VireyPOV
Yap... Hari ini aku berencana untuk pergi ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Sebelum berangkat sekolah aku sarapan dulu, kali ini aku tidak berangkat pagi seperti biasanya. Alasannya? M.A.L.A.S.
Selesai sarapan aku langsung berangkat ke sekolahku, sudah jam tujuh pagi. Biasanya aku sudah sampai di sekolah jam setengah tujuh.
Sialnya, saat di lampu merah, aku melihat kecelakaan mobil yang membuat moodku menurun. Aku makin malas saja untuk ke sekolah.
Sampai di sekolah, Ken menyapaku seperti biasa. Em maaf, bukan seperti biasa, karena biasanya Lily yang menyapaku, aku rindu Lily. "Selamat pagi. Tumben datang siang." Sapa Ken.
Aku tersenyum dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku mempunyai firasat yang buruk hari ini.
BRAK! Ada yang mendobrak pintu kelasku. "Hanami-San! Cepat pergi ke rumah sakit tempat Xavier-San dirawat! Cepat!" Seru Kanbara-Sensei. Aku mengangguk dan menggendong tasku.
"Aku tidak perlu ikut pelajaran?" Tanyaku saat sampai di pintu kelas. Kanbara-Sensei menggeleng. Aku langsung berlari dan dengan cepat memanggil taksi.
Aku meminta supaya taksi itu cepat jalannya. Aku sangat khawatir tentang Lily. Aku hanya berdo'a.
Sampai rumah sakit. Aku bertanya pada suster dimana Lily. Karena mendengar cara bicara Kanbara-Sensei tadi, aku yakin Lily sedang kritis. "Lily Xavier sedang ada di UGD. Tapi anda tidak bisa menemuinya sekarang." Kata suster itu.
"Kenapa?! Aku harus melihat kondisinya sekarang!" Seruku. Suster menggeleng. "Lily-San sedang sangat kritis sekarang." Kata suster. Seketika tubuhku menjadi sangat lemas. "Hanami-Chan!" Panggil seseorang, Valeria-San! "Valeria-San." Aku langsung mengahmpiri Valeria-San.
"Lily mana? Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyaku. Aku sangat panik. "Dokter sedang melakukan yang terbaik sekarang. Kita hanya harus berdo'a." Kata Valeria-San.
Aku terduduk di kursi. "Tuhan, aku mohon buatlah kondisi sahabatku membaik, aku tidak ingin dia menderita. Tuhan, aku ingin dia sehat seperti dulu. Aku ingin dia menjadi semangat lagi. Aku mohon, Tuhan." Itulah yang aku ucapkan terus menerus.
Lima belas menit berlalu. Dokter keluar dari ruangan. "Valeria-San, Lily-San meminta berbicara dengan Virey-San." Kata dokter. Aku langsung berlari. "Aku Virey. Bagaimana keadaan Lily?" Tanyaku. "Mari ikut saya." Kata dokter sambil berjalan menuju ruangan yang diikuti olehku dan Valeria-San.
"Lily-Chan!" Kataku. "V... Vi... Virey-Chan." Kata Lily. Suaranya kecil. Aku mendekatkan telingaku ke mukanya. "Virey-Chan. M... Maaf.. K.. Kalau aku banyak salah... S.. Sama kamu... Uhuk. A.. Aku belum bisa... Membuatmu b... Bahagia. Maafkan aku." Kata Lily. "Tidak Lily. Kamu sahabat terbaikku. Terima kasih buat semuanya, terima kasih." Kataku sambil menitikkan air mata.
"Terima kasih j... Juga ka... Karena mau... Jadi s... Sahabatku." Kata Lily. "Ketika aku... S... Sudah g... Gak ada... B... Baca surat d... Dibawah ban... Bantal kasur... R.. Ruang... Inap... Ku..." Lanjutnya.
Tiiiiittt.... "Ly!!! Lily!!" Teriakku. Dokter langsung memeriksa Lily. "Dia sudah tidak ada." Kata dokter. "Lily!!!" Teriakku histeris. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Lily.
"Tuhan, mengapa kau mengambil semua orang yang aku sayangi? Apakah aku tidak berhak bahagia? Kenapa, Tuhan?" Seruku dalam hati.
Valeria-San menangis sambil menelepon Manuel-San. Tak lama kemudian, Manuel-San dan mamah sudah sampai di UGD.
Setelah keluarga Lily lengkap, pemakaman-pun dilaksanakan. Sudah banyak yang datang, mulai dari kelurga besar, teman sekelas, tetangga serta guru-guru.
