"Hkk!"
"Huek..."
"Apa yang terjadi padamu? Ku perhatikan, sudah dari pagi kau mual-mual begini "
Wendy setia menemani Jisoo yang muntah di toilet butik mereka. Ia mengelus tengkuk sahabatnya itu agar merasa sedikit lebih baik. Jisoo menahan beban diri pada bibir wastafel. Tubuhnya serasa begitu lemas karena sudah memuntahkan semua isi perutnya sedari pagi. Meski kini tak ada yang tersisa, namun perasaan mual itu masih ketara serasa. Penyiksaan itu kian ditambah dengan kepalanya yang kini serasa berat.
"Kim Jisoo, kau kenapa?" Wendy panik dan makin khawatir, "kau lebih baik pulang saja, aku akan mengantarmu!"
Tentu Wendy merasa panik, ia coba untuk merangkul Jisoo keluar dari sana.
"Tak apa, Wen. Aku akan pulang sendiri. Aku tadi bawa mobil." ucap Jisoo lemas.
Wendy membawanya keluar dari toilet, diamati lagi wajah pucat milik sahabatnya itu, "Tidak. Aku yang akan mengantarmu! Kau terlihat pucat sekali, aku tak ingin kau kenapa-napa."
Jisoo memberikan senyuman hangat pada sahabatnya itu, "Wen, aku tak apa-apa. Aku akan pulang sendiri, kau tetap di sini dan menjaga butik ya?" tanpa menunggu jawaban, Jisoo sudah menarik langkahnya ke arah pintu keluar, "aku pamit dulu."
Wendy mendengus untuk itu, mengapa sahabatnya ini begitu keras kepala? Namun, Jika terus berdebat, ia hanya akan menahan Jisoo lebih lama lagi di sini. Alhasil, dengan berat hati ia membiarkan wanita itu pergi.
"Kabari aku jika sudah sampai."
Jisoo tersenyum lalu mengangguk ke arah Wendy, selanjutnya ia kembali menyapu langkah ke arah pintu keluar.
Sampailah wanita itu di parkiran, ia memegang pegangan mobilnya untuk membuka. Namun kembali, rasa pusing yang menyandera tadi kian terasa lagi. Kedua tangannya menompang tubuh agar tak jatuh pada kaca mobil yang tertutup. Astaga, ada apa ini.
Jisoo berupaya mengerjapkan matanya agar tetap fokus. Namun sepertinya kepusingan ini lebih kuat menyita kekuatannya. Ia merasa kakinya sudah sedikit tak terasa, dan..
"Jisoo?" dengan sigap seseorang menahan tubuh wanita itu yang hampir tumbang.
Jisoo masih mampu menoleh ke arah seseorang yang menolongnya, "Jungkook?" pelan-pelan, ia mencoba untuk berdiri. Jungkook membantunya. Namun, kepusingan tadi sungguh mengental, kakinya tak terasa sama sekali, bahkan pandangannya kian menjadi gelap.
"Sooyaa!?!"
***
"Kau positif mengandung, unnie."
Baik Jisoo maupun Jungkook terbelalak tak menyangka untuk apa yang disampaikan dokter muda di hadapan mereka ini. Ada raut sedikit tercekam yang Jungkook rasakan, namun ia berikan senyuman hangat pada wanita yang kini masih membeku di sampingnya.
Jisoo tentu bahagia dengan kabar ini, namun senyum tipis yang ia nampakkan perlahan memudar. Apa Taehyung akan menerima anak ini? Dielusnya perut yang masih rata itu dengan lembut.
'Kau pikir, kau pantas mengandung anakku?!'
Kembali kalimat kasar Taehyung terngiang dalam benarnya. 'Apa ayahmu akan menerimamu, nak?'
Dokter muda itu tampak menarik nafas sebentar, lalu menatap orang yang sudah dianggap kakak perempuan, di depannya ini dengan raut prihatin.
"Tapi unnie.."
Ucapan Lisa yang menggantung mampu menarik perhatian Jisoo dan juga Jungkook untuk menatap ke arahnya. Gadis itu, menghela nafas berat, bagaimana ia mengatakan ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
FAIR (√)
Romance❀Sepenggal kalimat-kalimat sedehana untuk selesai membawa dendam yang begitu kental. Kesakitan, tangisan, rasa perih. Hanya itu yang manjur mengobati luka lama. Kenapa sangat sulit untuk bersatu bagi dua orang yang saling mencintai?❀ Quotes: ❝Jika...
