Perasaan Nadira saat ini adalah disatu sisi ia senang karena ia tidak bersahabat dengan Tika. Satu sisi lainnya ia takut untuk bertemu Tika karena dia sekelas dengan Tika, apalagi ia sebelahan dengan nya."Gue tau elo lagi mikirin si Tika, udah jangan khawatir.. kalo dia berontak lagi, elo tinggal ngamuk aja ke dia."
"Hahahaha.. iya iya, yaudah gua balik ke kelas ya."
"Oke bye.." Nadira berlari menuju kelasnya dan ia melihat Tika yang sudah membahas sambil tangannya menutup matanya. Dan disana ada Erik yang sedang berbicara dengan Tika, ia langsung saja menemui mereka berdua namun ia hampir jatuh karena berhenti mendadak, didepannya sudah ada Erik dengan wajahnya yang memerah.
"Lo apain Tika?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Erik membuat Nadira bingung.
"Gue--gue gak apa apain dia ko---"
"Terus kenapa ada lebam dipipi sama bibir dia? Lo berantem lagi?" Nadira kaget mendengar kata kata Erik, lebam dipipi dan bibir? Ia tak pernah menonjok wajah Tika.
"Haaah?! Lebam? Dipipi? Dibibir?!"
"Gua tuh bingung, apa sih masalah kamu orang itu?! Tiap hari berantem mulu! Heran gua, kok tiba tiba elo yang kasar.."
"Gua gak pernah nonjok muka dia Erik.. gua--gua gak pernah! Lagian masalah ini juga dia yang salah--"
"Cukup Dira! Lo itu udah kasar banget tau gak sih? Gua gak suka sama cewek yang kasar.. apalagi ngebentak bentak cowok!"
"Siapa juga yang suka sama lo? Pede amat ngomong kayak gitu.. dan iya, gua ngebentak bentak elo karena dikasih tau juga lo bakal ngeyel dan gak ngerti! Sono pacaran aja sama Tika! Sama sama mirip monyet!" Lantang Nadira sambil menunjuk Tika.
"Dasar cewek sinting! Elo mau ngajak berantem lagi ternyata, lo mau hajar gua lagi? Cepetan sini hajar gua! Bawa golok sekalian.."
"Cukuuup!!! Diem semuanya Nadira lo duduk cepetan sana!"
"Sapa lo nyuruh nyuruh gua?!"
"Gua ketua kelas dikelas ini..jadi gua berhak buat nyuruh nyuruh elo."
"Banyak oceh!" Dengan wajah memanas dan merah ia duduk disebelah Tika, ia benar-benar muak dengan Tika. Bisa bisa nya ia memfitnah dirinya telah melakukan kekerasan pada nya, dibawah kolong meja nya terdapat make up, betadine, dan kapas. Alat alat untuk mengmake-up wajahnya biar bonyok seakan akan dia ditonjok. Menjijikan..
***
"Apa maksud elo kayak gitu?!" Nadira mendatangi Tika yang sedang menunggu jemputan nya. Ia tentu saja marah karena masalah tadi siang. "Elo itu nuduh dan fitnah gue, gue gak terima!"
"Hahahahaha... Ngakak ngakak, kenapa lo gak tanya aja sama Erik? Kenapa dia tolol banget padahal cuma make up."
"Tapi elo ngehasut dia dan cerita yang aneh aneh kan kedia? Heran gua sama lo?"
"Lebih heran lagi gua, dukun kayak elo bisa deket sama Hans."
"Hah! Padahal gua itu pengen jadiin elo temen meski gak sahabatan, tapi elo malah yang jadiin diri lo sebagai musuh gua."
"Cih.. siapa juga yang pengen temenan sama lo? Gak level, atau.. anggep aja teman rasa musuh!" Ucap nya sambil pergi dari gerbang sekolah.
"CIH! Brengsek!" Baru kali ini ia mengumpat orang dan memakai kata kata kasar.. ia benar benar kesal, entah apa mau nya Tika ia masih tidak mengerti. Ia langsung pergi dan segera pulang kerumahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Make Him Love Me (cerita ini sepertinya tidak dilanjutkan kembali)
Random(8/7/2019) #1 Hypnosis (8/7/2019) #3 Tika (8/7/2019) #5 Nadira (8/7/2019) #5 Hans (10/7/2019) #29 Basket Nadira Tia Safitri gadis cantik yang mencintai cowok berhati es bernama Hans Saputra. Ia ingin menaklukkan hati Hans tapi itu tidak menjadi masa...