2- Roti dan Harsa

16 1 1
                                        


Bell istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Namun, Ashara masih berada di ruang matematika dengan buku latihannya. Syarat untuk keluar kelas, menyelesaikan soal yang di kasih Bu Beti. Biasanya, ia nyontek Natea. Namun, hari ini Natea tidak masuk sekolah, membuatnya harus berpikir sendiri.

Corat coret angka ada di mana-mana. Selain Ashara, masih ada lima orang lagi di kelas. Sebenarnya Ashara nggak bodoh banget, tapi ini materi baru dan tadi Ashara tidur. Anaknya pemilik sekolah malah tidur di kelas.

Tinggal dua soal lagi, ia selesai. Namun catatan rumus yang tidak lengkap membuatnya harus mencari-cari di buku paket.

Lagi fokus nyari rumus di buku, ada tiga orang masuk ruang matematika sambil membawa tas. Karena Tulta punya sistem moving class, jadi pasti ruangan ini mau dipakai kelas lain.

Tiga orang? Pasti kalian bisa tebak. Itu Navre, Harsa, dan Adelio. Dengan gaya cool mereka masuk ke ruang matematika.

"Woy! Adeknya Aksa!" panggil Harsa dengan suara pelan. Ashara mendengar nama kakaknya disebut, ia menoleh. "Lo yang kemarin di Sency kan?" tanya Harsa. Ashara mengangguk, lalu kembali berkutat dengan bukunya. Melihat Ashara kebingungan dengan matematika, Harsa menarik buku Ashara lalu membacanya.

"Buset, ini apaan kok banyak corat coret?" gumam Harsa. Ashara mendengar itu cengengesan. "Pulpen, dong." pinta Harsa, langsung diberi pulpen Ashara. 2 menit, Harsa menyerahkan buku Ashara kembali. "Nih, selesai." katanya. Ashara melirik bukunya. "Ma-makasih, kak."

Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Bu Beti. Lalu ia balik ke tempat duduknya, sembari membereskan barang-barangnya yang berserakan di meja.

"Kemaren yang ngerangkul lo, itu pacar?" tanya Harsa. Mendengar itu, Ashara membulatkan matanya lalu cepat-cepat menggeleng. "Nggak, kak. Itu temen gue. Tapi kenal dari kecil jadi deket banget." jawabnya lengkap. Harsa mengangguk, lalu menyenggol lengan Navre. "Tuh, Vre. Jomblo. Katanya lo lagi nyari cewek?" kata Harsa, dibalas Navre dengan roll eyesnya.

"Eh, masa, kata Navre lo cantik." tiba-tiba Adelio berceletuk. Ashara mendengar itu berusaha menahan dirinya agar tidak heboh. "M-makasih."
"Del, apaan, sih? Lo mau gue mati sama Aksa?" Navre mendorong Adelio. Navre melirik jam tangannya, lalu ke Ashara. "Mendingan lo ke kantin, deh. Istirahat tinggal 5 menit lagi. Abis ini lo mapel apa?" tanya Navre. Ashara menahan senyumnya. "Sama Pak Dadang." jawab Ashara.  "Oh, di sebelah doang. Ambil roti gue aja, nih." Navre menyodorkan sebungkus roti cokelat. "Udah sana, keluar. Kelas ini mau gue pake." kata Navre. Ashara mengangguk lalu bergegas keluar. "Makasih, duluan, kak" katanya sebelum keluar. Adelio melambai-lambaikan tangannya, dan Harsa hanya tersenyum. Navre mengabaikannya karena ia sedang memainkan ponselnya.

Walaupun ia diusir, namun tak apa. Yang penting dapet rotinya Navre! Rasanya pengen gulang guling sekarang juga.

~~~

Pulang sekolah, Ashara segera pergi ke spot dimana biasa Ashara dan teman-temannya duduk saat pulang sekolah. Sudah ada Tara dan Fraza yang sedang berdebat.

"Tau nggak, suara kalian dari jarak 10 meter kedengeran. Apalagi kalimat anjing-anjingannya." kata Ashara saat mau duduk. Tara mendengus. "Si Fraza, masa gue cuman bilang kalo tulisan dia sekarang makin jelek, EH DIA MALAH NGAMUK!!" jelas Tara berapi-api. Heran, Fraza dan Tara ini selalu berantem. Kalau ada Natea, pasti mereka berdua sudah dimarahi.

"Astaga, gitu doang berantem. Mendingan, liat roti gue." Ashara mengeluarkan sebungkus roti dari dalam tasnya.

"Hih, roti doang. Eike juga bisa beli kalee." kata Fraza. Ashara mendengus kasar. "Doang? Ini gue dikasih Navre." kata Ashara dengan nada tenang.

Tara memutar bola matanya. "Keseringan halu, lo" katanya. Fraza lalu mengambil roti yang Ashara berikan. "Tapi, sejak kapan lo beli roti? Lo kan kalo makan banyak. Biasanya roti doang nggak kenyang." kata Fraza masih mengamati roti tersebut.

ASHARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang