BraydenLy | Chapter 5

19 9 0
                                        


Sudah hampir 2 jam lebih mereka berusaha mencari Lydia, akan tetapi tak jumpa juga. Hari semakin sore, mereka khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Lydia.

Amel, Luke, Ryan, dan Daniel sudah berkumpul di lapangan. Mereka sudah kelelahan mencari. Amel, bisa dibilang cewe itu yang sangat khawatir. Sedari tadi ia asik mengusap-usap pipinya dengan kasar sampai pipinya memerah. Dikarenakan air matanya sedari tadi meluncur dengan tidak sopan. Luke dengn yang lainnya sudah pasrah menenangkan Amel, niatnya ingin menenangkan malah membuat Amel menjadi histeris.

•••••

Brayden sedari tadi tak berhenti-hentinya mencari keberadaan Lydia. Mulai dari seluruh kantin, toilet, perpustakaan, ruang music, ruang dance, indoor, lapangan basket, gudang taman belakang.

Brayden berhenti sejenak di tengah-tengah koridor lantai satu guna menetralkan nafasnya yang tidak beraturan. Ia berpikir tempat mana yang belum ia periksa. Daripada banyak berpikir ia memilih untuk melanjutkan terus perjalanannya.

Saat di ujung koridor, Brayden hampir saja terpeleset. Ia sempat menyumpah serapah tukang pel yang bekerja tidak benar, ia pun menundukkan kepalanya. Akan tetapi, alangkah terkejutnya saat ia melihat apa yang membuatnya terpeleset. Darah.

Dengan spontan ia menoleh kearah kiri, ia mendongakkan kepalanya diatas pintu tersebut tertulis Toilet. Brayden sudah memikirkan yang tidak-tidak. Ia langsung saja membuka pintu tersebut.

Akan tetapi, saat membuka pintu, pintu terkunci. Langsung saja Brayden mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Karena pintu tersebut terbuat dari besi yang tebal, membuat pintu tersebut tidak terbuka. Brayden putus asa. ia menghela napas ia tak boleh panik, jika panik malah membuat keadaan bertambah menjadi runyam. Brayden mundur beberapa langkah. Lalu dalam hitungan ketiga, ia berjalan dan menendang pintu tersebut.

Brakk

Berhasil. Brayden langsung masuk. Saat sudah masuk ia langsung disuguhkan pemandangan Lydia yang sedang meringkuk di ujung dinding dekat wastafel yang berpapasan langsung dengan pintu. Wajahnya pucat, rambutnya lepek, baju sekolah nya basah,  darah terus mengalir dari kepalanya. Brayden membuka kemeja panjang sekolahnya menyisakan kaus hitam didalamnya. Ia  dengan perlahan membalut  Lydia guna memberhentikan darah yang keluar dari belakang kepalanya.

Setelah membalut, langsung saja ia menggendong Lydia dan membawanya turun dengan jalan yang cepat.

"OI!" teriak Brayden dari lapangan.

Amel dan lainnya dengan spontan melihat kearah Brayden. Mereka terkejut melihat Lydia yang berada di gendongan Brayden. Kemeja Brayden sudah berlumuran darah. Mereka langsung bangkit dan berlari keparkiran.

Sesampai diparkiran, mereka memilih menaiki mobil Amel, dikarenakan Amel membawa mobil pajero yang bisa mengangkut mereka semua. Kemudi di ambil alih oleh Luke, disamping Luke ad Ryan, di belakang ada Amel, Brayden dan Lydia dengan kepala Lydia dipangku oleh Brayden. Di belakang Daniel sibuk menelpon pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi, karna Daniel yakin, bahwa Lydia perlu dijahit bagian belakang kepalanya. Maklum anak dokter.

Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di Rumah Sakit. Brayden langsubg membawa Lydia masuk dengn berlari. Sesampainya didalam sudah banyak perawat yang telah siap dengan pakaian operasi dan dengan bankar untuk membawa Lydia langsung keruang operasi.

Brayden dengan perlahan menaruh Lydia diatas bankar. Ia semakin khawatir, tubuh Lydia semakin dingin, napasnya juga terlihat terputus-putus darah tak berhenti keluar dari kepalanya.

"Mana?" Tanya Amel kepada Brayden yang dijawab dengan tunjukan jari telunjuk Brayden ke ruangan didepannya.

Amel seketika lemas melihat ruang didepannya. Ia terduduk di kursi depan, ia menunduk dan mulai menangis.

"Tolong jangan terulang lagi tuhan..." gumamnya yang masih bisa didengar oleh Brayden.

'Apa maksudnya?' batin Brayden bertanya

•••••

Sedangkan di Cafe.

"Gimana keadaannya sekarang?" tanya seorang Cowo kepada cewe didepannya.

"Setelah gue pantau dari jauh dia udah dibawa ke RS" jawab perempuan tersebut santai

"Siapa yang bawa?"

"Brayden dkk, dan sahabatnya yang berwajah korea itu"

"Oke. Gue akui kerja lo bagus kali ini. Ini bayarannya" ucapnya sambil memberi amplop berwarna coklat yang diyakini berisi uang.

"Btw, emang bener Mama nya si cewe kampungan itu ke mana sih?" tanya cewe tersebut.

Cowo itu tersenyum "lo mau tau?"

"Pasti"

Cowo tersebut tersenyum miring, lalu menceritakan semuanya.

•••BraydenLy•••

Sedikit? Maaf ya... Ada suatu hal yang membuat Author up nya lama terus pendek! Mian gengs!

Kalau banyak Typo maap maap aj ni ye! Author ngetiknya di note. Dan males revisi ulang ehe.

Tapi tenang aja! Inshaallah besok up lagi! Dan inshaallah 3 part deh ya? Atupun 2.

Tetap menjadi pembaca setia BraydenLy!  VOTMENT🌾

Ini yang dari tadi nangis;(

BraydenLyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang