"Elo masih aja kayak dulu, polos.""Iya juga ya Erik, gua kayak gini aja."
"Elo kalo ada yang ngebuli lo. Lo jangan diem aja geh Dir--"
"Iya iya.."
Erik dan Nadira masih berpelukan di dalam kelas. Nadira sampai lupa bahwa ia sedang memeluk Erik dan didalam kelas.
"Ehem.. cie cie."
Nadira dan Erik kaget dan saling mendorong tubuh mereka menjauh karena ada Ani yang melihat mereka berpelukan mesra.
"A--apasih Ani!?" Gagap Nadira bingung.
"Iya sih.. yang udah pacaran mah bebas, udah kangen aja dari kemarin chat chatan doang sekarang udah pelukan. Iya sih gua yang jomblo cuma bisa nontonin elorang doang."
"Ani.. gua punya nomor Erik aja kagak." Jawab Nadira enteng.
Erik hanya terdiam, ia berfikir selama ini ia tidak pernah memberi nomor nya ke Nadira.
"Tapi pacaran kan--"
"Gak!" Jawab Erik dan Nadira serempak dan kembali ke tempat duduknya.
***Jam istirahat datang, Tika langsung keluar dari kelas namun ia dicegat Nadira dengan memegang tangan nya dengan erat.
"Iiih apaan sih?! Gak usah megang megang!"
Dengan tenaga kuat Nadira membalikkan tubuhnya Tika yang tadinya didepan sekarang dibelakang menghadap wajah Nadira dan memetikkan jarinya.
Tik..Tik..
Tubuh dan wajah Tika seketika kaku, sebenarnya ia tidak mau melakukan ini. Namun ia akan melakukan nya karena ia ingin bermain dengan Tika seperti dulu.
"Ayo Tika, kita ke Ani."
Mereka mencari Ani dan menemukan nya di kantin.
"Woy, Ani!" Teriak Nadira memanggil Ani.
"Woy! Gua disini!"
Nadira dan Tika mendekat ke Ani yang sudah memesan seblak kesukaan Nadira.
"Weeeeh.. cie udah akur ya?" Tanya Ani kepada Nadira. Nadira sebenarnya bingung harus menjawabnya apa.. karena ia belom akur dan meminta maaf dengan tulus Tika padanya.
"I--iya, gue dan Tika udah baikan. Iya kan Tika?"
Tika mengangguk angguk kan kepalanya dan Ani melihat sahabatnya begitu aneh, anggukan kepala nya begitu agak kaku.
"Hmmm.. ngomong ngomong, memang nya ada masalah apaan sih? Kok sampe berantem?" Pertanyaan Ani membuat Nadira berkucuran air keringat di dahinya, ia bingung harus menjawab apa.
"I--itu.. masalah sepele kok." Jawab Nadira gagap
"Oooh gitu." Singkat saja Ani,ia hanya berfikiran bahwa kalau ia terus bertanya tentang masalah apa, takutnya akan teringat lagi.
"Mmm.. gue--gue pengen minta sesuatu."
Tiba tiba Ani bersuara sambil meminta sesuatu."Mau apa?"
"Gue mau,kalau apapun yang terjadi dan masalah apapun itu.. kita gak boleh berpisah, persahabatan kita gak boleh putus sampe kapan pun. Gue mau kalau kita berjanji itu."
"Oke." Jawab Nadira sambil tersenyum dan diikuti dengan kata iya dari Tika.
Mereka berjanji akan tetap menjaga persahabatan mereka meski Tika tidak dalam dirinya, yaitu itu bukan dia. Melainkan Nadira yang masih mengendalikan nya.
Mereka bersenang senang dengan senyuman di kedua sudut bibir mereka sambil memakan seblak,kecuali Tika yang hanya tersenyum, tertawa, dan terkadang berbicara sedikit.
"Eh.. ngomong ngomong, kok Tika gak makan makan? Elo diet?" Tanya Ani dengan Tika.