Entah kenapa, air mataku belum bisa berhenti. Setelah, pemakaman selesai, aku dan Valeria-San kembali ke rumah sakit lalu membereskan kamar inap Lily. Tidak lupa, aku mengambil surat yang Lily maksud.
Aku mohon semoga air mataku tidak keluar lagi, mataku sudah bengkak karena mengeluarkan air mata terus.
AuthorPOV
Virey membaca surat itu. Yap, tidak sesuai permohonannya. Dia kembali menangis.
'Yo Virey-Chan^^ Di surat ini, aku hanya mau bilang terima kasih karena sudah mau jadi sahabatku. Dan maaf kalau aku bukan sahabat yang baik:( Oh iya Virey, aku tahu kok sifatmu, jangan pernah menyalahkan Tuhan dengan semua yang terjadi. Dengan aku pergi, aku menjadi tidak sakit lagi kan? Aku minta, kamu jangan pernah menyalahkan Tuhan! Pokoknya jangan! Dan, jangan sedih dengan kepergianku. Hmm aku tahu lagi, kamu pasti berpikir "Bagaimana gak sedih?" haha, maaf deh. Pokoknya jangan pernah meratapi kejadian menyedihkan, selalu semangat juga ya^^ karena jika kamu senang, aku pun akan senang.
Oh iya, tolong sampaikan pada mom dan dad. Bahwa aku sangat ber-terima kasih karena telah merawatku, dan maaf jika aku nakal. Pokoknya, mom dan dad yang terbaik! ^^
Dan semoga, hubunganmu dengan Ken berjalan baik ya, hehe. Ya udah... Selamat tinggal~
-Lily Xavier'
Virey memberikan surat itu pada Valeria-San. Ya... Mungkin tidak mudah bagi Virey menjalani semua ini, karena baru beberapa bulan Virey bersahabat dengan Lily, tapi Lily malah meninggal. Coba bayangkan jika kalian menjadi Virey, kalian bakal sedih banget kan?
Virey memutuskan untuk pulang karena tidak tahan. Ketika sampai rumah Virey langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Mamah yang tahu ini bakal terjadi langsung mengetuk pintu kamar Virey.
"Virey... Apa kamu baik-baik saja? Keluarlah." Kata mamah. Virey tidak merespon karena tidak dengar. Dia hanya berbaring dikasur sambil memeluk guling. Dan dia juga mendengarkan lagu menggunakan headshet dengan volume full. Makanya dia tidak dengar apapun.
Jika itu merusak telinga? Virey hanya bodo amat. Dia tidak peduli dengan dunia luar. Menangis. Ya itulah pilihan terbaik menurut Virey.
S
.
K
.
I
.
P
Virey memutuskan untuk tidak sekolah hari ini. Mungkin seterusnya juga. Virey depresi. Dulu, saat ada Lily, Virey mencoba untuk tidak menjadi nolep lagi, tapi sekarang Lily tidak ada. Virey menghapus niatnya itu.
Kegiatan Virey hanya main game dan menonton anime. Walau anime itu bergenre komedi, entah kenapa dia tidak tertawa. Ekspresinya datar.
Sesekali, Virey keluar kamar dan mengambil beberapa cemilan dan air minum. Ketika ditanya, Virey hanya diam.
Ya begitulah sikap Virey selama seminggu, Ken tidak tinggal diam. Setiap pulang sekolah, Ken selalu mengetuk pintu kamar Virey dan bertanya. Dan kadang mengirimkan surat.
Boro-boro dibaca, dilirik atau disentuh saja tidak pernah. "Apa sih yang bisa menghiburku sekarang? Apa aku gak bisa bahagia lagi?" Sesekali, Virey berpikir seperti itu. Sungguh pemikiran yang sangat buruk.
Virey berencana untuk bunuh diri? Tidak, Virey tidak pernah berpikir demikian. Kenapa? Karena Virey masih ingin hidup, ya walau Virey hidup pun sia-sia.
Bersambung...
Hola minna-san^^ mentok diakhir, makanya pas diakhir agak aneh:v jangan lupa di vote dan comment ya... Bubay~
KAMU SEDANG MEMBACA
NOLEP✓
RandomHaloo! Cuman mau bilang, ini adalah cerita pertama kali yang aku bikin. Masih banyak typo dan tanda baca yang nggak pas jadi mohon maklum aja. Sebenernya pengen banget aku unpub atau hapus tapi sayang aja gitu buat kenang-kenangan hehe. Jadi maaf aj...
