Bertahanlah. Aku mohon kepadamu bertahanlah dalam waktu-waktu yang kerap membuat kita putus asa.
__________
Pagi ini aku tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sebenarnya aku tak memiliki niatan yang kuat untuk datang ke sekolah, bahkan menyusun bukupun sering kulakukan di pagi hari. Aku memang pemalas.
TOK TOK
Segera kuselesaikan kerjaanku, ketika kudengar ada suara ketukan pintu dari luar. Saat kubuka, aku mendapatkan ada sosok bibiku disana.
"Ada apa, Bi?" tanyaku.
"Ayo sarapan di rumah. Bibi masak sup kimchi banyak, tak ada orang yang akan menghabiskannya nanti," ucap bibi, lalu dia berlalu kembali ke rumahnya.
Aku mengangguk, tanpa tunggu lama lagi, aku langsung pergi ke rumah bibi untuk ikut sarapan pagi bersamanya.
°°°°°
"Bagaimana sekolahmu, Hyesang?"
Aku melemparkan pandangan ke sampingku mendapati ada sosok pria paruh baya yang tak lain adalah suami bibiku sekaligus ayahnya Kak Doyoung.
"Baik," balasku sambil mengangguk lalu menyudahi sarapanku pagi ini. Sejujurnya, aku berbohong soal keadaan sekolahku itu.
Selama sarapan, aku sama sekali tak melihat sosok Kak Doyoung di sini. Apa dia sibuk berkuliah lagi?
"Ehmm, Kak Doyoung dimana?" tanyaku, pasalnya dia tak muncul selama kami sarapan.
"Dia sedang mengurus tugas kuliahnya di Busan," jawab bibi langsung.
Oh sial, aku nyaris memecahkan masalah itu dan kini aku harus berakhir dengan mati penasaran akan gelang yang ia pakai itu.
Bagaimana jika bertanya dengan bibi?
Mungkin bisa, dia pasti mengetahui soal masalah itu juga. Tapi aku pikir-pikir, ketika melihatnya dia seolah-olah juga membungkam soal masalah itu.
"Hyesang, kau tak pergi ke sekolah?"
"Ah—iya, aku pamit pergi. Terima kasih untuk sarapannya."
°°°°°
Jam istirahat pagi ini sedang berlangsung di sekolah. Hyesang tengah sibuk mencoret di atas koran yang menampilkan halaman yang berisi lowongan kerja.
Sudah sepuluh kali dia menelpon beberapa pihak yang menyediakan lowongan kerja tersebut, namun tak ada satupun yang cocok dengannya ataupun kriterianya yang belum mencukupi untuk diterima di lowongan tersebut.
Hyesang saat ini sedang tak berada di dalam kelasnya, dia sedang terduduk di taman belakang sekolah. Tempat yang jarang dikunjungi oleh siapapun kecuali petugas kebersihan di sekolah ini.
"Kenapa ini sulit sekali?!" geramnya. Ia nyaris putus asa untuk mendapatkan pekerjaan karena apapun yang terjadi dia butuh uang untuk tetap hidup.
Dia menundukkan kepalanya karena terlalu lelah menatap lembaran koran tersebut yang sama sekali tak menunjukkan sedikitpun harapan untuknya.
Tapi, tak berapa lama sesuatu datang ke arahnya dengan cepat. Dia segera menaikkan kepalanya lalu menatap ke depannya yang menampakkan sosok orang lain yang cukup tak asing di matanya.
"Hyesang!"
"Narin?"
Hyesang mengerutkan dahinya. Dia bingung dengan kedatangan Narin yang tampak tergesa-gesa itu dan lagipun bagaimana anak ini tahu jika ia sedang berada di sini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome [TERBIT]
Fiksi PenggemarACT - COLOR BLIND UNIVERSE ❝Tuhan itu adil. Tetaplah hidup dan aku akan menjadi pelangimu.❞ Ada banyak cara untuk jatuh tapi juga ada banyak usaha untuk bangkit dari tekanan. Jang Hyesang selalu terobsesi dengan yang namanya kematian, setelah ia men...
![Monochrome [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/166593632-64-k978087.jpg)