"Iya, katanya sih mau diet dia." Nadira yang menjawab pertanyaan itu sambil memamerkan gigi putih nya.
"Gila sih,padahal kan udah kurus mirip cacing kermi!"
"Hahahaha.." Tawa candaan mereka begitu ceria,sampai ada sesuatu yang terjadi. Ada seseorang yang bertepuk tangan disebelah meja mereka untuk menegur mereka yang sudah tertawa dari tadi.
Prok..Prok..
Suara tepuk tangan dari salah satu cowok disamping meja mereka yang menegur tertawa mereka yang dari tadi,membuat mata Tika merem merem melek,ia seperti tersadar dari hipnotis Nadira.
"Woy, cewek yang disamping dan berwajah manis.. bisa diem gak?"
"Auuuh.. sakit." Suara Tika dengan lirihnya membuat cowok cowok disamping meja mereka kaget.
"Eh.. kita orang gak ngelakuin apa apa ya."
Mereka agak panik karena takutnya para cewek cewek itu akan menyalahkan mereka dan orang orang yang ada dikantin juga."Eh elo gak apa apa Tik?" Tanya Ani agak panik melihat Tika yang kepusingan dan hampir pingsan.
Waduuuh.. cowok cowok itu tepuk tangan,jadi kebangun Tika nya.. padahal mau bangunin Tika pas di kelas biar Tika gak terlalu nyadar.
Dalam hati Nadira ia begitu panik,karena ia akan membangunkan Tika saat sudah berada didalam kelas,namun sekarang Tika sudah bangun dan tersadar.
"Sakit banget nih kepala gua.. eh ini kok ada di kantin?"
"Lah kan dari tadi Tika.. kita ngobrol ngobrol disini."
"Tapi kok gue gak nyadar ya? Aaah sakit.." Tika memegang kepala nya yang pusing."
"E--eh elo mau dibawa ke UKS kagak?"
"Gak usah Ani,gue mau didalam kelas aja deh."
"Yaudah.. Nadira elo bawa Tika ke kelas elo ya."
"I--iya Ani, ayo Tika kita ke kelas." Ajak Nadira pelan pelan sambil menuntun nya sampai ke kelas.
"Aduh,untung kelas kita gak jauh jauh amat kayak kelas deket gudang itu."
"Iya Tika." Jawab Nadira singkat.
"Mmmm.. ngomong ngomong,kok gue ada dikantin ya bareng Ani dan elo?"
"Ki--kita udah disana dari tadi,kita ngobrol ngobrol, ketawa tawa, dan berjanji."
"Janji apaan?"
"Janji akan setia selalu persahabatan kita, walau ada banyak masalah."
"Oooh,terus kok gua mau-an ya ngomong sana elo,padahal gua kan lagi musuhan sama elo." Ketus Tika menanggapi Nadira.
"Iya... Kan kita udah baikan dan minta maaf dan oke lah gue minta maaf lagi yang kemaren ya."
"Jawab dulu gue kenapa gue masih gak nyadar pas dikantin?"
"Ya.. gue kagak tahulah." Jawab Nadira sambil duduk di bangku nya.
Hmmm.. apa ini sama ya dengan kasus Hans yang gak sadar dia lagi dimana dan lagi ngapain terus ada Nadira.. kok gue curiga ya sama Nadira.
Dalam hati Tika ia masih bertanya tanya dan bingung. Dan juga ia curiga kepada Nadira, pasti ada sesuatu..***

KAMU SEDANG MEMBACA
I Make Him Love Me (cerita ini sepertinya tidak dilanjutkan kembali)
Random(8/7/2019) #1 Hypnosis (8/7/2019) #3 Tika (8/7/2019) #5 Nadira (8/7/2019) #5 Hans (10/7/2019) #29 Basket Nadira Tia Safitri gadis cantik yang mencintai cowok berhati es bernama Hans Saputra. Ia ingin menaklukkan hati Hans tapi itu tidak menjadi masa...