fisik untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Siang itu sekolah sedang memasuki jam istirahat. Semua orang telah keluar dari dalam kelas untuk beristirahat dan sisanya ada yang sibuk melakukan aktivitasnya di kelas.

Hyesang masih sendirian dan untungnya tak ada yang mengganggunya di hari ini. Dia sedikit bersyukur bisa menikmati ketenangan di kelas tanpa harus melukai mentalnya lagi dikarenakan hinaan yang kerap kali berdatangan ke arahnya. Oh ya, mereka semua tahu aku sedang dilanda duka, aku anak yang baru saja menyabet gelar yatim piatu dan terlalu menyedihkan untuk dilukai di waktu-waktu seperti ini..

Monochrome [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang